5 Hal Kecil dalam Kontemplasi Perjalanan ke Likupang

"Payakumbuh itu dingin atau panas ya?" Tanya seseorang yang baru saya kenal dalam sebuah acara.

"Sedang sedang saja," jawab saya. "Nggak sepanas Padang, dan nggak sedingin Bukittinggi," sambung saya dengan menyebutkan dua nama daerah yang sepertinya lebih terkenal.

"Bukittinggi sekarang masih dingin kah?" Tanya yang lain, antara benar-benar penasaran atau menguji pengetahuan saya, —yang kemudian saya tahu bahwa beliau dulunya menghabiskan masa kanak-kanak di Bukittinggi, kurang lebih belasan tahun lamanya.

"Udah nggak sedingin dulu, Bang." Saya menjawab sambil mengingat begitulah yang saya dan teman-teman saya rasakan saat kami ke Bukittinggi, kota yang hanya berjarak kurang lebih satu jam dari Payakumbuh melalui perjalanan darat dengan kendaraan bermotor.

Atau hanya kebetulan saja saya mengunjungi Bukittinggi pada masa kemarau? Ah, tidak mungkin juga. Karena saya pun pernah ke sana sewaktu langit mendung dengan cuaca galau.

Meski tidak punya data kenaikan suhu daerah Bukittinggi, tapi bolehlah saya mengambil data kenaikan suhu secara global?

Oleh karena itu, izinkan saya mengutip fakta menarik (yang meresahkan) ini dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) yang dipublikasikan di laman website-nya pada tahun 2018.

Infografik kenaikan suhu bumi
Infografik kenaikan suhu bumi

Mendungnya cuaca Bukittinggi saat itu akhirnya kita terobos saja. Toh, hujannya belum turun. Lagipula kita tidak tahu seberapa lama awan hitam itu menggantung di langit. Apakah sebentar lagi menumpahkan hujan, atau malah ternyata hanya numpang lewat ke daerah sebelah.

Begitulah hujan dan panas sekarang muncul dengan tak menentu. Kalau dulu saya diberitahu bahwa bulan dengan akhiran "ber" itu adalah bulan-bulan musim hujan, namun kenyataannya saat saya mengetik tulisan ini pada bulan April, atap tempat saya bernaung ini sedang dikeroyok oleh rintik-rintik hujan. Sementara tadi siang sungguh terik, membuat haus orang-orang berpuasa. Padahal hanya di rumah saja.

Begitu juga dengan hari itu, hari saat saya dan teman-teman yang baru saya kenal itu mendarat di Manado setelah turbulensi pesawat menghantam di perjalanan. Sesampainya di bandara Sam Ratulangi, kami disambut dengan langit mendung dan rintik hujan.

Besoknya, cuaca pun mendung dan hujan mengguyur Manado. Namun untungnya acara kami ada di dalam ruangan. Baru besoknya lagi, kami mau mengeksplor pariwisata Likupang (sebuah daerah di Minahasa Utara) yang dijadikan sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas oleh Kemenparekraf itu. Pulau Lihaga, itu destinasi pertama.

Rupanya cuaca lumayan bersahabat saat kami di Manado hingga menuju pelabuhan Serei, Likupang, tempat menyeberang ke pulau Lihaga. Jarak Manado dan Pelabuhan Serei itu menghabiskan kurang lebih 1 jam perjalanan dengan bus. Pulau Lihaga itu tak jauh dari pelabuhan Serei, hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dengan kapal kecil. Ternyata, pada malam sebelum berangkat ke pulau Lihaga, terjadi hujan badai di daerah sana. Namun besoknya langit cerah sekali. Seratus delapan puluh derajat beda cuacanya dibanding kemarin.

Apakah ini pertanda baik? Atau di balik itu ada hal yang tidak wajar?

Sedikit percakapan di atas kapal

Kami pun snorkeling di sekitar pulau Lihaga yang tak berpenghuni itu. Indah sekali pemandangannya. Ada terumbu karang, bintang laut berwarna biru, dan ikan-ikan yang saya pun tidak mengetahui ada spesies apa saja di dalam air biru jernih itu. Sungguh kegiatan healing yang menyenangkan!

