Kisah Mama dan Kolesterol (True Story)

Masalah kesehatan manusia sudah mengalami transisi. Dulunya masalah kesehatan ini banyak disebabkan oleh Penyakit Menular (PM), sekarang telah beralih pada Penyakit Tidak Menular (PTM). Zaman berkembang, gaya hidup pun berubah. Dan, inilah kisah mamaku dengan kolesterolnya (Kurang nyambung akhir kalimatnya? Mari kita sambung-sambungkan saja).

Tapi tunggu dulu sebentar. Agaknya kurang afdol kalau saya tidak menyertakan data. Maka dari itu, kita simak dulu angka-angka berikut barang sejenak.

Pada 1999, PTM diperkirakan bertanggung jawab terhadap hampir 60% kematian di dunia dan 43% dari beban penyakit dunia (WHO, 2000). Diprediksikan pada tahun 2020 penyakit ini akan mencapai 73 persen kematian di dunia dan 60 persen dari beban penyakit dunia (WHO, 2002).

Oke. Kita lanjut kepada kisah mamaku. Ini nyata lho.

Jadi, pada suatu hari, mama pulang lebih awal dari jam pulang seharusnya. Beliau izin dari kantor karena merasa pusing. Nekad mengendarai diri sendiri, dengan motornya. Syukurlah dapat sampai ke rumah dengan selamat.

Sesampainya di rumah, beliau langsung terkapar dan beristirahat, tentunya. Air mukanya pucat putih seperti tak berdarah. Bibir sampai berwarna gelap. Jika dibawa berjalan, langkah demi langkah seperti goyah dan lemah.

Kondisi seperti ini berulang pada hari berikutnya. Sungguh hari-hari yang sangat tidak mengenakkan.

Gajeboh

Usut punya usut, sewaktu datang ke kondangan kemarin, beliau memakan gulai gajeboh, dan mengambil gajeboh yang banyak. Bagi yang belum familiar dengan gajeboh atau gulai gajeboh, itu adalah hidangan Sumatera Barat yang terdiri dari bagian daging sapi dengan lemak kenyal.

Kemudian dilakukanlah pengukuran tensi. Rupanya tekanan darah beliau termasuk tinggi. Singkat cerita, mama diberi beberapa obat untuk dikonsumsi. Obat yang beliau konsumsi itu termasuk juga dengan obat kolesterol yang diminum sebelum tidur malam.

Tak hanya obat yang didapatkan. Mama juga memperoleh nasihat untuk hidup yang lebih sehat. Pula nasihat terbaik sesungguhnya tersirat pada pengalaman yang menyiksa itu supaya diambil pelajarannya dan tidak terulang kembali.

Memanglah zaman sudah berkembang. Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Termasuk  perkembangan dunia medis, terdapat pengobatan, dan peralatan yang oke punya. Juga dalam bidang telekomunikasi dan digital, di mana informasi promosi kesehatan lebih murah dilakukan.

Di sisi lain, gaya hidup pun berubah. Teknologi kadang membuat manusia lalai akan waktu dan lupa (atau malas?) untuk melakukan aktivitas fisik, itu salah satu dampaknya, selain radiasi terhadap mata, dan lain-lain.

Diagnosis tingginya kolesterol pada mama memang baru sebatas analisa non-labor, bukan dari hasil labor, bukan diperiksa kadar kolesterolnya pada hari itu. Namun beliau memang memiliki riwayat kolesterol yang tinggi, terbukti oleh hasil pemeriksaan terakhir (Sebagai informasi, beliau termasuk rajin memeriksakan kesehatannya -Mengapa tidak? Ada layanan bagi pegawai tempatnya bekerja).

Sebagaimana yang kita ketahui, kolesterol dapat berujung pada penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, jantung, stroke bahkan hal yang tak kuasa saya sebutkan pada kalimat ini.

Ah, masalah perilaku. Sudah tahu kolesterol tinggi, masih berani-beraninya beliau mengonsumsi makanan yang memicu kolesterol jahatnya naik. Ckckck. Mama, oh, Mama. Macam mana pula lah, Bah!

Tetapi bak kata pepatah orang tua kita dahulu, bahwasanya pengalaman adalah guru terbaik. Kurang dapat belajar daripada pengalaman orang lain, dirasakan pulalah daripada pengalaman diri sendiri. Sebagaimana orang di depan kita memberi peringatan akan lubang karena dia telah terjatuh, kita yang tak mendengarkannya maka akan ikut terjatuh. Bukan begitu? Masukkah analogi saya ini?

