Jika Saya Menjadi Pemimpin Negeri

Beberapa tahun yang lalu, saya (dan teman-teman) menemukan keunikan ketika berkunjung ke sebuah rumah. Di rumah itu ada dua buah pas foto kakek-nenek berlatar merah yang dicetak dengan ukuran besar. Masing-masing dari kedua foto itu dipajang di dinding dan diletakkan di kiri-kanan simbol Garuda Pancasila.

Lucu juga, entah apa maksud dari empunya rumah. Saya dan teman-teman juga sungkan bertanya. Kami semua tidak merasa bahwa itu merupakan bentuk pelecehan, alih-alih kami sempat tertawa ketika seorang teman melempar guyonan. Bagaimana bisa foto pemimpin negeri yang biasa mengapit simbol Garuda Pancasila, kali ini ditukar dua foto orang tua yang mungkin merupakan leluhur keluarga di rumah itu.

Foto Presiden dan Wakil Presiden berada di samping simbol Garuda Pancasila.
Diedit oleh elthnad (c)Taruih Baraja | Credit frame: https://pngtree.com/freepng/elegant-european-picture-frame_3420742.html

Barangkali negeri kita ini tidak begitu ketat dalam mengatur peletakan foto presiden-wakil presiden di rumah-rumah seperti halnya -yang saya ketahui- dilakukan oleh negeri di seberang sana. Tapi itu bukan persoalan yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini. Foto/gambar hanyalah simbol yang dipanjang. Di balik itu, ada tugas besar pemimpin yang harus dilaksanakan. Ada harapan-harapan rakyat yang diemban.

Kemudian hinggaplah sebuah pertanyaan: jika saya menjadi pemimpin, apa yang akan saya lakukan untuk Indonesia?


FAKTOR-FAKTOR YANG SALING TERKAIT

Pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta ekonomi adalah hal yang saling memengaruhi. Saya teringat sebuah pembicaraan dengan Teh Mayang (dari Kemenkes RI) ketika meliput sebuah acara Kemenkes RI di kantor walikota Payakumbuh sekitar dua tahun silam. Saat itu saya duduk di dekat Teh Mayang, entah apa yang kami obrolkan, mungkin soal riskesdas (Riset Kesehatan Dasar), mungkin soal lingkungan dan kesehatan, yang jelas, Teh Mayang bilang, dari 4 teori H.L. Blum, faktor lingkungan sangatlah berpengaruh.

Teori klasik Henrik. L. Blum menyatakan bahwa ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: 1) gaya hidup (life style); 2) lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya); 3) pelayanan kesehatan; dan 4) faktor genetik (keturunan).

Teh Mayang meneruskan dengan pertanyaan, kenapa di Papua masih banyak permasalahan gizi? Lalu beliau menjawab sendiri pertanyaan itu: karena akses yang sulit. Jawaban itu masuk akal. Teringat pula saya akan cerita dari Sumba Barat Daya, NTT, ketika belum lama ini (belum sampai sebulan yang lalu) seorang kakak tingkat saya ketika kuliah berkunjung ke sana untuk melakukan survei dan promosi kesehatan. Beliau mengatakan betapa sulitnya air bersih di sana, dan lagi-lagi permasalahan yang banyak adalah soal gizi.

Proporsi Status Gizi Buruk dan Gizi Kurang Balita Menurut Provinsi, Riskesdas 2018
File dapat diunduh melalui https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf

Berdasarkan riskesdas tahun 2018, kasus gizi buruk yang terbanyak memanglah di NTT, kemudian diikuti oleh NTB, Gorontalo, Maluku, dan Sulawesi Barat.

Jika kesehatan tidak memadai, bagaimana anak dapat menerima pelajaran dengan optimal? Jika tidak mampu berpikir dengan baik, bagaimana cara memecahkan solusi kebutuhan ekonomi? Entahlah, saya rasa ini bukanlah pertanyaan cocokologi.

Sampai tulisan ini dibuat, saya pribadi belum pernah menginjakkan kaki di tanah NTT, saya tidak mengetahui dengan jelas bagaimana realita masyarakat di sana, hanya dapat memandang di batas layar.

