Jejak Digital dan Persona Manusia

Ada masa ketika saya membaca kembali ribuan kalimat dalam tulisan, melihat sekian foto, mendengar rekaman audio, memutar beberapa video yang pernah saya publikasikan di dunia maya. Kemudian membuangnya ke dalam kotak sampah. Membiarkannya hilang, entah ke mana.

Sejujurnya saya juga bingung dengan sifat ini. Saya menerapkan metode konmari di sosial media yang saya punya. Bayangkan saja. Saya rela menggunakan sekian waktu demi nostalgia singkat pada postingan lama untuk melakukan... koreksi? evaluasi? Intinya memuaskan diri sendiri.

Di facebook, twitter, instagram, ask.fm, blog, soundcloud, tumblr, wattpad, storial, youtube, dsb... Saya memangkas jumlah postingan karena menurut saya postingan itu kurang dewasa dan/ atau tidak berfaedah. Ya semacam "tweet ke 100". Hahaha. Entah mengapa. Bahkan saya sudah menghapus akun tumblr (alasannya sih karena lebih fokus di Blogger).

Tapi, saya rasa itulah manusia. Setiap insan memiliki sifat baik dan buruk di dalam hati, dan tergantung mana yang ia tampakkan. Manusia dengan kepribadiannya; manusia dengan personanya; manusia dengan topengnya.

Tapi, juga begitulah manusia. Manusia dan hidup yang seperti sungai; mengalir; terus berjalan. Kadang menyusuri tebing yang deras, kadang alirannya menyempit, ada-ada saja yang ditemui di perjalanan. Perjalanan hidup dan lingkungan banyak memengaruhi. Manusia bisa berubah.

Asik, kok jadi filosofis gitu ya.

Ngomong-ngomong soal berubah, kadang saya tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadap saya, namun kadang saya merasa ingin memberikan penjelasan dan menjadi peduli terhadap itu.

Jejak digital

Jadi seperti itulah. Baru-baru ini saya terlibat dalam sebuah diskusi dengan bahasan: Jejak Digital.

Disclaimer dulu: terlepas dari yang namanya jejak digital ini, saya memang suka menghapus postingan yang bikin malu diri sendiri, jadi lebih fokus ke diri sendiri daripada orang lain yang membaca postingan saya. Haha, memangnya perlukah saya memberikan justifikasi? Yasudahlah, biar tiada prasangka :p

Saya akhirnya mengerti, bahwa jejak digital itu bersifat permanen(*). Jejak digital itu pun merangkum setiap aktivitas di dunia maya, bukan hanya yang kita publikasi, tetapi juga apa yang kita cari (seperti yang suka dituliskan di laman privasi ya).

Pernah saya dengan tidak sengaja menghapus sebuah postingan yang tidak ingin saya hapus (karena ada kontrak backlink :p). Untungnya di dunia maya ini ada Wayback Machine. Yee saya bisa menjelajah dengan mesin waktu untuk "menjemput" artikel itu lagi.

(*) Tidak sepermanen tu sih. Mengingat tidak ada yang abadi di dunia ini #eya. Jejak digital bisa dihapus dengan menghapus data di internet, seperti menghapus akun, dsb. Maaf, saya tidak akan menyampaikan secara detail di sini.

Sebetulnya inti yang ingin saya sampaikan di postingan ini adalah tentang persona manusia itu.

Saya takut kalau sewaktu-waktu kesadaran dan kewarasan saya menjadi tak terkontrol, dan tidak berpikir sebelum mengambil tindakan: meng-klik "unggah".

Persona apa yang nanti saya pakai ketika lingkungan saya berubah, dan bagaimana para saksi menerjemahkan tindakan saya.

Semudah apa orang-orang bisa menerjemahkan? Para saksi, tak dapat menyelami isi hati.

Sejauh mana masa lalu dapat dijadikan penilaian? Padahal manusia bisa berubah.

Kemudian saya jadi penasaran, bagaimanakah orang-orang menjaga jejak digitalnya. Hm, apakah orang-orang berhati-hati dalam mengambil langkah atau... bagaimana denganmu?