Mama pun perlahan melaksanakan nasihat-nasihat yang diberikan demi kesehatan beliau. Beliau menjadi termotivasi untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Hingga syukurlah, mama menjadi salah seorang yang mendukung GERMAS (dan semoga istiqomah ya).

Teruntuk yang belum tahu apa itu Germas, Germas adalah akronim dari Gerakan Masyakarat Hidup Sehat. Definisinya ialah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Wah, kuncinya sih berperilaku sehat, ya.

Germas | Sumber: promkes.kemkes.go.id

Kegiatan Masyarakat Hidup Sehat meliputi peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, penyadiaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan edukasi hidup sehat.

Berikut saya lansir dari www.liputan6.com, sedikit wawancara Liputan6 bersama menkes Nila Moeloek,

Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui Germas.

“Germas itu penting. Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari. Boleh olahraga yang murah meriah, seperti jalan kaki. Atau bisa juga bersepeda. Banyak sekali kan anak muda yang sepedaan,” ujar Menkes Nila dalam tayangan Live Streaming melalui Instagram Kementerian Kesehatan, ditulis Senin, 18 Maret 2019.

Selain aktivitas fisik, fokus Germas juga terkait konsumsi buah dan sayur serta pemeriksaan kesehatan secara rutin. Konsumsi buah dan sayur agar ketercukupan gizi seimbang terpenuhi.

“Cek kesehatan berkala juga. Sekarang banyak remaja usia 10-14 tahun yang kena penyakit tidak menular (PTM). Contohnya, hipertensi dan diabetes. Mungkin kebanyakan konsumsi makanan yang terlalu asin dan junk food (makanan cepat saji),” tambah Menkes Nila.

(https://www.liputan6.com/health/read/3919659/anjuran-menkes-nila-soal-durasi-waktu-olahraga?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F)

Kembali ke cerita mama saya, dan saya coba kaitkan dengan poin-poin germas ini.

Aktivitas Fisik

Secara teoritis, aktifitas fisik adalah gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka dan mengakibatkan pengeluaran energi. Intinya, banyak bergerak. Ada beberapa poin yang terkait dengan aktivitas fisik ini.

Pertama, aktivitas fisik dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Kedua, lakukanlah paling sedikit 30 menit setiap hari. Ketiga, batasi kegiatan banyak duduk seperti menonton televisi, main game dan komputer, apalagi ditambah makan makanan kudapan yang manis dan berminyak.

Kebetulan mama termasuk orang yang pekerjaannya banyak menuntut berada di depan layar monitor, dan tentu saja duduk berjam-jam. Oleh karena itu mama pun melakukan peregangan setidaknya satu jam sekali. Beliau juga banyak-banyak berjalan kaki, dan melakukan aktivitas menyapu. Juga banyak memanfaatkan waktu di ruangan terbuka, setidaknya berkebun di kebun kecil-kecilan kami.

Mengonsumsi buah dan sayur

Di rumah, kami berupaya menyajikan sayur dan buah dalam menu sehari-hari, memanfaatkan buah dan sayur lokal yang tersedia di pasar setempat, atau dari kebun kecil-kecilan samping rumah yang ditanami jeruk, pisang, pepaya juga beberapa sayur.

Mama pun membatasi makanan yang dikonsumsinya, mengurangi goreng-goreng, dan terutama makanan pemicu kolesterol jahat seperti bagian lemak pada daging, serta kuning telur, dan sebagainya.

Juga lebih banyak minum air putih (karena sepengetahuan saya, biasanya tidak terlalu banyak), dan membawa sebotol air putih ke kantor (sekalian mengurangi sampah, hehe).

Memeriksa kesehatan secara berkala

Kita dianjutkan memeriksa kesehatan secara berkala agar kesehatan kita terjaga, yaitu tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol darah, ukuran lingkar perut dan darah lengkap di laboratorium, Pemeriksaan ini dapat di lakukan di Puskesmas, Posyandu atau Posbindu. Untuk perempuan, lakukan deteksi dini kanker leher rahim di Fasilitas Kesehatan.

