Bagaimana Rasanya Tinggal di Payakumbuh?

Pada suatu hari, saya iseng mengetikkan kata kunci "Payakumbuh" di Quora Indonesia. Lalu, keluar pertanyaan seperti: Apa yang kamu ketahui tentang kota Payakumbuh di Sumatera Barat? Apa yang terlintas saat mendengar kota Payakumbuh? Bagaimana rasanya tinggal di Payakumbuh?

Peta Payakumbuh, tangkapan layar Google Maps, Mei 2022

Sebagai warga Payakumbuh, saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait Payakumbuh tersebut (dengan artikel curhatan ini). Jawaban itu akan saya jabarkan dalam 5 hal terkait Payakumbuh dari sudut pandang saya:

Suhu Payakumbuh

"Mana yang lebih enak tinggal di Padang atau Payakumbuh, Del?" tanya seorang teman pada suatu hari, membandingkan dua kota yang pernah saya tempati dalam waktu yang cukup lama.

Saya menjawab mantap, "Payakumbuh."

"Karena di sini ada keluarga ya?" sambungnya.

Nggak salah sih. Tinggal di kota yang juga ditempati keluarga itu bisa memberikan perasaan nyaman ketimbang tinggal sendirian, meskipun di perantauan ada teman-teman yang rasanya pun sudah seperti keluarga.

Namun, alasan utama saya menyukai Payakumbuh adalah suhunya yang pas bagi saya. Tidak terlalu panas sehingga bergantung dengan alat pendingin ruangan, juga tidak terlalu dingin sampai perlu pemanas ruangan atau memakai baju hangat ke mana-mana.

Meskipun pada beberapa waktu ada kalanya hawa Payakumbuh terasa begitu gerah, dan kadang sebaliknya, sangat dingin.

Walaupun, suhu ideal yang bisa diterima oleh setiap orang bisa saja berbeda-beda. Kalau dari cerita orang-orang, penerimaan suhu lingkungan bagi orang yang terbiasa tinggal di negara beriklim tropis akan berbeda dengan penerimaan suhu lingkungan bagi orang yang terbiasa tinggal di negara beriklim sub tropis. Begitu juga penerimaan suhu lingkungan bagi orang gemuk akan berbeda dengan penerimaan suhu lingkungan bagi orang kurus atau kurang lemak.

Tapi bagi saya (dan teman-teman) yang telah cukup lama tinggal di Padang, tetap saja belum terbiasa dengan suhu kota Padang yang membakar pada kebanyakan waktu. Dikit-dikit sudah bikin keringatan.

Tempat Wisata dan Olahraga Payakumbuh

Di kawasan Ngalau, ada goa dengan stalagtit dan stalagmit. Di dalamnya terdapat beberapa batu yang diberi nama, seperti Batu Kursi, Batu Payung, dan Batu Gong.

Tak jauh dari goa tersebut, ada puncak Marajo, tempat kita bisa melihat panorama dari atas. Hanya butuh sekitar 15 menit untuk menuju ke puncak Marajo dari lapangan Medan Bapaneh yang terletak di bagian bawah, tempat kita bisa parkir kendaraan. Ke puncak Marajo, kita tinggal memilih jalur kiri yang langsung menaiki anak tangga, atau jalur kanan yang lebih landai dengan jalanan aspal ke Rest Area lalu menaiki sedikit anak tangga ke puncak Marajo.

Setiap akhir pekan, biasanya ada banyak orang yang jualan aneka macam street foot di lapangan Medan Bapaneh. Terdapat juga sewa mobil mainan dan kendaraan kecil untuk anak-anak. Orang dewasa bisa senam di sini.

Saya dan teman-teman lebih memilih mengeluarkan keringat dengan naik ke puncak Marajo sambil menikmati sejuknya udara dan indahnya pemandangan saat matahari terbit di sela-sela awan dan gunung.

Selain itu, ada juga kawasan Ampangan sebagai tempat melihat lanskap kota dari ketinggian; jembatan Ratapan Ibu yang dibangun pada masa penjajahan dan menjadi saksi bisu kekejaman Belanda terhadap tentara dan para pemuda Indonesia pada zaman dulu; masjid tuo di Koto Nan Ampek; dan lain sebagainya.

Ohya, ada Taman Batang Agam, Payakumbuh Bugar, dan tentunya GOR M.Yamin sebagai tempat olahraga seperti jogging, bersepeda, futsal, public gym, dan lain sebagainya. Beberapa tempat lain seperti lapangan sepakbola dan futsal juga tersedia di kawasan lainnya.

Lain dari itu, Payakumbuh mempunyai area hijau seperti taman kota, dan juga area persawahan di bagian pinggiran. Beberapa kafe juga ada yang menawarkan suasana makan dengan pemandangan sawah beserta bukit barisan ataupun dengan beberapa pemandangan gunung yang tampak berwarna biru dari kejauhan.