22 comments:

  1. Benar mba. Kl kita posting ada jejaknya. Biasanya fb suka menaysngksn kembali yg pernah kita posting. Jd memang hrs hati2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, mungkin itu salah satu fungsi "rekam jejak"? Hm

      Delete
  2. kalau saya sih kalau memang ada postingan yang melanggar syariat (waktu dulu belum hijrah) pasti saya hapus, hehe. Enggak mau jadi dosa jariyah juga. Sekarang menuju lebih baik maka baiknya posting yang bermanfaat aja dan menyejukkan hati. Tapi ya emang tergantung pribadi orang lagi sukanya seperti apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga sekarang dan ke depan menjadi pahala jariyah ya Mbak

      Delete
  3. Kalo aku yang penting sih gak pernah nyinggung hal-hal yang berbau sensitif yah mbak yang bisa menimbulkan perpecahan ato fitnah. Dan mikir lagi apapun yang kita posting pasti akan ada efeknya buat 1 atau 2 orang yang liat. Jadi sebisa mungkin bisa bermanfaat sih mudah-mudahan hehe

    ReplyDelete
  4. Wah aku juga jadi kepikiran konmari medsos yang aku punya. Karena aku pengen anakku ngenal aku yang baik2.

    ReplyDelete
  5. Kalau akau sedang mencoba lebih bijak dalam meninggalkan jejak digital di dunia maya. Kalau ingin mencurahkan isi hati yang mungkin bisa menimbulkan pro kintra untuk diri sendiri atau irabg lain bisa di private postingannya.

    ReplyDelete
  6. Posting d medsos yg keren2 aja spt hasil karya, spt hasil makeup n itu juga gak smua sih.

    ReplyDelete
  7. Kadang saya pun begitu... itulah kenapa saya tidak pernah melewatkan sesi kenangan yang dikirim Om Mark di FB, lumayan buat ceki-ceki foto & status... after that, tinggal klik hapus atau malah bagikan, hehehe...

    ReplyDelete
  8. Klo sya sendiri ga pernah hapus jejak masa lalu atau postingan apa krena emang nggak ada yg sensitif atau gmn mbak. Have fun semua

    ReplyDelete
  9. Menurut saya bermedsos itu harus bertujuan. Pastikan dulu mau bermedsos sebagai apa dan isi medsos itu dengan tujuan kita.
    InshaaAlloh mengurangi hal2 yang unfaedah.

    ReplyDelete
  10. Saya berusaha selektif mengunggah setiap postingan di medsos terutama di fb dan instagram. Kalo di blog, InsyaAllah lebih terjamin. Selain menjaga kualitas, saya juga percaya semua akan diminta pertanggungjawabnya kelak, termasuk komentar kita terhadap postingan orla.

    ReplyDelete
  11. Saya jarang posting curcol2 gitu paling yg berkaitan dgn kerjaan. Posting keluarga pun jarang sesekali sih...sy pikir kluarga privacy...😊😊😊

    ReplyDelete
  12. Rupanya Mbak cukup aktif di belantara internet, ya. Jejak digitalnya banyak.
    Nah, Facebook nih yg sering ngingetin tentang jejak digital tahun-tahun sebelumnya. Saya lumayan sering membagikannya ulang. Tapi pernah juga saya biarkan saja karena kata-katanya 'aneh'. Pikir saya: saya ternyata pernah seculun itu, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau dari mana saya aktif dan punya banyak jejak digital Mbak? :/

      Delete
  13. FB nih yang paling sering suka nampilin foto aneh2. Bukan kitanya sih. Tapi biasanya temen yang kita ada ditag jugam akhirnya foto masa lalu terkuak. Pernah juga, temen share foto lama nggak pake kerudung. Emang dulu belum pake kerudung. Tapi yaaaa mbok ya nggak usah dishare. Kzl

    ReplyDelete
  14. Jejak digital itu emang kadang bikin was was ya mba, takutnya kita gak sengaja atau terbawa emosi untuk mengklik sesuatu yang akan kita sesali nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya mbak. Klak klik juga jejak digital kan ya :))

      Delete
  15. saya baru beberapa waktu lalu baca-baca soal metode konmari, tapi pemahaman saya baru sebatas memanajemen diri terhadap barang2 yang ada dirumah, ternyata bisa juga diterapkan di sosial media ya. Makasih gambarannya mba, saya jadi taruih baraja supaya apa yang saya posting disosmed bisa menjadi amal jariyah, bukan dosa jariyah. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk. Itu mah bisa bisa saja aja Mbak. Bisa atau enggaknya untuk diterapkan di medsos? Mungkin bisa bisa aja kali ya Mbak? Postingan yang dikiran berantakan? hmmm atau postingan yg tidak lagi sparks joy? hmmm.

      Delete
  16. Setuju mba
    Jangan sampai setelah posting baru nyesel
    Kalau lagi labil mending jauh2 sama medsos
    Saya gitu biasany hehe

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)