Kontemplasi dari Webinar Covid-19 Ditpromkes Kemenkes RI Bersama Blogger

Hari Rabu tanggal 30 September lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Seminar Online Direktorat Promkes dan PM Kemenkes RI Bareng Blogger di Masa Pandemi. Sebelumnya, pas baru tahu informasi ini, saya langsung daftar tanpa berpikir panjang karena penting rasanya mengikuti webinar ini, bukan karena saya mempunyai latar pendidikan di bidang kesehatan (jadi merasa ingin menambah ilmu), tetapi karena saya juga manusia biasa yang terdampak pandemi.

Seminar Online Bareng Blogger di Masa Pandemi

Yuuk Disiplin... Covid-19 Ambyar

Ambyar, kata yang kabarnya dipopulerkan oleh alm. Didi Kempot ini ternyata ada di kbbi.kemdikbud.go.id, yang artinya adalah bercerai-berai; berpisah-pisah; tidak terkonsentrasi lagi. Dimulai dari Wuhan sana, kini Covid-19 sudah menyebar ke seluruh penjuru planet ini sehingga ditetapkan sebagai pandemi. Di Indonesia, kasus Covid-19 pertama kali ditemukan di Depok, dan sampai kini masih belum tuntas, malah menyebar ke berbagai pelosok tanah air.

2 Maret adalah tanggal diberitakannya kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Terkejut, sedih, dan bertanya-tanya apakah saya yang berada di pulau seberang boleh merasa aman dari virus yang menyerang saluran pernapasan itu. Ternyata tidak sampai sebulan kemudian, Covid-19 juga ditemukan di Sumatera Barat. 

Tidak terasa (atau mungkin justeru sangat terasa) kini sudah berbulan-bulan lamanya Covid-19 menyebar dan bertahan di dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai aturan telah ditetapkan. Kita terpaksa beradaptasi dengan keadaan. Berbagai situs update data Covid-19 pun dibikin, contohnya adalah infeksiemerging.kemkes.go.id/ dan covid.go.id/.


2 Maret 2020 s.d 2 Oktober 2020 per pukul 16.00 WIB (kurang lebih 7 bulan).
Sumber: https://infeksiemerging.kemkes.go.id/


Keberadaan postingan ini sayangnya bukanlah untuk memaparkan definisi Covid-19 menurut lembaga atau para ahli, tapi intinya kita tahu bahwa Covid-19 adalah sebuah penyakit gangguan pernafasan yang ditularkan oleh virus.

Jika melihat lebih luas, transmisi dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari segi internal (ruang lingkup individu) maupun eksternal (ruang lingkup masyarakat).

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia; beberapa wilayah juga memiliki kepadatan penduduk yang rapat; akses transportasi yang terbuka merupakan beberapa faktor yang memengaruhi transmisi Covid-19.


Faktor yang berperan dalam penyebaran Covid-19.
Sumber: Tangkapan presentasi Bunda Romi.


Pelaksanaan dan pengawasan yang tidak maksimal dalam sebuah peraturan memang bisa bikin gedeg. Tetapi kata Bunda Romi (yang dulunya saya sering lihat di acara Idola Cilik), jika pemahaman sudah terbentuk, maka faktor eksternal bisa dikesampingkan. Kalau setiap individu bergerak, bukanlah mustahil masalah dapat teratasi seperti semut yang bergotong royong mengangkat makanan.

Di antara banyak faktor transmisi Covid-19, kunci yang perlu diperhatikan oleh pribadi adalah perlindungan diri (seperti memakai masker) dan kebersihan diri (seperti membersihkan tangan yang kotor terkontaminasi virus). 

Gerakan 3M (dan ++ nya)

Maka dari itu juga timbulah Gerakan 3M:

 
 
 

Kalau kata teman kuliah saya yang kini bekerja di Puskesmas, di wilayah kerjanya itu malah 4M berdasarkan perbup di tempat ia mengabdi. M satunya lagi adalah Meningkatkan daya tahan tubuh dengan melakukan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Tetapi agak bingung juga karena CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) termasuk salah satu indikator PHBS. Terlepas dari itu, saya setuju dengan pelaksanaan PHBS ini.