Semuanya bisa diakses dalam waktu yang singkat, karena wilayahnya tidak terlalu luas, yakni 80,43 km2 (perkotaan.bpiw.pu.go.id/n/kota-otonom/84, diakses 5 Mei 2022). Jadi dari ujung ke ujung Payakumbuh pun tidak memakan waktu yang lama.

Lumayan lah sebagai tempat healing melihat indahnya alam, maupun tempat buang keringat untuk melepas stres.

Kuliner Payakumbuh

Payakumbuh mempunyai julukan Kota Batiah, Kota Galamai, dan Kota Randang. Batiah merupakan jajanan yang terbuat dari beras ketan putih, mirip rengginang. Galamai merupakan jajanan mirip dodol yang dibuat dari ketan, santan, dan gula merah. Sementara Randang alias Rendang, sudah pada tahu lah ya?

Selain rendang daging, Payakumbuh terkenal dengan rendang talua (rendang telur yang krispi). Jenis rendang lain yang tersedia adalah rendang daun kayu dengan ikan atau belut. Juga ada rendang ayam.

Kuliner lainnya yang bisa ditemukan di Payakumbuh sama seperti kuliner Minangkabau pada umumnya. Beberapa di antaranya ada sate (salah satu tempat beli sate favorit di Payakumbuh adalah Sate Man); es tebak yaitu minuman es campur yang terdiri dari cendol, cincau hitam, dan komponen lainnya, ditambah es serut yang menyegarkan (salah satu tempat beli es tebak favorit di Payakumbuh adalah Es Tebak Pak Bahar); martabak Kubang atau disebut juga sebagai martabak Mesir, yaitu semacam martabak telur tapi pakai daging dengan bumbu kari yang kemudian disiram dengan kuah asam pedas (salah satu tempat favorit makan martabak ini adalah martabak H.Wan).

Ohya, untuk jajanan atau penganan lain yang biasa dijadikan oleh-oleh, ada bareh randang yaitu tepung beras yang disangrai yang kemudian dituangkan larutan gula dan terbentuklah seperti kue beras tanpa oven.

Tentu saja juga termasuk aneka macam kerupuk seperti karak kaliang (kerupuk ubi berwarna kuning yang dibentuk seperti angka 8); sanjai (kerupuk ubi yang dipotong tipis dan biasanya dibalur bumbu balado lengket); roda gandiang (kerupuk ubi parut yang kemudian dibentuk seperti bola); dan lain sebagainya.

Setiap petang menjelang malam, seiring dengan tutupnya pertokoan di kawasan pasar Payakumbuh, gerobak-gerobak kuliner mulai membuka tenda di depan toko-toko tersebut, mendagangkan miso, martabak kubang, sate, dan lain sebagainya.

Payakumbuh itu surga kuliner, kalau bagi saya. Ya, ini agak subjektif sih, mengingat lidah saya yang lumayan terbiasa dengan penganan khas Minangkabau —meski toleransi pedas saya nggak sesuai stereotipe orang Minang kebanyakan, dan saya nggak terlalu suka makanan/minuman yang terlalu manis.

Aksesibilitas / Transportasi di Payakumbuh

Sepuluh tahun yang lalu dari 2022 ini, kita masih bisa mendapatkan oto sago (angkot-nya Payakumbuh) di jalanan, di depan sekolah pada waktu-waktu pulang sekolah, serta di titik-titik tertentu. Angkutan kota berwarna biru tua ini sudah jarang ditemukan pada saat ini. Jaraaanggg banget!

Selain oto sago, ada juga kendaraan tradisional yaitu bendi, kereta kuda. Dibandingkan dengan oto sago, bendi masih lumayan eksis di Payakumbuh meskipun sepertinya jalur kendaraan ini agak terbatas. Biasanya kusir bendi akan mengantarkan penumpang dengan rute Pasa Jauah (pasar pusat kota) ke Pasa Ibuah (Pasar Ibuh) atau Labuah Basilang dan sekitarnya, atau sebaliknya. Kalau di luar jalur itu, bisa bayar lebih atau sewa satu bendi. Ini karena tak banyak penumpang yang punya tujuan ke luar titik tersebut.

Selain untuk transportasi publik, bendi juga masih berfungsi untuk arak-arakan perkawinan hingga saat ini (meskipun tidak semua persta pernikahan saat ini menggunakan arak-arakan bendi).

Warga Payakumbuh biasanya menggunakan kendaraan pribadi, ojek, ataupun ojek online untuk membawanya dari satu titik ke titik lain di kota Payakumbuh (dan sekitarnya).

Topografi jalan yang lumayan rata terutama di kawasan pusat kota membuat kita lumayan senang dalam mengendarai sepeda, meskipun sayangnya belum ada jalur khusus sepeda.

Kalau mau ke luar kota maupun luar provinsi, biasanya akan ada mini bus yang ngetem di Ngalau. Atau, kita bisa langsung naik di PO Travel yang ada di Payakumbuh, seperti Ayah, TPA, dan lain sebagainya.

