Adopsi Hutan, Merawat Hutan dari Rumah

Apa hal yang terlintas di dalam benakmu jika mendengar kata hutan? Pohon? Paru-paru? Hutan memang tidak lepas dari fungsinya sebagai penghasil oksigen untuk kita bernapas. Masih ada banyak lagi fungsi hutan, makanya harus dilestarikan. Eksploitasi hutan merupakan tantangan yang dihadapi dalam pelestarian. Beriringan dengan ekspoitasi, upaya penyelamatan pun dilakukan, baik bagi yang dekat maupun yang tinggal jauh dari hutan, salah satunya adalah melalui adopsi hutan.


Makhluk-makhluk yang mengagumkan

Kemarin saya bercerita panjang dengan adik saya. Bincang-bincang ringan bersama saudara kadang bisa membawa cerita apa saja, dari topik satu ke topik lainnya. Dia bilang, ketika teman-teman kuliahnya bertandang ke daerah kami tinggal, mereka sangat kagum dan baru pertama kali melihat kunang-kunang. Saya sendiri sebetulnya juga masih suka tercengang dengan hewan kecil yang bisa memancarkan cahaya itu, meski sudah teramat sering melihatnya, bahkan sampai serangga itu tersesat ke dalam kamar tidur.

Kunang-kunang mungkin hanya sebuah contoh kecil makhluk yang membuat kagum. Saya punya daftar terkait makhluk-makhluk unik lainnya. Keinginan untuk melihat tingkah burung Namdur / Vogelkop Bowerbird jantan yang menghias sarangnya untuk memikat betina, Western Parotia yang berdansa, dan saya percaya ada banyak spesies unik lainnya. Tapi tenang, saya tidak berniat untuk menangkap dan mengoleksi mereka secara pribadi.


Kekayaan yang tersimpan di dalam hutan

Hutan merupakan habitat bagi beragam jenis flora dan fauna. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Indonesia pun memiliki beragam tumbuhan dan hewan endemik, seperti Bunga Bangkai, Bunga Raflesia, Orang Utan, dan tentunya masih banyak lagi spesies yang hanya ditemukan di Indonesia. Hutan pun adalah rumah bagi manusia, masyarakat adat. 

Raflesia adalah salah satu bentuk keanekaragaman hayati Indonesia | Sumber gambar: Wiki Commons

Kita tentunya tidak bisa mengesampingkan manfaat hutan sebagai penghasil udara bersih. Pohon-pohon menghasilkan oksigen, dan menyerap karbondioksida. Oleh karena itu, selain menghasilkan oksigen untuk kesejukan bumi, hutan juga berfungsi sebagai mitigasi perubahan iklim dalam hal menyerap dan menyimpan emisi karbon sebelum lepas ke atmosfer.

Hutan Hujan Tropis | Sumber Gambar: Wiki Commons

Hutan adalah sumber penghidupan. Hutan dapat menahan erosi, yakni tersapunya tanah oleh air. Selain karena tidak adanya pencemaran baik dari sampah plastik atau limbah di hutan, akar-akar pohon-pohon juga berfungsi menahan agar tidak terjadinya pencemaran air oleh tanah. Oleh karena itu, masuk akal juga kalau air di hutan begitu jernih. Saya pernah meminumnya ketika hiking.


Dekat-jauhnya kita dengan hutan

Kembali lagi, kunang-kunang memanglah hanya contoh kecil bagian dari alam, yang kita —atau setidaknya saya dan teman-teman adik saya— kagumi. Kekayaan alam, dan apalagi yang dimiliki hutan mestilah sangat banyak lagi. Namun, karena kita tidak dekat, barangkali kita mengabaikannya. Kita tidak merasa sebagai bagian darinya.

Suatu hari, saya ditanya soal pengalaman saya di hutan, saya pun berpikir agak lama dan mengingat-ingat. Ternyata saya hanya punya sedikit pengalaman dan pengetahuan tentang hutan (selain hal umum yang tertera di atas). Tentu saja, ukuran sedikit-banyak adalah ukuran saya pribadi, dan tidak bisa dijadikan sebagai patokan untuk khalayak umum.

Ya, saya senang dengan keteduhan yang diberikan oleh kumpulan pohon rindang. Betul, bahwa saya menyenangi udara bersih dan air jernih (siapa yang tidak suka?). Benar, jika saya menyukai harmoni alam, burung bernyanyi, aliran air terjun dan sungai, bahkan suara jangkrik dan kodok di malam hari (walau saya menghindar jika ada kodok di dekat saya).

Tetapi, kapan terakhir kalinya saya ke hutan? Awal tahun ini sempat ke bukit pinus belakang sekolah, sembari menghadiri undangan dari adek-adek kelas yang masih berada di bangku sekolah. Bukit pinus belakang sekolah memanglah bukan hutan yang menyimpan keanekaragaman hayati, meski tetap memberikan sumbangan sumber daya alam dan naungan kepada makhluk.

Ketika dekat dengan hutan, tentulah kita lebih merasakan bagaimana pengaruhnya hutan terhadap hidup. Walaupun, mungkin kadang diri ini lupa, bahwa diri ini memanfaatkan hal-hal yang dihasilkan oleh hutan, selain udara yang dihirup dan air yang diminum. Kertas yang dipakai untuk menulis, atau pada buku-buku di rak-rak, atau meja yang di hadapan, juga jendela kayu yang berada di sisi kanan saya saat mengetik tulisan ini.