Ada pula seorang teman seangkatan saya saat kuliah yang sedang ditugaskan dinas di Maluku Barat Daya, Maluku, pada sebuah pulau kecil (yang saya lupa namanya). Kurang lebih sudah setahun ia di sana. Ia bilang kalau mau membeli kebutuhan pokok, ada kapal ke pulau seberang dalam sekali seminggu. Itu yang ia katakan sekitar beberapa bulan yang lalu, dan entah bagaimana saat ini. Sayang, saya pun tidak bertanya lebih jauh bagaimana masyarakat mencukupi kebutuhan pangannya, bagaimana ketahanan pangan di sana.

Omong-omong soal ketahanan pangan, saya menjadi merasa bahwa betapa pentingnya lingkungan yang terjaga subur, dan betapa perlunya akses air bersih. Lalu hutan, adalah salah satu sumber penyedia air bersih. Akar-akar pohon yang menahan sampah. Tidaklah heran mengapa air di hutan amatlah jernih. Hutan pastinya juga menyediakan banyak sumber makanan.


SEGELINTIR HARAPAN RAKYAT

Kembali lagi pada pertanyaan pengandaian: jika saya menjadi pemimpin negeri, apakah yang saya lakukan? Pemerataan pendidikan, telekomunikasi, dan kesehatan di Indonesia? Penataan lingkungan yang bersih dan asri? Membuat tikus berdasi takut korupsi?

#1 Perlindungan Eksploitasi Sumber Daya Alam
Alam menyediakan kebutuhan manusia. Namun kebutuhan, berbeda dengan keinginan. Eksploitasi hutan dapat memicu pemanasan global, dan pemanasan global (atau apapun itu istilahnya sekarang, perubahan iklim? krisis iklim?) akan mengganggu aktivitas manusia, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan dan ekonomi. Rusaknya habitat hewan dan berbaurnya hewan dengan manusia bukan tidak mungkin pula menyebabkan risiko penularan penyakit-penyakit zoonosis.

#2 Pemerataan Akses Pendidikan
Banyak yang bilang, pendidikan adalah dasar yang harus dipenuhi. Bahkan dalam pembukaan UUD 1945 pun terdapat salah satu tujuan negara yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang baik tentunya juga soal pengetahuan dan moral, inteligensi dan emosional, yang ada dalam pikiran serta yang ada dalam nurani. Menjadikan bangsa yang terdidik dan beradab tidaklah mudah, tapi setidaknya anak-anak mendapatkan hak berpendidikan dan diajar oleh guru-guru yang berkualitas.

#3 Derajat Kesehatan Masyarakat
Bicara kesehatan juga bukan tidak kompleks (alias kompleks sekali permasalahannya). Salah satunya soal gizi, yang sebenarnya berdampak sejak si anak berada dalam kandungan. Jadi nutrisi ibu mempunyai peran dalam status gizi anak, walaupun anak yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) masih punya harapan untuk tumbuh dengan baik melalui perbaikan gizi setelah lahir. Tapi bagaimana jika si ibu berada dalam lingkup ekonomi yang miskin secara struktural? Apakah bantuan makanan bergizi sudah cukup? Saya percaya, melalui pola-pola pencegahan (dan pengobatan jika sudah terlambat dicegah) dari berbagai faktor maka akan dapat membawa perubahan.

#4 Penegakan Hukum yang Adil
Apa gunanya hukum jika tidak diterapkan? Apa gunanya Ideologi Pancasila jika tidak ada keadilan? Hukum pun bukan sekadar tulisan-tulisan di atas berlembar-lembar halaman. Hukum adalah sesuatu yang mengatur, yang harus diterapkan. Sayang sekali jika hukum diterapkan hanya untuk sebagian orang. Miris sekali jika rakyat rendahan yang maling semangka dapat dihukum lebih berat daripada pejabat negara yang korupsi dana yang bahkan mungkin sebagian jumlahnya tidak pernah dilihat oleh si pencuri semangka.

