Rokok, dan Aspek-aspek yang Menyentuhnya

Sebagaimana yang kita ketahui, rokok adalah salah satu sumber penyakit yang bisa menyerang saluran pernafasan, sistem peredaran darah, hingga jantung. Ini termasuk ke dalam penyakit akibat gaya hidup, dan merokok adalah gaya hidup.

Gaya hidup siapakah rokok itu? Nyatanya rokok sudah menyentuh semua lapisan masyarakat, baik yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah maupun dari kelas ekonomi menengah ke atas. Serta dari kaum tua hingga muda, bahkan anak-anak. Tidak percaya? Saya sudah menemukan fakta di lapangan (Hm, semoga bisa dipercaya. Tapi, cobalah lihat sekitar. Bersyukurlah kalau kamu tidak menemukan).

Beberapa waktu yang lalu saya menjadi mengikuti siaran Kantor Berita Radio KBR dalam program Ruang Publik. Dalam seri talkshow #PutusinAja episode kedua, KBR menyiarkan Ruang Publik bertema "Bagaimana Strategi Capres Atasi Kerugian Kesehatan Akibat Rokok".

Ada dua orang narasumber, ...yaitu Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH (Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin), dan dr. Harun Albar, Sp.A, M.Kes (Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno). (Mohon koreksinya kalau ada kesalahan dalam pemberian nama dan gelar)

www.instagram.com/kbr.id/

Rokok mengalahkan makanan bergizi
Prof Hasbullah Thabrany mengatakan bahwa rokok itu bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyentuh ranah sosial-ekonomi. Karena masyarakat lebih memilih membeli rokok ketimbang makanan yang bergizi. Prof Hasbullah Thabrany pun menegaskan, "penelitian kami sudah membuktikan itu."

Saya sendiri juga acap menemukan pengemis yang merokok. Walau kabar-kabar juga acap datang kepada saya dan menginformasikan bahwa pendapatan pengemis itu banyak (termasuk seorang rekan yang skripsinya meneliti ini). Saya tidak tahu apakah jumlah (pendapatan) itu bisa digeneralisir untuk semua pengemis. Tapi jelasnya saya jadi merasa... illfeel.

Rokok, agama, dan fatwa
Prof. Hasbullah Thabrany juga mengatakan bahwa rokok pun berhubungan dengan masalah keagamaan. "Rokok udah jelas sebetulnya dari segi ilmu agama yaitu merusak orang lain. Ya harusnya berani kita deklarasikan haram itu." 

Beliau melanjutkan, "Sekarang yang ngeluarin fatwa haram secara umum cuma Muhammadiyah. MUI dulu haramnya sepotong-sepotong. Dulu, pernah MUI tahun 2010 mengeluarkan fatwa haram merokok bagi ibu hamil dan menyusui. Saya kira kalau saya bilang ini masalah agama juga perlu dipahami juga para tokoh agama bahwa rokok udah dibuktikan di seluruh dunia itu merusak diri dan merusak orang lain."

Para perokok adalah korban
dr. Harun Albar pun menambahkan dari segi sosial ekonomi. "Bagi kami itu sih sebenarnya menyehatkan para perokok itu bukanlah sebuah beban. Karena rakyat sakit itu, penyakit apapun, kewajiban pemerintah untuk membiayai agar mereka sehat," 

Hm, kampanye nih ye (ya memang ini adalah masa kampanye dan sah-sah aja sih haha). Pada pernyataannya itu, saya juga tidak bisa tidak setuju.

Beliau meneruskan, berkata bahwa para perokok ialah korban. "Bagi kami itu, mereka (para perokok) adalah korban. Jadi walaupun perokok aktif, maupun pasif, itu adalah korban ketergantungan nikotin. Jadi, beberapa penelitian mengatakan bahwa bukan cuma narkoba, merokok itu juga merupakan kecanduan, dan kita harus berupaya mengeluarkan mereka." 

Menurut dr. Harun Albar, tidak elok menstigma mereka sebagai beban kesehatan. "Jadi kita gak akan menstigma mereka sebagai biang kerok untuk membebani masalah kesehatan ya. Tapi kita menganggap mereka adalah sebagai korban karena kecanduan nikotin. Nikotin itu membuat perasaan bahagia, meningkatkan dopamin."

Hm, soal judging pada para perokok kali ya? Soalnya pada kenyataannya sih kan iya jadi beban kesehatan(?) upzzz.

Dimana si akar yang mau kita bongkar?
dr. Harun Albar menuturkan bagaimana lingkaran setan itu menjerat korban. "Orang merokok itu karena stress. Karena kenapa? Itu yang kita cari tahu."

Rokok, stress, dan lingkaran setan

Beliau kemudian menjabarkan dua langkah: non medis, dan medis. Non medis berhubungan dengan memberantas faktor pemicu stress itu, seperti peningkatan lapangan kerja, sembako murah, dll. Sedangkan yang medis, menurut beliau, mulai dari promotif preventif, revitalisasi puskesmas, berhubungan dengan kader, hingga menjalin kemitraan dengan berbagai sektor seperti Komisi Perlindungan Anak, TV, MUI, dll.

Tidak jauh berbeda, Prof. Hasbullah Thabrany juga mengatakan bahwa pihaknya akan menggalakkan promotif-preventif, dan menegaskan juga termasuk kepada para pejabat. "Pejabat pun harus dididik. Bukan rakyatnya saja yang dididik. Karena banyak pejabat kita yang tidak percaya bahwa rokok juga berbahaya." Padahal para petinggi juga dapat menjadi panutan.