Beruntungnya mama saya yang mendapatkan pemeriksaan ini secara gratis. Apalagi kantor beliau sekarang dekat dengan Dinas Kesehatan, dan beliau mendapatkan layanan ini dengan mudahnya di sana. Begitulah yang beliau tuturkan kepada saya.

Tentu saja, pemeriksaan kesehatan jika tidak diikuti dengan pola hidup sehat, maka tidak ada efek positifnya, seperti yang dilakukan mama saya tersebut. Namun syukurlah beliau kini telah insaf. Kondisi beliau pun membaik.

Pada akhirnya, seperti kebanyakan anak pada umumnya, tentu saja saya menginginkan orangtua yang sehat. Semoga mama saya senantiasa konsisten dalam menjaga kesehatan.

Secara umum, sebagai rakyat Indonesia, dan penduduk bumi. Pula saya mengharapkan masyarakat yang sehat. Sebab saya percaya, masyarakat yang sehat akan meningkatkan kualitas bangsa dan negara.

Dalam ruang lingkup individual, saya juga berusaha belajar dari pengalaman, bukan hanya pengalaman saya, namun juga pengalaman orang lain agar supaya saya tidak terjerumus ke dalam kesakitan yang tentu saja tidak diharapkan.

Ada yang punya pengalaman serupa?


Lihat juga: Instruksi Presiden No 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

14 comments:

  1. Pengalaman adalah guru terbaik. Harus lebih giat lagi nih melakukan usaha2 utk menjagan kesehatan. Terimakasih yaa mbak...

    ReplyDelete
  2. Gaya hidup memang menjadi penyebab banyaknya PTM yang bahkan menjadi penyebab kematian terbesar si dunian sedihnya usia anak-anak juga bisa terserang PTM, salah satu caranya dengan melakukan hidup sehat dan buatku program pemerintah GERMAS ini adalah tindakan positive yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  3. Kolesterolku 202 mbak, diluar batas normal. Aku minum teh oolong satu teko tiap hari alhamdulillah bisa turun banyak :)

    ReplyDelete
  4. aku mbak, kolesterolnya masih di atas 200...hmmm, kerjaan banyak di depan komputer kayak mamanya mbak elrisa tp jarang jalan kaki..baru sebulan ini merubah pola makan niy

    ReplyDelete
  5. Aku pernah tes kolesterol, alhamdulillah sih normal. :)

    ReplyDelete
  6. Sama nih Mbak , mamaku juga penyakitnya kolestrol ini jadi Beliau nggak bisa makan sembarangan. Btw gaya hidup sehat ini memang penting banget ya , terutama agar kita bisa terhindar dari PTM karena efeknya juga tak kalah buruk dengan PM.

    ReplyDelete
  7. Keluhan (sakit) kadang2 bisa jd penyemangat/motivasi untuk melakukan pola hidup sehat..

    ReplyDelete
  8. Ibu sy hipertensi dan kolesterol dulunya mbak. Sekarang makannya g berlebihan dan rutin minum jus sayur. Alhamdulilah semua membaik..

    ReplyDelete
  9. alhamdulillah so far belum ada keluhan2 mbak.. Tp tetap waspada karena usia saya juga udah 35+ , ini sdh wajib check up rutin berkala ya..

    ReplyDelete
  10. Sepakat Mbak. Memang lakukan Gernas sejak dini ya? Semoga Mama sehat slalu

    ReplyDelete
  11. Wah kudu hati-hati ya dan bs kontrol diri untuk memakan yg tdk.memicu kolestwrol tinggi. Thx mb artikelnya oke.

    ReplyDelete
  12. Aaduhhh~ soal kolesterol kayaknya emang harus waspada ya. walaupun diriku suka makan buah dan sayur tapi teteup aja ya harus jaga kesehatan... ternyata aktivitas fisik perlu banget ya mb, padahal aktivitas fisikku kurang, hiks :(

    ReplyDelete
  13. Noted. Terimakasih tipsnya mbak.. Memang mulai skrang harus hidup sehat demi masa tua yg nggak sakit sakit an ya mbak.. Demi suami anak Juga biar bahagia selaluuu

    ReplyDelete
  14. Kolesterol nih yg memang warning banget ya mbaa, buat para ortu kita. Dan, biasanya satu paket dengan gejala penyakit lainnya, macem hipertensi. Kalau sudah begini, makan apapun kudu di kontrol, hiks.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)