Kalau dipikir-pikir, Mengonsumsi makanan bergizi (dalam indikator PHBS adalah mengonsumsi buah dan sayur) dan mencegah timbulnya penyakit lain dengan menerapkan gaya hidup sehat bisa juga menjadi faktor pencegah Covid-19. Setidaknya jika imunitas tubuh kuat, tubuh masih bisa bertahan terhadap serangan.

Saya mengerti, di situasi kritis seperti ini beberapa mungkin kehilangan pekerjaan dan terlunta-lunta dalam memenuhi kebutuhan. Boro-boro makan makanan bergizi seimbang, bisa makan saja sudah bersyukur. Mungkin itu pula yang menyebabkan para oknum di luar sana menjual masker bekas untuk mengisi dompetnya. Entahlah. Meski begitu, masker bekas kan bahaya. Oleh karenanya, masker yang dipakai (dalam hal ini ialah masker bedah) sebaiknya dihancurkan terlebih dahulu sebelum dibuang. Memotong masker bekas dan Membuang sampah pada tempatnya adalah contoh tindakan yang menyelamatkan.

Berbicara soal ketahanan tubuh, gejala yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini juga tidak terlihat bagi sebagian orang. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Seperti berita yang banyak beredar, ada orang yang tidak percaya dengan eksistensi Covid-19 ini. Maka, saya rasa M lainnya adalah Mempercayai keberadaan Covid-19. Percaya akan adanya Covid-19 ini bukanlah untuk menakuti, melainkan agar waspada dan menjaga diri.

Kadang, menjaga kesehatan diri bukanlah demi diri sendiri, namun juga demi orang terdekat.



Kemarin saya berbincang dengan seorang teman. Katanya ia sudah lelah memakai masker (tapi dia tetap memakai masker, hanya mengeluh sesaat), dan ingin Covid-19 segera berlalu (semua juga begitu). Saya sendiri walaupun senang memakai masker di jalan, tapi kadang pun merasa pengap, apalagi masker tidak cocok untuk dipakai berolahraga dan saya senang bersepeda. Namun, kalau dipikir-pikir memakai masker belum apa-apa dibanding memakai baju hazmat.

Hari ini ketika saya melihat-lihat igstory, saya melihat story seorang seorang kakak tingkat saya sewaktu kuliah, yang membagikan ceritanya baru-baru ini di Sumba Barat Daya, NTT. Beliau sedang turun ke lapangan untuk melakukan promosi kesehatan dari pintu ke pintu. Beliau melihat berbagai polemik kesehatan di sana, terutama soal gizi (karena fokus beliau ke gizi). Salah satu yang disoroti adalah permasalahan sumber air yang sulit. Terpaksa tidak mandi dan tidak mencuci berhari-hari, apalagi mau cuci tangan pakai sabun. Lalu teringat diri sendiri yang punya akses air bersih dan melimpah.



Permasalahan kesehatan bisa menjadi kompleks. Menurut konsep One Health yang pernah saya pelajari, untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat itu bukan hanya tanggungjawab profesi atau kalangan tertentu saja, melainkan adalah dari kolaborasi bersama.

Karena webinar ini adalah "bareng blogger", tentunya juga membahas bagaimana peran blogger. Peran blogger yang saya rasa juga semestinya dilakukan oleh semua netizen adalah bagaimana pentingnya literasi digital. Bagaimana blogger memberikan konten yang sesuai fakta, dan bagaimana kita semua pandai memilah informasi dan mengecek mana yang benar mana yang hoaks.

Bergabung bersama komunitas juga merupakan salah satu cara blogger untuk terus membangun diri. Beruntungnya saya bertemu dengan mpok Wawa dan uni Yani sewaktu Temu Blogger Kesehatan Bersama Kemenkes RI di Padang 2018 silam (waktu itu topiknya soal gizi dan stunting). Pertemuan itulah yang membawa saya bergabung dengan komunitas Bloggercrony (crony = sahabat). Saya pun bisa mengikuti webinar ini berdasarkan info dari Bloggercrony (salah satu narsum webinar juga adalah mpok Wawa). So, thanks for having me.

