Pantun Toleransi di Indonesia

1

Teramat suka lihat panorama
Setelah mendaki dengan berani
Hakikat kita hidup bersama
Dalam beragamnya negeri ini

2

Tempatnya amat sangat menarik
Tiada lelah mendaki bukit
Apa beragam membuat unik?
Atau malah bikin nyelekit?

3

Bukit itu sungguh menarik
Dibangun tahun dua ribu dua
Aneka ragam memang unik
Dalam ribuan pulau yang ada

4

Memanglah bukit kesukaan saya
Dua ribu dua sudah lama
Beda asal suku budaya
Beda etnis warna agama

5

Puncak bukit ada bangunan
Simbol ibadah beda agama
Namun mengapa saling jatuhkan
Menghina mereka yang tak sama

6

Bukitnya ada di Minahasa
Tepatnya di Desa Kanohang
Merasa yang paling kuasa
Tak mau dengar pendapat orang

7

Minahasa berada di Sulawesi
Sulawesi-nya bagian Utara
Saling mendengar saling mengerti
Agar bisa rukun sejahtera

8

Bukit Kasih ia dinamakan
Simbol kerukunan beragama
Semoga kita bisa amalkan
Coba pahami yang tak sama

Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba "Indonesia Baik" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini: Yuk, Ikut Lomba Konten Baik tentang Keberagaman.

Ada yang mau membalas komentar dengan pantun?

16 comments:

  1. Bukit tinggi ada di Sumbar
    Pemandangan indah memanjakan mata
    Kasih sayang wajib disebar
    Meski kita berbeda agama


    Hehehe gitu boleh ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betullah indah Ngarai Sianok
      Serta panorama alam lainnya
      Puisi Emak sungguh elok
      Terkagum aku membacanya

      Delete
  2. Saya suka pantun nomor 5. Entah kenapa agama sekarang semakin diperuncing sebagai senjata untuk perbedaan di negara kita.

    ReplyDelete
  3. Saya sukanya pantun nomer 6 hehehe
    Agak mirip ma situasi sekarang.
    Atau saya yang baper ya...

    ReplyDelete
  4. AKu suka nomor 5, entah ya sejak kapan Indonesia jadi lebih intoleran sama yang minoritas dan susah banget nerima perbedaan yang dulu kala hidup damai berdampingan loh

    ReplyDelete
  5. Pantun nomor enam kekinian banget itu. Manusia jaman now mayoritas seperti itu sekarang. Semoga kita terhindar sih ya...

    ReplyDelete
  6. Jadi inget pelajaran SD mbak hahah saya suka nomer 1 karena relate dengan keragaman saat ini

    ReplyDelete

  7. Jalan-jalan ke istana raja
    Ada punggawa bermuka pucat pasi
    Sungguh indah pantun taruih baja
    Mengandung pesan kebaikan dan toleransi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkinkah ia belum makan
      Ataukah pucat karena sakit
      Terima kasih ibu saya ucapkan
      Meski typo agak sedikit

      he he he

      Delete
  8. Hihii kerenn ih kak kepikiran bikin pantun kek gini. Banyak yg nyari loh biasanya di google. Pasti pv nya banyak nihh

    ReplyDelete
  9. Cabe dua biji dan daun kecombrang
    Dipadukan jadi sambal pedas tiada tara
    Sungguh indah pantun yang engkau karang
    Bikin jiwa jadi tentram luar biasa

    Etdaah, jadi ikut-ikutan berpantun, tapi kok aneh. Sudah lama nian nggak bikin-bikin pantun. Bagus banget lo pantun-pantunnya, maknanya dalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sambal pedas lauk gurita
      Berjejer bersama goreng ikan
      Membaca pantun ibu Marita
      Saya pun jadi ingin makan

      Hehehe mantul kak!

      Delete
  10. Santun berbahasa mulai sekarang hingga esok
    Itulah ciri bangsa yang sungguh berharga
    Pantun taruih baraja sungguh lah elok
    Semoga toleransi di Indonesia senantiasa terjaga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berbahasa santun dan halus
      Itulah contoh tata krama
      Bu Shisca pantunnya bagus
      Mari aminkan bersama-sama

      Delete
  11. Mantab pantunnya. Ini lumayan bisa mempererat bhineka Tunggal Ika kak, bacanya adem gitu. Semoga kita selalu diberi kesehatan & berdamai dengan sesama

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)