Kampung Penas, Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok

Kampung Penas berada di Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. Namun ada yang istimewa di Kampung Penas. Namanya juga dikenal sebagai Kampung Warna-warni Tanpa Rokok. Kampung warna-warni tanpa rokok ini dibentuk sejak tahun 2017. Bagaimana ceritanya?

Saya mengenal Kampung Penas dari siaran Kantor Berita Radio KBR dalam Ruang Publik KBR bertema "Kawasan Tanpa Rokok untuk Wujudkan Kota Layak Anak". Siaran itu mengudara pada tanggal 12 April 2019 lalu, -dan saya agak terlambat menyaksikannya, tetapi tidak masalah.

Ada tiga orang narasumber pada tema tersebut, yaitu: ibu Sumiati (Pegiat Kampung Tanpa Rokok), dan ibu Ir. Yosi Diani Tresna, MPM (Kasubdit Perlindungan Anak, Dit. Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda, dan Olahraga, Kementerian PPN/Bappenas), serta mbak Nahla dari Yayasan Lentera Anak.

Data
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2018, ada 43% Kab/Kota di Indonesia yang telah memiliki peraturan terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR). 10 dari 516 Kab/Kota yang memiliki peraturan pelarangan iklan, promosi, dan sponsor rokok.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dari 389 Kab/Kota yang berkomitmen menjadi Kab/Kota Layak Anak, baru 103 yang memiliki peraturan terkait KTR. Hanya 10 Kab/Kota yang memiliki peraturan pelarangan iklan, promosi, dan sponsor rokok.

www.instagram.com/penastanggulktr

Inisiatif
Bukan tanpa alasan ibu Sumiati menginisiasi Kampung Warna-warni Tanpa Rokok. Beliau mengaku pernah menjadi korban akibat paparan asap rokok dari suami dan anak yang selalu merokok di dalam rumah. Bu Sumiati terkena penyakit paru pada tahun 2007.

Bu Sumiati sebetulnya memulai sosialisasi dari tahun 2012, lima tahun sebelum kampung warna-warni itu berdiri. Sebelumnya disebarkan angket kepada warga, dan hampir 100% warga setuju untuk menjadikan kampung Penas sebagai kampung warna-warni tanpa rokok. Lalu kampung itu pun dideklarasikan.

Keadaan warga kampung juga banyak yang terkena penyakit paru akibat rokok sehingga bu Sumiati dan kawan-kawan berpikiran dan mempunyai keinginan agar kampung itu bebas dari rokok untuk melindungi para ibu dan anak-anak.

Pelaksanaan
Beliau tidak bergerak sendiri, ada LSM Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) yang mendampingi. Kebetulan bu Sumiati juga aktif di LSM ini. Dalam pelaksanaannya, semua warga pun dilibatkan dalam mewujudkan tujuan, dan ada 7 orang warga yang menjadi tim penggerak. Sudah ada 8 orang yang berhenti merokok, lho.

Sebagaimana KTR yang kebijakan/peraturannya dibuat oleh daerah (desentralisasi), di Kampung Warna-warni Tanpa Rokok ini juga memiliki peraturan yang disepakati bersama. Jika ada pendatang yang merokok, akan kena teguran oleh warga. Jika ada tamu yang merokok di rumah, si tamu dan tuan rumah akan kena denda. Pokoknya tidak ada r.o.k.o.k.

Sekarang sudah hampir dua tahun Kampung Warna-warni ini dibentuk. Bu Sumiati menuturkan bahwa ada aspek yang perlu ditingkatkan.

www.instagram.com/kbr.id dan diedit oleh taruihbaraja.com

"Kalau saya sih berharap, karena ini menjadi kampung percontohannya Pemda DKI, paling tidak memang ada pengawasan dari kelurahan atau puskes gitu.

"Harusnya dia berbangga dong, ada Kampung Warna-warni Tanpa Rokok. Nah, sekarang ini karena kurangnya pengawasan gitu, terus pengurusnya juga ganti, udah mulai ada yang nakal-nakal lagi.

"Emang sih dia gak merokok di rumah atau di teras atau di kampung itu. Tapi kalau malam itu masih ada anak muda dari luar itu mereka nongkrong di pinggiran kali. Emang gak di pemukimannya ya, tapi di jalanannya gitu yang arah ke kampung. Tapi itu udah masuk wilayah atau zona yang tidak boleh ada orang merokok. 