Begitulah cerita kontemplasi saya dari kegiatan webinar Rabu lalu. Jujur aja webinarnya enggak bikin ngantuk (untuk saya yang gampang merasa ngantuk kalau terpapar teori-teori). Pesertanya juga banyak bertanya sampai tidak semua dapat terjawab karena keterbatasan waktu (termasuk pertanyaan saya). Sebenarnya waktu itu juga ada siaran langsungnya di youtube, dan masih bisa ditonton rekamannya.

Apakah kamu juga punya renungan soal Covid-19?

23 comments:

  1. Banyak gerakan M yang bisa dilakukan ya kak. Salah satunya yang paling vital 3M itu, di tempatku banyak yg abai dg penggunaan masker, orang2nya udah pada masa bodoh :(
    Tp aku selalu cerewet sm keluargaku, keluar dekat, sebentar, wajib pakai masker, wajib jaga jarak, dan wajib sering cuci tangan pakai sabun.
    Semoga banyak teman2 blogger yang punya konten positiv seperti ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada banyak faktor yang bisa bikin virus itu masuk ke tubuh manusia ya ga sih kak? Makanya aku rasa ada banyak M juga wkwk. Tapi bener bgt, intinya mah melindungi diri sendiri dan 3M itu merupakan cara yang vital untuk mencegah virus masuk ke tubuh. Terima kasih udah cerewet kak heheh. Semoga keluarganya ga perlu dicereweti lagi.

      Delete
  2. Aduuuh mbaaa. Masih prihatin, terutama di kantor suami kalau beliau pas lagi jadwal masuk. Ada yang udah pakai masker, face shield, dan sarung tangan. Eh begitu ketemu dianya buka masker buat ngomong. OMG.

    Aku juga dapet cerita dari suamiku. Temen kerja ada yang positif Covid. Lalu ditracking kan siapa aja yang kena. Yang positif ini kan meeting dengan empat orang lain. Nah dari 4 orang itu, cuma satu yang negatif setelah swab test karena dia pakai masker. Wearing mask DOES SAVE our life.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja boong jadinya ya kak? Namanya juga membentuk kebiasaan baru memang tidak mudah. Tapi ga bisa terus-terusan dapat pemakluman ya kak?

      Waduh, turut prihatin. Semoga segera sembuh. Terima kasih atas ceritanya kak.

      Indeed, WEARING mask does save our life. Please remember that the mask must be a clean mask. Stay safe!

      Delete
  3. Masih banyak yang abai dengan protokol kesehatan. Kemarin lewat depan rumah orang juga ada yang sedang kumpul-kumpul tanpa pakai masker dan nggak jaga jarak. Banyak anak kecil juga. Sepertinya orang sudah nggak takut kena virus Corona.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana kasus di tempat kakak sampai-sampai orang-orang bisa abai begitu kak? Apakah zonanya sudah hijau? Atau masih kuning, oren, atau bahkan merah? Tidak pernah melihat kejadian secara langsung bisa menjadi salah satu faktor kenapa orang-orang abai ya ga sih kak?

      Delete
  4. Kalau melihat masih belum turunnya kasus dari virus itu, mungkin memang masih ada yang belum percaya ya dengan virus tersebut, jadinya kurang peduli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barangkali bisa jadi salah satu faktor ya kak: ignorance

      Delete
  5. semoga pandemi ini segera berakhir dan semuanya kembali normal ya kak, kasihan banyak dampak buruknya yang terjadi, meskipun di satu sisi ada positifnya juga bagi alam. dan mudah-mudahan pemerintah semakin giat lagi dalam menyelesaikan pandemi ini dan sebagai masyarakat mari kita ikuti semua arahan pemerintah demi kebaikan bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah pandemi memang ada sisi positif bagi alam? Langit yang terlihat lebih cerah tanpa polusi? Atau kegiatan menanam yang tiba-tiba menjadi trend, seperti halnya juga trend bersepeda? Apakah hal itu bertahan lama? Seberapa banyak efeknya kepada alam? Juga bagaimana efek masker-masker yang dibuang sembarangan. Hmmm kayaknya saya mesti baca-baca lagi. Semoga kita bisa bertahan dan diberikan perlindungan ya kak. Terima kasih insight-nya!