#5 Melihat, Mendengarkan, Melakukan Perbaikan
Tidak ada yang lebih baik rasanya daripada pemimpin yang mendengarkan keluh-kesah rakyatnya. Pada negeri yang menganut sistem demokrasi ini, sudah semestinya suara rakyat didengarkan oleh para pemimpin.


PERAN GENERASI MUDA DALAM PEMBANGUNAN INDONESIA

Tidaklah mudah menjadi seorang pemimpin, dalam hal apapun. Tingkatan pemimpin paling rendah adalah memimpin diri sendiri, mendisiplinkan diri sendiri. Lalu, pertanyaan itu pun berubah menjadi: jika saya menjadi pemimpin, apa yang akan saya lakukan untuk Indonesia? Bagaimana peran generasi muda dalam hal mendukung kesehatan Indonesia?

Kembali lagi: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi saling memengaruhi satu sama lain. 

Orang yang tidak memiliki pengetahuan soal kesehatan maka tidak akan menjaga kesehatan diri demi mencegah penyakit; orang yang tidak memiliki pengetahuan soal menjaga lingkungan tentu akan berdampak mencelakakan lingkungan; juga bagaimana bisa orang tidak berpengetahuan (saya tidak bilang pengetahuan harus didapat dari sekolah formal) bisa berpikir untuk memenuhi kebutuhan ekonominya? Lalu orang yang tidak memiliki kesehatan yang prima akan sulit memenuhi kebutuhan belajarnya, menjaga lingkungan, dan memenuhi kebutuhan ekonomi. Jika lingkungan tidak dijaga, tentulah akan berakibat pada kesehatan, serta perekonomian. Percayalah, ini bukan cocokologi, dan semoga saja dapat dipahami.

Berdasarkan pada hal tersebut, saya percaya bahwa generasi muda dapat memiliki peran:

#1 Memberikan Edukasi
Tentunya orang yang memberi adalah yang mempunyai. Tidak mungkin memberi sesuatu kalau tidak berpunya. Bahkan memberi doa (sebagai pemberian paling sederhana) pun kita harus punya doa kan? Maka dari itu, diri yang semangat belajar dan mau berbagi ilmu pengetahuan adalah diri yang berperan dalam membangun negeri, baik dari segi pendidikan, kesehatan, lingkungan, juga ekonomi. Memberikan edukasi tentunya ada banyak jalan, bisa dengan mulut ke mulut dengan orang terdekat seperti keluarga, kampanye digital, ke sekolah, juga ke lingkungan masyarakat.

#2 Melakukan Advokasi
Advokasi dapat dilakukan dengan jalan damai, berbincang dengan para pejabat. Advokasi dilakukan jika sekiranya ada payung hukum yang rasanya tidak relevan, atau bahkan tidak ada sama sekali. Biar jelas, ada hitam di atas putih. Eh tapi, saya rasa dengan menandatangani petisi sudah lumayan membantu untuk mengawali advokasi. Para pejabat memang punya daya lebih dalam mengatur aparat, tetapi rakyat yang bersatu tak akan lebih lemah daripadanya.

#3 Aksi Nyata Lain
Aksi nyata lain? Apa maksudnya? Aksi nyata lainnya di sini maksudnya adalah kegiatan-kegiatan di luar memberikan edukasi dan advokasi. Contohnya seperti kegiatan memberikan sumbangan makanan bergizi bagi mereka yang membutuhkan, atau bisa juga sesederhana kegiatan bersih-bersih lingkungan agar terbebas dari sumber penyakit seperti tungau, nyamuk, dan sebagainya. Oh tentu saja kegiatan bersih-bersih diri lah yang paling sederhana, karena semakin jarang dirimu mandi, maka akan semakin kotor kulit penuh daki.

Apa lagi ya?

1 comment:

  1. Tulisannya bagus sekali! Memang, semua hal sangat berkaitan satu sama lain. Artinya, memperbaiki satu harus memperbaiki semua. Saya yakin para tokoh di atas sana juga punya idealisme yang sama seperti kita, tapi kekuasaan menggesernya sehingga mereka lebih mementingkan materi dan jabatan. Semoga ketika saatnya tiba, kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)