Karena Payakumbuh tidak berada di tepi laut, Payakumbuh tidak memiliki pelabuhan. Payakumbuh juga tidak memiliki bandara. Jarak Payakumbuh ke pelabuhan dan bandara terdekat adalah 3-4 jam.

Kereta api juga sudah tidak beroperasi lagi. Dulunya nenek saya sering bolak-balik Payakumbuh-Bukittinggi dengan kereta api. Stasiunnya bahkan sudah dirombak menjadi kafe.

Padahal tahun 2015 lalu saya pernah baca sebuah artikel tentang wacana pengaktifan KA Padang Panjang - Bukittiggi - Payakumbuh - Pekanbaru pada tahun 2020. Sekarang aja sudah tahun 2022, ternyata masih tinggal wacana.

Link di atas sudah tidak  bisa diakses lagi. Namun masih ada sisa-sisa tulisan terkait wacana pengaktifan kereta api trans Sumatera itu di laman debhub.go.id ini: dephub.go.id/post/read/perlu-rehabilitasi-jalur-ka-dari-padang-panjang---payakumbuh yang terbit tanggal 16 April 2015 lalu.

Wacana pembangunan kereta api trans Sumatera
Wacana pembangunan kereta api trans Sumatera, tangkapan layar debhub.go.id, Mei 2022

Sebagai warga biasa, saya sih berharap Sumatera punya jalur kereta api dari ujung ke ujung. Tapi barangkali masih terkendala dalam urusan pembebasan lahan. Yah, rumit juga ya.

Fasilitas lainnya di Payakumbuh: Penginapan, Pusat Perbelanjaan, Bioskop.

Ada lumayan banyak hotel dan penginapan di Payakumbuh, seperti hotel Bundo Kanduang, hotel Bambu, hotel Kolivera, hotel Mangkuto, dan lain sebagainya, tersebar di berbagai titik.

Kalau mau belanja, kita bisa datang ke Pasa Jauah dan Pasa Ibuah. Soal belanja buku, baju, barang elektronik, peralatan lainnya, biasanya di Pasa Jauah di pusat kota. Sementara kalau belanja bahan masakan, bunga, biasanya di Pasa Ibuah. Meskipun tidak harus seperti itu juga.

Jarak Pasa Jauah dan Pasa Ibuah juga nggak jauh. Kurang lebih 10 menit berjalan kaki.

Seperti daerah di Sumatera Barat lainnya, Alfamart dan Indomaret juga tidak beroperasi di Payakumbuh. Sebagai gantinya, ada swalayan lain seperti Budiman, Nella Mart, dan lain sebagainya.

Kalau belanja kebutuhan rumah tangga, ada 50K Houseware, Tiffany House, serta beberapa toko lainnya.

Mal-mal gede kayaknya nggak begitu laku di Payakumbuh.

Dulu ada sebuah plaza di pusat kota. Sekarang tinggal lantai 1 saja yang beroperasi itu pun masih terbilang sepi karena kebanyakan toko pun tutup tiada penyewa. Saat saya menuliskan ini pada Mei 2022, kalau tidak salah, yang meramaikan Plaza tersebut hanyalah Mr.DIY, Bank BRI, serta Zone 2000 yang turun ke lantai 1.

Dulunya plaza ini penuh hingga lantai atas. Dulu ada Ramayana di sini, hingga gedung ini pun disebut "Ramayana" oleh masyarakat, namun sekarang sudah tak ada lagi.

Gramedia juga. Tak ada gedung Gramedia di Payakumbuh. Dulunya sempat ditempatkan di plaza tersebut. Namun sekarang sudah tak ada lagi.

Waktu orang tua saya masih muda dulu, juga ada bioskop di Payakumbuh. Namanya bioskop Karya. Sekarang sudah tak beroperasi lagi. Tak ada lagi bioskop di Payakumbuh sekarang ini. Tahun 2020 dulu ada wacana bioskop XXI. Yak, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya.

Yasudah, streaming aja lah dulu buat nonton, meski perlu bersabar dan nggak bisa FOMO terhadap film baru. Setidaknya Payakumbuh sudah dapat akses internet.

Sekian beberapa curhatan dari saya mengenai bagaimana rasanya tinggal di Payakumbuh per hari ini (suatu hari di bulan Mei 2022).

Adakah pembaca di sini yang pernah ke Payakumbuh? Atau mungkin justru baru pertama kali mendengar kata Payakumbuh?

*

Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Ramadan Blog Challenge oleh Blogger Perempuan, dengan tema hari ke-16: Curhat Hari Ini

Blogger Perempuan

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)

About

Taruih Baraja merupakan sebuah personal blog yang membahas beragam topik kesukaan Penulis, seperti Kesehatan, Teknologi, Home Living, dan lain sebagainya [...] Read More

Contact

taruihbaraja@gmail.com
@taruihbaraja
@taruihbaraja

Made with ❤ Taruih Baraja