      Delete
  6. Bagus ya webinarnya mengajak blogger, jadi bisa dibagikan lagi ke pembaca blogger. Memang butuh kita sosialisasi seperti ini

    ReplyDelete
  7. Beneran 3M harus terus didengung-dengungkan. Apa digong-gongkan kalau perlu, karena di tempatku masih pada cuek, suka sedih aja liatnya. Kalo ditegur malah cuek bebek, duh

    ReplyDelete
  8. Secara eksternal ini yang harusnya paling ditegakkan. Karena kesadaran dari internal malah ambyar pada banyak orang. Di sini, cafe-cafe ramai. Mereka enjoy saja tanpa masker dan berkumpul-kumpul begitu. Peelu tindakan tegas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm, pendapat yang menarik kak, dan ada benarnya juga. Kalau dari internalnya tidak menerapkan, maka perlu hal yang membuat internal merasa terpaksa untuk melakukannya, yaitu faktor eksternal. Tetapi kalau yang internal sudah sadar, barangkali faktor eksternal bisa dikesampingkan. Masalahnya terletak pada pembetukan kesadaran kali ya kak?

      Dahulu, ada anak-anak yang mesti dipaksa dulu atau diajak dulu untuk gosok gigi. Kalau ga dipaksa atau diajak, anak-anak itu gak mau menggosok giginya. Lama kelamaan, anak-anak tersebut tumbuh menjadi orang yang sadar kalau gosok gigi itu penting. Analogi ini masuk ga kak?

      Delete
  9. sekarang kita harus semakin displin ya kak, pandemi ini benar2 nyata orang sekitar saya (teman-teman) sudah banyak yg jadi korbannya. Alhamdulillah mereka bisa survive, terima kasih penginggatnya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah membagikan sedikit cerita dari daerah kakak. Sehat-sehat terus ya kak.

      Delete
  10. Aku sampai hari ini tetap di rumah dari Maret lalu. Klo keluar pun itu memang ada kepentingan, seperti belanja kebutuhan pokok, atau urus STNK, dll. Untuk rekreasi dan makan di luar enggak dlu deh pokoknya heheheee... Bukan masalah takut atau terlalu parno, cuma berusaha mematuhi agar gak semakin banyak yg terkena virus ini, terutama keluarga terdekat.
    Makasih tulisannya, Mbak Nadella, sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kak Hastin termasuk yang disiplin ya? Patut ditiru lho.

      Delete
  11. Mestinya sih makin ke sini orang makin disiplin ya. Mestinya lho. Tapi realitanya nggak juga.

    Ada banyak yang keluar berkerumun bawa anak, nongkrong gak jelas tanpa apd dan mengindahkan segala protokol kesehatan yang ada.

    ReplyDelete
  12. Orang yang sulit dibilangin supaya sukarela pakai masker itu memang bandelnya dr faktor internal ya Mbak, moral virtue. Kayak oknum di tempatku ada juga gitu, ke mana2 gak mau pake masker, ktnya Covid-19 hanya rekayasa, sedih deh kl udah gitu... apa gak lihat ya banyak nakes/dokter yg memang meninggal dunia karena terinfeksi, hikss

    ReplyDelete
  13. Sekarang agak was was juga keluar untuk tetap kerja kak. Soalnya ada yang sangat jaga segalanya kena juga. Sudah takdir mungkin ya. Kalau yang jaga jarak, pakai masker aja bisa kena. Llau kenapa masih berani ngeyel gak pakai masker ya

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)