"Padahal kita udah siapin dua titik tempat untuk mereka merokok."

www.instagram.com/penastanggulktr

Ternyata, walaupun sudah ada dua titik yang diberikan untuk merokok, masih juga ada yang melanggar, meskipun orang tidak merokok di dekat pemukiman warga. Bu Sumiati pun mengharapkan kolaborasi dengan pemerintah daerah terutama dalam pengawasan.

Ketika ditanya apakah masih ada yang jualan rokok di kampung, jawabannya masih ada, namun tidak dipajang di etalase.

www.instagram.com/penastanggulktr

Saya, jujur saja belum pernah menginjakkan kaki ke kampung Penas ini. Namun melalui wawancara dan kepo-kepo lainnya di jagad dunia maya, saya kagum dengan perjuangan bu Sumiati dkk, juga warga kampung Penas yang patuh.

Hal serupa pun dikatakan oleh bu Yosi:

"Tentu saja kami merasa gembira dan bangga sekali karena pembangunan (Indonesia) ini tidak akan pernah bisa mencapai sasaran yang ditetapkan apabila hanya pemerintah sendiri yang berjalan."

Bu Yosi mengatakan bahwa kebaikan yang dimulai dari inisiatif (kesadaran) warga, maka akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan ketakutan dari paksaan dan ancaman.

"Menurut kami, inisiatif dari masyarakat yang dikawal kemudian oleh peraturan daerah yang sifatnya mungkin pemaksaan di mana ada sanksi itu merupakan suatu kombinasi yang bagus. Tapi tentu saja yang akan berlangsung lebih lama apabila itu didukung oleh kesadaran warga sendiri."

P = Pewawancara (Don Brady)
N = Narasumber (Bu Yosi)

P: Berarti lebih bagus karena ada kesadaran warga sendiri ya? Kalau dipaksa ya... gak akan berlangsung lama, seperti itu?

N: Ya, karena bukan kebutuhan. Sementara kalau inisiatif, itu artinya kebutuhan.

Saya pun menitipkan cuitan saya beberapa tempo yang lalu (silakan kalau ada yang mau retweet dan/atau mengikuti :p)


Saya pun percaya bahwa bu Sumiati dkk bukan satu-satunya. Ada pak Soeharto di kampung Purbowardayan, Surakarta. Setidaknya baru itu yang saya temukan (dengan penglihatan yang belum luas ini).

Akhir kata, saya berharap semoga kesadaran itu tersebar luas di seluruh negeri, melindungi anak, melindungi generasi :)

Oh ya. Siapa yang pernah berkunjung ke kampung ini? Atau, bagaimana di daerahmu?

Referensi:
Ruang Publik KBR 12 April 2019 bit.ly/2X3IMDR
kbr.id/saga/04-2019/porak_parik_penerapan_aturan_antirokok/99129.html

26 comments:

  1. Yang semacam ini wajib di viralkan. Semoga dpat menjadi contoh bagi daerah-daerah lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuy kuy diVIRALkeun. Like-comment-share :D

      Delete
  2. laaah aku baru tau loh ada kampung ini padahal dekat dengan rumah ortu aku hehehe salut dengan Ibu Sumiati, semoga perjuangan beliau tetap istiqomah :)

    ReplyDelete
  3. Wah keren Bun inovasinya. Saya setuju banget nih dengan idenya untuk membuat seluruh warga setuju lingkungannya bebas rokok.

    Saya baru sering bt nih gara-gara tetangga merokok. Padahal kalau dipikir-pikir dia yang barusan tinggal di sini, tapi karena ada saudaranya yang agak petinggi di sini jadi agak seenaknya. Duh sebel banget sama orang begitu. Padahal gang kecil di rumah saya itu gang buntu dan tak ada hawa, lingkungan juga banyak bocil2, semestinya untuk orang yang sudah cukup berumur bisa bertenggang rasa, eh sayangnya tidak.

    Maafkan ya mba, jadi malah curcol di lapakmu. Semoga inovasi seperti ini bisa segera menular ke semua lingkungan di DKI Jakarta, aamiin ☺❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe di sini bebasss mah kalau mau curcol Mbak, silakannn :D

      Saya turut sedih mendengarnya Mbak. Untuk saat ini, saya hanya bisa berdoa, semoga beliau diberikan kesadaran kalau hal tsb mengganggu tetangga yang lain. Atau, apakah Mbak mau berbicara dengannya? hihih

      Oiya, Mbak berterima kasih kepada siapa ya? "Bun"? Bunda? Kepada Bunda Sumiati? Atau kepada saya? Wah, apakah saya mempunyai kharisma keibuan??? Saya masih lajang inih Mbak e. Apakah saya kudu branding diri sebagai lajang? Hahaha. Baiqlah, saya anggap sebagai doa (yang baik tentunya). Terima kasih Mbak ☺❤

      Delete
  4. Keren banget bisa ada ide seperti ini. Alhamdulillah suami saya nggak merokok. Tapi, sejak kecil saya tinggal bersama ortu dan bapak saya perokok. Alhamdulillah, baru kemarin berhenti. dan memang kalau di lingkungan kami, orang merokok mah suka-suka mereka, di dalam rumah, ada anak kecil, peduli amat. Itu bikin sedih dan gemes banget...hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... untuk keluarganya.
      Hmmm, kalau untuk tetangganya . . . . . adalah asa.