Tak bosan-bosannya saya dengan laut, meski dulu tinggal di pesisir selama kurang lebih 6 tahun. Belum pernah pula saya bosan berenang (a.k.a main air). Ketika berada di Payakumbuh, saya suka berenang di pemandian Batang Tabik —yang sebetulnya sudah masuk wilayah administrasi kabupatan 50 Kota. Dari beberapa kolam renang yang ada di sini, ada satu kolam yang tidak diberi keramik, dan di sana terdapat ikan. Airnya bersih dan jernih dari mata air.

Maka saat bisa menikmati laut sekaligus menceburkan diri ke dalamnya untuk menikmati alamnya yang indah, saya pun merasa senang. Begitulah alam memberikan ketenangan bagi pikiran kita.

Air memang bisa memberikan energi ya?

Maka dari itu, bagaimana saya bisa rela kalau alam-alam "penyembuh" ini tidak bisa dinikmati seperti sekarang?

Terlebih, ketika saya mengetahui kalau kenaikan suhu bumi itu selain mencairkan es di kutub dan membuat permukaan air laut menjadi naik, juga menyebabkan migrasi hewan. Apa yang terjadi dengan makhluk-makhluk air yang saya nikmati ini selanjutnya?

Salam dari bintang laut biru di pulau Lihaga! Foto oleh kang Ali Muakhir (salah satu bestie dalam rombongan)

Entah berapa lama saya dan teman-teman berenang-renang di air dangkal itu. Belum sepenuhnya puas meski terik matahari membakar kulit. Ternyata, air laut tetiba naik, pasang. Saya dan yang lain bergerak menuju kapal, lalu menikmati daratan pulau Lihaga.

Di pulau Lihaga, kami pun mandi. Syukurlah akses air di sini lancar. Toiletnya pun bersih. Kami menikmati ikan kerapu dan entah ikan apa namanya pada menu yang lain. Semua makanan yang tersaji saat saya berkunjung ke Sulawesi Utara itu serba ikan. Tapi tidak membuat bosan.

Laut, selain memberikan keindahan yang menyembuhkan pikiran, juga tentunya memberikan makanan. Semakin tak terbayang jika semua tak bisa kita nikmati karena alam yang rusak.

Selepas dari Lihaga, kami menuju Desa Bahoi, tepatnya di pantai Kamala. Di sana ada Ekowisata Mangrove. Menarik sekali, setidaknya ada 11 spesies mangrove yang tumbuh di kawasan ini, begitu informasi yang saya dapatkan dari warga setempat.

Di sana kami sempat menanam pohon mangrove (Semoga bisa tumbuh dan bermanfaat!).

Mangrove dengan akar napasnya di pantai Kamala, Desa Bahoi. Dokpri, 2022

Pohon mangrove memang memberi banyak manfaat bagi kehidupan kita. Manfaat paling dasar adalah sebagai ekosistem karbon biru.

Ekosistem karbon biru ini punya peran penting dalam penyerapan dan penyimpanan karbon jangka panjang, sehingga membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Bahkan perannya lebih besar dibanding hutan di daratan (hutan terestrial).[1]

Manfaat lainnya adalah untuk mencegah erosi pantai, hingga memberikan manfaat ekonomi dari produk hasil hutan mangrove yang bisa diolah, seperti sirop. Sayangnya, pada saat saya berkunjung ke Ekowisata Desa Bahoi ini, mangrove belum begitu diolah untuk dimanfaatkan.

Sekian cerita dari sini. Kami harus beranjak untuk perjalanan selanjutnya karena hari perlahan sudah gelap. Tak lupa makan dulu dengan jamuan warga yang lagi-lagi ikan dan lagi-lagi saya tidak bosan.

"Enak ya, Bu." Ujar saya jujur pada salah satu rombongan kami, bukan ibu-ibu warga Desa Bahoi. Beliau pun mengiyakan. Di lidah saya, masakan warga selalu terasa lebih nikmat dibanding masakan hotel atau restoran.

Matahari pun perlahan terbenam saat warga Desa Bahoi menyanyikan lagu-lagu dengan bahasa yang tidak saya mengerti bersama alat musik gitarnya.

Langit pun beranjak gelap, dan kami berpamitan pada warga dan pemuka adat / ketua desa.

Sesampainya di penginapan, saya membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur. Lalu mematikan lampu karena tidak digunakan. AC-nya juga saya matikan karena saya merasa baik-baik saja tanpa AC. Hawa suhu ruangan ini masih bisa saya bendung, dan semoga masih tetap terasa nyaman saat saya kembali lagi.