Hm, kalau memberikan promotif-preventif, berarti memberikan pengetahuan ya? Berarti yang merokok itu kurang pengetahuan? Atau kalau dilihat dari sisi agama, kurang iman? (Saya bertanya).

Orang-orang juga bertanya, bagaimana kalau harga rokok dinaikkan? Bagaimana kalau rokok tidak dijual bebas? Pembahasan selanjutnya, Rokok: Antara Harga dan Candu ada di postingan setelah ini.

17 comments:

  1. Iya betuljuga mba, rokok merugikan kesehatan baik si perokok aktif maupun pasif. Perlu peraturan ya kuat untuk sosialisasi rokok haram

    ReplyDelete
  2. pembahasan ttg rokok sperti tak berujung y mb. krn bnyk aspek yg 'terkena' imbasnya. Semoga masyrakat Indonesia sgera sadar batasan2 yg tdk merugikan org lain dlm merokok (jika mmg msh ingin merokok). terima ksh sdh brbagi mb ^^

    ReplyDelete
  3. 7 tahun lalu aku perokok berat, sehari bisa habis 4 bungkus. Bisa keluar dari masalah tersebut karena niat yang kuat dan lihat anak-anak (walaupun aku ngga pernah ngerokok depan mereka) ALhamdulillah sekarang malah merasa terganggu kalau ada orang yang merokok di sekitarku :)

    ReplyDelete
  4. Saya pun sangat tidak suka bila masih ada orang yang merokok di depan umum, karena sangat merugikan sekitarnya.

    Sebaiknya memang ada tempat khusus bagi perokok dan kalau mereka melanggar tidak merokok di tempat khusus, denda tinggi harus diberlakukan biar disiplin

    ReplyDelete
  5. Saya paling enggak suka asap rokok. Untungnya ayah dan suami saya bukan perokok. Memang harus ada aturan dan tindakan yang tegas buat perokok.

    ReplyDelete
  6. susah kadang tuh ngasih tau orang untuk berhenti rokok, bersyukur banget bapak dan suami enggak merokok tapi mbah kakung masih sih. susah dibilangin huhu. padahal mah dampaknya enggak ke perokok doang tapi ke orang-orang sekitar namun tetap aja sulit dibilangin, heu. jadi curhat, wkwkwk.

    ReplyDelete
  7. Ayah sayya nih korban kecanduan rokok. Sampai rela gak makan demi uangnya buat beli rokok. Konsep hidup yg salah. Taoi anaknya menyadarkann gak juga jera. Malah dianggap durhaka. Duh gimana yaaa

    ReplyDelete
  8. Saya berada di keluarga yang laki-laiknya tidak merokok. Baik keluarga besar pak suami, maupun keluarga besar saya sendiri. Jadi saya sering kesal kalau para perokok itu nggak tahu diri. Mereka mungkin mengerti tentang tidak manfaatnya rokok, tapi karena sudha candu jadi ya gitu, ngerokok suka-suka di manapun berada.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, suami saya nggak merokok. Bapak saya baru berhenti merokok beberapa bulan yang lalu. Susah banget sih mengedukasi orang soal ini, padahal jelas melemahkan diri, merugikan, merusak kesehatan...apalagi kalau ada orang merokok g kenal tempat. gemes aja gitu...hiks

    ReplyDelete
  10. Intinya mah rokok itu merugikan bagi perorangan, rugi di kesehatan juga di ekonomi, huffft. Udah abisin duit buat beli rokok, bikin penyakit pula, orang lain yg jadi perokok pasif jg kena imbasnya.
    Gemeesss deh.

    ReplyDelete
  11. Bukan masalah percaya atau tidak rokok tidak menyehatkan tapi aku sering dengar dari perokok. Ngerokok gak ngerokok pasti mati. Mungkin sebaiknya pabrik rokok di tutup saja, tapi tentunya sebelum itu harus ada solusi untuk yang selama ini mencari nafkah dari roko.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Iya Mbak. Aku juga pernah baca pernyataan gitu. Kalimatnya beda, tapi isinya kurang lebih sama: "Mati itu pasti. Tapi hidup sehat itu pilihan". Soal percaya gak percaya hubugan rokok dengan kesehatan... mungkin karena dampaknya jangka panjang kali ya. Namun kasihan kan, orang yg gak tahan sama bau asap. Hmm. Makasi komentarnya Mbak :))

      Delete
  12. Intinya saya benci sekali dengan rokok dan para pemakainya. Untungnya suami saya tidak perokok mbak NAD

    ReplyDelete
  13. Dari dlu masalah ini gak pernah abis karena pemerintah memang mendukungnya qiiqiiiii.. Cukai rokok gede, jadi enggan dilepas. Yah, sulitlah klo prinsip begini masih dipegang negara :)

    ReplyDelete
  14. Gemes banget saya dengan orang yang merokok apalagi sejak punya bayi jadi gak pengen banget ketemu atau dekat2 sama perokok. Bukan apanya sih, pastinya banyak yang udah tahu rokok itu gak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain malah lebih parah perokok pasif ya kan Mbak? Ya semoga saja ke depannya makin banyak yang sadar akan betapa tidak pentingnya merokok itu.

    ReplyDelete
  15. Setahu saya, salah satu subsidi dana bpjs tahunan di rmh skt juga berasal dari dana cukai, loh.
    Rasa2nya koq nggak mungkin jika rokok tidak dijual bebas, ya?
    Walau saya juga menyetujuinya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)