Nastar Gulung Vs Nastar Bulat

Dulu, saya sering membantu usaha tante membuat kue. Kue yang sering saya bantu membuatnya adalah kue nastar, karena ini yang paling banyak dipesan. Saya bertugas mencetak kue. Karena bukan saya yang membuat adonan (dan terus terang saja sampai saat artikel ini dibuat, saya sendiri belum pernah membuat adonan nastar), jadi mohon maaf, saya belum bisa mencantumkan bahan-bahan adonan kue nastar itu pada postingan ini. Bukan karena rahasia banget juga, tak ada yang tante saya sembunyikan. Beliau mengaduk adonan di depan saya. Beliau juga memasak selai nanas secara terang-terangan di dekat saya. Pada tulisan ini, saya akan membandingkan jenis kue nastar yang pernah saya cetak, yaitu: nastar gulung dan nastar bulat. Saya akan coba membedakan dari cara mencetaknya.

Kue nastar, kue favorit

Nastar Gulung

  1. Cetak adonan dengan cetakan yang ada. Cetakan ini berfungsi memberikan garis-garis alur pada adonan. (Saya menggunakan cetakan semprit, dan saya menyempritkan adonan di atas loyang, bagian beralur berada di bawah, dan terbentuklah adonan tipis dan panjang, lalu potong-potong sesuai keinginan);
  2. Berikan selai nanas di ujung adonan yang sudah dicetak dan dipotong itu;
  3. Gulung dari bagian yang berselai;
  4. Olesi dengan kuning telur (Mungkin boleh diskip);
  5. Siap untuk dipanggang.

Nastar Bulat

  1. Bulatkan adonan sebesar yang diinginkan, tapi disarankan untuk membulatkan sebesar gundu;
  2. Beri lubang atau pipihkan sedikit untuk memasukkan selai nanas;
  3. Sembunyikan selai nanas di dalam adonan seperti klepon menyembunyikan gula merah;
  4. Olesi dengan kuning telur (Mungkin boleh diskip);
  5. Siap untuk dipanggang.

Bagi saya, mencetak nastar gulung lebih menghemat waktu dibandingkan dengan nastar bulat. Saya tidak tahu apakah ada formula adonan nastar yang tidak selembek adonan yang pernah saya cetak itu. Adonan lembek itu lah yang menyulitkan saya membentuk bulatan, karena adonannya akan lengket di tangan apalagi jika terdapat kebocoran selai nanas pada nastar yang sudah dibulatkan itu sehingga adonan bercampur dengan selai. Sementara menggulung nastar dapat dilakukan dengan sekejap. Terkadang ujung jari yang menggulung juga jadi lengket karena bisa bersentuhan dengan selai, namun tidak seribet nastar bulat. Yang satu membuat lengket telapak tangan, sementara yang satu lagi ujung jari (biasanya saya menggunakan jempol dan telunjuk).

Sebenarnya bisa saja dimodifikasi sedikit-sedikit sesuai selera. Memakai margarin atau mentega. Memakai cengkeh atau tidak. Menambahkan keju atau tidak. Membuat adonan yang lebih banyak tepung sehingga tidak begitu lembek, mungkin?

Ada yang mencetaknya dengan berbagai wujud dan kreatifitas seperti daun, bunga, jagung, hingga ketupat. Nastar gulung pun tidak harus beralur garis-garis itu pula. Kita bisa pakai rolling pin kalau mau, terus dipotong-potong.

Tapi dari modifikasi-modifikasi yang bisa dilakukan, saya punya pertanyaan: jika selainya diganti, apakah Pembaca tetap menyebutnya Nastar?

*

Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Ramadan Blog Challenge oleh Blogger Perempuan, dengan tema hari ke-27: Kue Lebaran Favorit dan Resepnya

Blogger Perempuan

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)

About

Taruih Baraja merupakan sebuah personal blog yang membahas beragam topik kesukaan Penulis, seperti Kesehatan, Teknologi, Home Living, dan lain sebagainya [...] Read More

Contact

taruihbaraja@gmail.com
@taruihbaraja
@taruihbaraja

Made with ❤ Taruih Baraja