Saat memejamkan mata, saya mengingat kembali rangkaian cerita ini.

Betapa indahnya alam yang diberikan untuk kita bisa memanfaatkannya. Namun betapa mudah pula kita merusak alam, bahkan dengan hal-hal kecil.

Sah sah saja kita bilang bahwa penyebab kenaikan suhu di bumi ini adalah ulah revolusi industri, yang notabene skala-nya besar. Karena revolusi industri, jumlah karbon / gas rumah kaca di atmosfer jadi lebih banyak, tak seimbang dengan yang mampu diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Karena itulah ini menjadi biang kerok pemanasan global, perubahan iklim, dan krisis iklim yang kita rasakan.

Namun, sadar atau tidak, —sebagaimana kita menabung sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,— sebagai individu kecil, kita juga mengambil peran dalam perubahan iklim ini. Jika individu-individu kecil itu melakukan satu hal yang sama dan terus menerus, tentu akan memberi dampak dalam skala besar. Jadi, sebagai individu kecil itu, kita tinggal memilih, mau melakukan tindakan merusak alam, atau melestarikan alam?

Beberapa hal kecil yang dapat kita lakukan untuk mencegah timbulnya krisis iklim:

Hemat energi, matikan listrik jika tidak digunakan

Sakelar lampu, colokan charger gawai yang kita pakai, keran air, dan sebagainya mengonsumsi energi dari listrik, yang seharusnya kita gunakan dengan bijak. Kalau tidak sedang digunakan, maka matikanlah agar kita tidak membuang energi.

Terlebih produksi energi kita di Indonesia ini kebanyakan masih menggunakan bahan bakar batu bara. Sementara produksi energi ini menjadi penyumbang gas rumah kaca yang paling besar. Kita sebagai masyarakat bisa menghemat penggunaan energi agar tidak terbuang sia-sia.[2] 

Gunakan transportasi publik dan kurangi berkendaraan bermotor jika dekat

Masih saja soal produksi energi dari bahan bakar batu bara yang dipakai juga untuk bahan bakar kendaraan yang kita gunakan pada umumnya. 1 kendaraan dengan isi 10 orang tentu jauh lebih hemat dibanding 10 kendaraan dengan isi 1 orang. Berapa ruang dan energi yang tak terpakai dengan maksimal? Toh kalau kita yang tak hemat, pada akhirnya kita sama-sama mengeluhkan polusi akibat asap kendaran dan bisingnya suara klakson akibat macet di jalanan, bukan?

Apalagi jika jarak tempuh yang kita lalui sebetulnya tidaklah jauh-jauh amat, di mana kita masih bisa berjalan kaki atau bersepeda. Saya melihat "budaya" jalan kaki ini perlahan terkikis. Teman saya bisa kaget ketika saya berjalan ke rumahnya, yang padahal sewaktu masa kanak-kanak dulu, jalan ini biasa saya tempuh dengan berjalan kaki saja. Sekarang sudah terlihat aneh. Namun, bersepeda masih dianggap "wajar" dan ini merupakan kegiatan yang menyenangkan sambil melihat pemandangan sekitar yang sering terlewatkan kalau pakai kendaraan bermotor.

Bijak mengonsumsi makanan/barang dan mengelola sampah

Sampah organik yang dibuang di tempat pembuangan landfill terdekomposisi secara anaerob sehingga menghasilkan gas metana, yaitu emisi gas rumah kaca yang menurut Indeks Potensi Pemanasan Global, efeknya 21 kali lebih beracun daripada gas karbon dioksida. Pembakaran sampah juga menghasilkan karbon dioksida, ditambah lagi dengan emisi gas yang dihasilkan oleh transportasi yang membawa sampah ke tempat pembuangan tersebut.[3]

Oleh karena itu, sebaiknya memang kita mengonsumsi apa yang kita butuhkan. Mengambil makanan sebanyak yang bisa kita konsumsi. Membeli barang setelah berpikir berulang kali, apakah benar kita butuh ini? Jika bisa kita pakai berulang kali, maka akan lebih baik untuk di-guna ulang, maupun di-daur ulang agar masa pakainya pun jadi lebih panjang.

