Hubungan Tinggi Badan dengan Kecerdasan

22 Maret yang lalu saya mengikuti Temu Blogger Kesehatan Sumatera Barat yang diadakan oleh Kemenkes RI. Temanya adalah #PanganSehatGiziBaik. Alhasil, materinya tidak jauh dengan topik "Gizi". Jika dikerucutkan, salah satu pokok bahasannya ialah tentang Gizi Buruk dan Stunting. Maka kali ini, saya akan berbagi pelajaran yang saya dapatkan.

Stunting. Apa itu stunting? Umumnya, stunting dikenal dengan "anak pendek." Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan stunting?


Stunting
Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Karena kronis, maka masalah gizi yang ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama untuk menimbulkan dampak. 

"Apakah semua anak pendek itu stunting?" Belum tentu, semua ada standar dan ada cara pengukurannya. Baca: Cara Mengukur Anak Stunting.

Apa dampak masalah gizi ibu hamil dan balita?

Pada ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis) akan berisiko melahirkan bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Bayi dengan berat badan rendah itu berisiko memiliki daya tahan tubuh yang rendah, sehingga akan rentan penyakit.

Begini kondisi konsumsi makanan bumil dan balita tahun 2016-2017. Sumber: Presentasi Ir. Doddy  Izwardy, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI

Dalam jangka pendek, kekurangan gizi menyebabkan gangguan kecerdasan dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh, serta gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang, kekurangan gizi menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual, gangguan struktur dan fungsi saraf dan sinaps. Wah, agak ribet ya bahasanya? 

Intinya, selain berdampak pada ukuran tinggi anak, kekurangan gizi pada anak pendek (stunting) bahkan bisa menyebabkan susahnya otak menyerap pelajaran di usia sekolah. Selain itu juga menimbulkan gangguan metabolisme dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus, hipertensi, jantung kroner, dan stroke. 


Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013: Balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta, atau 15 persen kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta Disability Adjusted Life Years (DALYs) yaitu hilangnya masa hidup sehat setiap tahun.

"Apakah tidak ada harapan pada bayi yang sudah terlanjur lahir dengan BBLR?"
Jangan putus asa duluan. Teruslah upayakan memberi gizi yang baik untuk si bayi. Faktanya, ada loh, bayi yang lahir dengan BBLR, namun akhirnya bisa tumbuh dengan baik. Kata siapa? Kata dosen matkul Gizi saya, dr. Zulkarnain Agus, MPH, MSc, SPGK pada suatu hari.

Hal yang perlu diperhatikan adalah: atasi secepat mungkin, jangan sampai terlambat. Perhatikan betul gizi bayi, terutama pada "usia emas" atau "golden age". Kenapa? Karena berita buruknya, jika hal ini diabaikan, dampak yang dihasilkan nantinya bersifat permanen.


Golden age ini dihitung semenjak bayi dalam kandungan. Masa-masa ini sangat penting untuk tumbuh kembang bayi karena pada masa inilah pertumbuhan sel otak berkembang pesat. Pada masa ini, kemampuan otak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Oleh karena itu, sangat perlu mencukupi ibu (ibu hamil dan menyusui) dan anak dengan baik.

Apa yang menyebabkan stunting?


Faktor penyebab masalah stunting di Indonesia. Sumber gambar: presentasi Ir. Doddy Izwardy, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI
Sebetulnya penyebab masalah stunting cukup kompleks. Mulai dari pemberian ASI yang tidak cukup, pemberian MPASI yang tidak cukup, ketersediaan pangan dan gizi, pola asuh yang kurang tepat, hingga faktor lingkungan dan sanitasi.

Dari ruang lingkup yang lebih luas, permasalahan gizi juga disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, pemberdayaan perempuan, akses pangan, informasi, dan pelayanan kesehatan, serta degradasi lingkungan.