      Delete
  5. Alhamdulillah keluarga tdk ada yg merokok. Suka gemes lihat yg merokok di tmpt umum, suka kdg spontan nyeletuk, "pak maaf asapnya ngeganggu" wkwkw
    Alhamdulillah lho y ga marah, mdh2an sih jd sadar klo keberadaab asapnya menggangu org lain

    ReplyDelete
  6. Bagus banget ya ada kampung bebas rokok kayak gini. Suami dan ayah bukan perokok, alhamdulillah ... cuman kadang enggak nyaman aja kalau ada yang merokok deket saya apalagi anak saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hampir sama lah kasusnya dengan (komentar) Mbak Muyas di atas ya Mbak. Hm, atau coba kayak bu Yuni (lihat komen di atas) Mbak :)) hehe
      xx

      Delete
  7. Tinggal sejak lahir hingga kuliah di lingkungan perokok aktif membuat saya sangat mengapresiasi apapun usaha untuk membuat lingkungan menjadi bebas rokok.
    Kampung Penas ini, harus diVIRALkan kak.!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yu bantu2 viralkan Kampung Penas (dan tulisan saya) Mbak. Hihi
      xx

      Delete
  8. Luar biasa kampung ini, aku adalah anak yang terlahir dari bapak yang seorang perokok aktif, dulu biasa banget menghirup asap rokok namun sejak merantau mulai merasakan ketidaknyamanan sejak pulang..dan akhirnya yang berani menegur bapak adalah cucu-cucunya..semoga bapakku segera menghentikan kebiasaan merokoknya..aamiin

    ReplyDelete
  9. Kampung penas itu tempat main kecil saya walau nggak lama, karena sahabat saya tinggal di sana, sekarang dia tinggal di Kalimantan. Tapi ibu dan adik-adiknya masih di sana saya baru tahu, terimakasih infonya

    ReplyDelete
  10. mbak rajin banget ya mengulas bahasan KBR ini. Sukses mbak menyuarakan anti merokok demi kesehatan kita semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi udah rajin juga baca blog saya Mbak <3

      Delete
    2. Di Kota Malang, tempat saya, ada Kampung Warna-Warni, sih. Tapi kalau anti rokok, sepertinya belum ada. Memerlukan perjuangan banget untuk membuat orang sadar bahwa merokok itu berbahaya untuk orang lain yg terpapar.

      Delete
  11. Keren banget nih kalau ada Kampung seperti ini di daerah saya. Berasa saya pengen langsung saja pengen pindah di kampung yang bebas rokok kayak Kampung Penas ini

    ReplyDelete
  12. Wah jadi pingin tinggal di sini mbak, nggak bakalan keganggu sama perokok perokok nggak tahu diri, mana warna warni lagi. Keren dan mantul!

    ReplyDelete
  13. Senangnyaaa kalau bisa jadi kawasan anti asap rokok dan teman2nya. Lingkungan jadi asri dan sehat untuk anak2 serta para bumil dan lansia. Duh kapan yaa Sidoarjo punya yang seperti inii

    ReplyDelete
  14. hebatnya kampung ini mb. Seharusnya ini bisa jadi percontohan oleh kota lain. Dan dukungan pemerintah juga diperlukan. Semoga di pekanbaru juga ada seperti ini. Makasih mba.

    ReplyDelete
  15. Wow.. keren nih ternyata Jakarta sebagai ibu kota yang terkenal gelamor terdapat kampung bebas rokok. Salut sama penggegas dan warganya. Semoga tersu bertahan selamanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan aja penggagasnya tinggal di Jkt hahahaha.
      Tapi bener sih Mbak, kewrennn

      Delete
  16. Keren banget nih mbaa, patut buat jadi percontohan di daerah lainnya. Dan, gagasan seperti ini sebaiknya juga dikembangkan secara menyeluruh ya mbaa. Bagus banget, aku baru tahu kalau ini ada di Cipinang. Padahal, sering lewat hihi

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)