"Sampah" bukanlah sampah selagi kita masih bisa memanfaatkannya. Kardus, kertas, plastik bekas, bukanlah sampah bagi para pendaur ulang, melainkan sumber rezeki. Sisa potongan sayur, kulit buah, daun kering, bukanlah sampah bagi para pembuat kompos —itu juga termasuk saya— karena ini adalah bahan-bahan yang masih bisa digunakan setelah terurai secara alami oleh alam. Maka, sebaiknya kita memilah sampah, dan mengelolanya dengan baik. Tidak mencemari lingkungan dengan membuangnya sembarangan, dan membakarnya. Kalau bisa mengelola di skala rumah tangga, kenapa tidak? Toh tidak begitu sulit dan tidak butuh banyak tenaga.

Tanam-menanam, baik di hutan maupun di rumah

Tumbuh-tumbuhan membuat lingkungan menjadi sejuk. Kita semua tahu kalau tumbuh-tumbuhan itu berperan penting dalam menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Tak perlu minder karena tidak menanam se-hutan rimba, karena sedikit saja, sudah membantu.

Beberapa tanaman seperti sayur dan pohon yang berbuah juga bisa kita tanam untuk manfaat yang lebih terasa: panen sayur dan buah. Panen sayur dan buah di rumah juga bisa membuat kita mengurangi emisi karbon karena kita menghemat energi transportasi ke pasar.

Saya sudah mencoba beberapa. Ada yang tumbuh, ada yang mati. Semua proses itu memberikan pelajaran, dan membuat saya lebih menghargai makanan yang tersaji di meja makan.

Mengajak orang lain

Meski kita melakukan hal-hal yang tampak kecil, tapi bayangkan jika ribuan, jutaan, bahkan milyaran orang melakukan hal yang sama. Tentu dampaknya jadi lebih besar.

Jika kita belum bisa sepenuhnya mengadvokasi pemerintah untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan dan peraturan yang lebih pro lingkungan, jika kita belum bisa membuat teknologi yang lebih ramah lingkungan, setidaknya kita bisa saling mengajak dan mengingatkan untuk berbuat hal-hal yang memberi kebaikan #UntukmuBumiku —bumi kita. Yuk sama-sama kita jadi #TeamUpforImpact !

*

Pagi pun menyongsong. Sebuah pesan di grup WhatsApp menanyakan siapa yang mau ikut hunting sunrise. Setelah packing kilat, saya pun bergegas menyusuri anak tangga, menyusul teman-teman ke pantai dekat penginapan.

Udara pagi ini sangatlah sejuk. Terdengar ombak menghempas ke bibir pantai. Matahari malu-malu terbit di ujung lautan sana. Kami menikmatinya sambil mencoba sesekali mengabadikan momen ini lewat beberapa foto dan video, sebelum bersiap untuk pergi ke tujuan lain.

Jika suatu hari dapat ke sini lagi, atau suatu hari membawa kita ke belahan bumi lainnya, akankah kita bisa menikmatinya sebagaimana pendahulu kita menikmatinya?

Semoga.


[REFERENSI]

[1] Reef Recilience Network, dalam reefresilience.org/id/management-strategies/blue-carbon/blue-carbon-introduction/ (diakses tanggal 22 April 2022)

[2] Knowledge Centre Perubahan Iklim (KCPI), dalam ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/inovasi/351-rumah-tangga-hemat-energi (diakses tanggal 22 April 2022)

[3] Indonesia Solid Waste Association (ISWA), dalam inswa.or.id/tahukah-kamu/ (diakses tanggal 22 April 2022)

3 comments:

  1. Sekecil apapun langkah kita, biar kata dicemooh orang lain, kita tetap optimis dan konsisten melakukannya ya
    Semoga bumi dan alam kita bisa kembali lebih sehat

    ReplyDelete
  2. Iya sedih banget dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini jika tak ada perubahan perilaku kita maka akan makin banyak bencana menerpa ya...

    ReplyDelete
  3. Ah saya jadi merasa bersalah nih mbak, tadi pagi saya makan di rumah nggak habis....jadi keinget tindakan saya tidak menjaga kestabilan lingkungan. Eits tapi saya juga mulai belajar nanam di botol aqua lumayan buat tambah pemandangan

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)

About

Taruih Baraja merupakan sebuah personal blog yang membahas beragam topik kesukaan Penulis, seperti Kesehatan, Teknologi, Home Living, dan lain sebagainya [...] Read More

Contact

taruihbaraja@gmail.com
@taruihbaraja
@taruihbaraja

Made with ❤ Taruih Baraja