Gotong royong jaga hutan dengan cara adopsi hutan

Banyak sekali yang telah kita ambil dari hutan. Akan tetapi, apa yang telah kita berikan untuk hutan? Bukankah hubungan yang baik adalah hubungan yang saling memberi dan saling menerima? Agar senantiasa tercipta keharmonisan, dan agar hubungan itu dapat terus tumbuh dengan baik. Agaknya begitu pula hubungan kita dengan hutan.

Kadangkala, jauh-dekat bukan masalah. Teknologi sudah canggih, sehingga teknologi pulalah yang bertindak sebagai tangan-tangan penyambung hubungan. Melalui teknologi, ada cara alternatif yang dapat dilakukan demi memberi kepada hutan, yaitu dengan melakukan adopsi hutan.

Adopsi hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun di mana pun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya.

Adopsi hutan dapat dilakukan melalui kampanye Hari Hutan Indonesia X kitabisa.com

Adopsi hutan dapat dilakukan melalui kampanye Hari Hutan Indonesia X kitabisa.com. Adopsi hutan masih berjalan hingga akhir Oktober 2020. Dana yang terkumpul akan digunakan lembaga masyarakat setempat untuk patroli hutan desa/adat, modal wirausaha produksi hasil hutan non-kayu, dan klinik kesehatan warga. Dikutip dari laman kampanye Adopsi Hutan, para pengelola adopsi hutan yang akan dibantu saat ini yaitu: 

  • Forum Konservasi Leuser (FKL) di Aceh; 
  • Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Kalimantan Utara. 
  • Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) di Kalimantan Barat. 
  • PROFAUNA Indonesia di Kalimantan Timur dan Jawa Timur.

Begitulah tentang adopsi hutan yang saya ketahui pada peringatan Hari Hutan Indonesia pada tanggal 7 Agustus lalu. Ya, Indonesia telah memiliki hari peringatan hutan, agar mengingatkan kita semua bahwa kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari hutan. Meski peringatan Hari Hutan Indonesia hanya pada 7 Agustus, perawatan tentunya dilakukan lebih sering, karena pengambilan hasil hutan pun tidak dilakukan dalam momen sekali setahun.

Jika kunang-kunang kini bisa menjadi suatu hal yang dirasa langka bagi seseorang, hutan jangan. Maka, biarkan pulalah burung Namdur jantan itu lebih bebas membangun sarang untuk si betina, juga biarkan yang lain hidup bebas di habitatnya. Semoga keanekaragaman hayati kita pun terus lestari, begitu pula segala sumber daya alam yang kita manfaatkan dari hutan. Semoga terus berkesinambungan.

18 comments:

  1. Duh semoga orang lebih banyak tergerak untuk merawat hutan ya baik langsung ataupun tidak langsung dengan adopsi hutan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih kak Dewi. Yuk adopsi hutan 😄

      Delete
  2. menjaga hutan semudah adopsi hutan ya mba. aku nggak pernah yang bener-bener mikirin kalau hutan juga perlu dana patroli dan lain sebagainya. btw aku awalnya ngira adopsi hutan itu kita invest ke satu area buat kita jaga dalam periode tertentu gitu hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe adopsi hutan ternyata beda sama adopsi anak ya mba

      Delete
  3. Kemarin sempat ikutan donasi buat Adopsi Hutan lewat Kitabisa.com, meski nggak seberapa semoga bisa membantu melestarikan hutan2 kita ya.. Seneng bgt sm program hutan itu Indonesia deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren mba Ella! Semoga hutan Indonesia tetap lestari

      Delete
  4. Mantap mbak, setuju banget nih, kita memang harus disiplin menjaga hutan. Karena hutan itu warisan tak ternilai untuk generasi berikutnya. Yuk, kita semangat menjaga hutan Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak! Sebelum diwariskan ke generasi berikut, kita juga masih perlu keberadaan hutan jika kita punya umur yang panjang. Bukan begitu mba?

      Delete
  5. selamat hari hutan Indonesia, semoga hutan negeri kita kembali pulih seperti dulu kala dengan adanya adopsi hutan ini, semakin banyak pula yang aware terhadap kondisi hutan kita yang mulai rapuh, banyak binatang yang kehilangan habitatnya, pulihlah hutanku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain binatang, masyarakat adat juga ada yang tinggal di kawasan hutan. Semoga senantiasa terlindungi :)

      Delete
  6. Hutan perlu kita jaga bersama, agar bisa bermanfaat menghasilkan oksigen dan mencegah bencana seperti banjir dan tanah longsor.

    Sebetulnya sih sederhana seandainya penduduk Indonesia 1 orang tanam 1 pohon, Indonesia akan asri kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pohon beneran ya Mas? Bukan yang disiram di aplikasi oren? Hehe

      Delete
  7. Melalui adopsi hutan, jadi satu upaya kita untuk menjaga hutan di bumi ini

    ReplyDelete
  8. Adopsi hutan menurutku sebuah gerakan peduli hutan yang efektif. Kalau secara langsung kebanyakan orang tak akan mungkin mampu merealisasikan keinginan mereka menjaga hutan. Namun perantara kegiatan praktis adopsi hutan, siapa pun bisa urun sumbang terhadap kelestarian hutan. Semoga makin banyak yang peduli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, kalau secara langsung tidak bisa, kontribusi secara tidak langsung juga ada ya mba 😊

      Delete
  9. Aku tahu kalau hutan itu biasanya juga masih ada yang merawatnya. Dulu sering banget main-main ke hutan buat cari spot camping. Tapi aku ngehnya ini ditanggung sama pemerintah karena yang mengelola perhutani.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)