Tinggi Badan (TB) anak juga mestinya diperhatikan. 
Pada umumnya kita memperhatikan berat badan (BB) saja. Namun tinggi badan (TB) juga tidak bisa diabaikan. Karena BB dan TB dapat berkaitan saat melakukan pengukuran gizi. Juga karena BB dan TB saling berhubungan membentuk fisik yang baik.

"Bagaimana dengan anak pendek tapi tetap bisa juara kelas?" Hm, gak ada yang bilang kalau anak pendek gak bisa juara. Hanya saja, untuk penyerapan materi ke otaknya menjadi lebih lambat, gitu. Tapi, gak seratus persen sih yang begitu, hanya saja dominan.

Guru Besar Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat UI, Endang L. Achmadi dalam Nutritalk yang bertajuk 1.000 Hari yang Menentukan Masa Depan Bangsa pun pernah berkata, "Orang yang bertubuh pendek tapi cerdas sering dijadikan alasan (supaya tidak perlu merisaukan tinggi badan), padahal itu hanya pengecualian yang jumlahnya sedikit. Rata-rata anak stunting atau pendek perkembangan otaknya tidak optimal."
(https://lifestyle.kompas.com/read/2014/09/02/115243123/Tubuh.Pendek.Bisa.Cerdas.Kenapa.Harus.Tinggi.).

Apa peran pemerintah untuk mencegah stunting dan gizi buruk?

  1. Menyediakan dan meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi.
  2. Menyediakan dan meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.
  3. Menyediakan sarana dan prasarana air bersih serta sanitasi untuk masyarakat.
  4. Memfasilitasi operasional posyandu.
  5. Sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat terkait kesehatan dan gizi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (masa usia emas/golden age).
Peran pemerintah saja tidak pernah cukup untuk menangani masalah ini dan mencapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Peran yang paling penting ada di tangan masyarakat itu sendiri.

Apa peran masyarakat untuk mencegah stunting dan gizi buruk?

  1. Mendukung ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan sehat dan seimbang dalam jumlah yang cukup.
  2. Membantu ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan kepada fasilitas pelayanan kesehatan.
  3. Mengingatkan ibu hamil untuk minum TTD (Tablet Tambah Darah) secara teratur setiap hari.
  4. Membantu ibu hamil untuk melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan.
  5. Mendukung pelaksanaan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan pemberian ASI ekslusif 6 bulan.
  6. Berperan aktif dalam pelaksanaan posyandu dan mengajak ibu hamil, ibu dan anak balita untuk datang.
  7. Membantu tenaga kesehatan dalam mendampingi ibu hamil atau penanganan balita gizi kurang.
  8. Ikut mempromosikan dan melaksanakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya.
Yuk kita sama-sama mewujudkan Indonesia sehat. Indonesia yang sehat menciptakan Indonesia yang lebih berdaya. 

Oh iya, baca juga: Cara Mengukur Stunting jika belum tahu. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Klik untuk melihat foto Temu Blogger Kesehatan:
#PanganSehatGiziBaik #SehatDiawaliDariSaya #DukungGERMAS

8 comments:

  1. Wah..bermanfaat sekal ilmunya, penting untuk diketahui oleh ibu, calon ibu, bahkan calon orang tua. Agar resiko stunting pada anak dapat dicegah. Sehingga generasi muda Indonesia sehat dan cerdas. Terima kasih mbak, sudah berbagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat sekali mba :) Terima kasih udah singgah dan meninggalkan komentar yang baik :)

      Delete
  2. Mulanya agak shok sama judul, apakah saya yg terbilang pendek termasuk bodoh rupanya beda versi toh 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada ukurannya mba. Hehe. Tenang... tenang...

      Delete
  3. Bodoh atau pintar selain karena faktor gizi juga karena faktor Gen,lingkungan dll.

    Ingin pintar makanya belajar..hahahah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Kang. Karena faktor pribadinya sendiri juga, apakah dia rajin belajar atau enggak. Wah, terima kasih udah menambahkan ya.

      Delete
  4. Harus benar-benar dijaga asupan gizi berimbang anak-anak sejak lahir..

    ReplyDelete