Sebuah Eksploitasi dari Industri Silinder Berisi Tembakau

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar (dan menonton) serial talkshow #PutusinAja dalam program Ruang Publik di KBR Radio (website: KBR.ID). Siaran pertama talkshow itu berlangsung pada 19 Februari 2019, dan bertemakan "Desakan Stop Anak jadi Media Promosi Rokok".

Kita memiliki 2 orang narasumber di edisi pertama ini, yaitu: Bapak Reza Indragiri, Pakar Psikologi Forensik Yayasan Lentera Anak. Juga ada Ibu Nina Mutmainah Armando, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.


Latar Belakang
Talkshow yang berlangsung 58:15 menit itu (termasuk jeda pariwara), dilatarbelakangi oleh kajian dari Yayasan Lentera Anak (YLA) yang berjudul "Smash! Eksploitasi Anak di Balik Audisi Badminton Djarum".

YLA menemukan bahwa anak-anak yang ikut audisi wajib memakai kaos khusus dengan warna seperti bungkus rokok dan dengan tulisan merek rokok yang besar (pokoknya branding rokok). Anak-anak itu dianggap seperti iklan rokok berjalan.

YLA memvonis bahwa ini sudah merupakan bentuk eksploitasi anak dari segi ekonomi, karena mendatangkan keuntungan. (Di dalam UU Perlindungan anak, ada 2 bentuk eksploitasi, yaitu eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual).


CSR? WHO: Ironi yang sempurna
"Bagaimana mungkin sebuah produk yang dipandang sebagai salah satu benda paling mematikan di muka bumi, justru mencoba untuk menebus itu semua, membayar itu semua dengan melakukan sebuah program yang mereka sebut sebagai program pertanggung jawaban sosial. Itu dua istilah yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa disandingkan. Ironi yang sempurna, itulah sebutan dari WHO." -Reza Indragiri.


Kenapa "eksploitasi"?
Lalu, kenapa ada kata eksploitasi? Bukankah bagus, kan perusahaan yang kita bahas ini memberikan sumbangsih yang besar untuk anak-anak bangsa agar menjembatani mereka menuju piala-piala prestasi?

Ternyata, bentuk menjahati anak bukan hanya dengan cara kasar. Namun, mengiming-imingi dengan perasaan positif juga bisa menjadi pola yang buruk terhadap anak. Ini merupakan modus klasik untuk memangsa anak-anak, begitu yang dituturkan oleh Bpk. Reza Indragiri. Modus ini disebut grooming behavior, di mana pemangsa berusaha membangun kepercayaan si anak untuk mengikuti kemauannya, biasanya dilakukan oleh penjahat seks.

Lagipula ternyata...


Bentuk yang tidak seimbang
YLA mencatat bahwa:
Pada tahun 2006, industri rokok ini melakukan audisi terhadap anak usia 15 tahun untuk mendapatkan pelatihan bulu tangkis, dan ini diadakan di Kudus. Tahun 2015, audisi ini diadakan di berbagai kota. Kemudian pada tahun 2017, audisi sudah diperuntukkan bagi anak-anak berusia mulai dari 6 tahun. Betapa jaring-jaring yang dilemparkan semakin besar.

Infografik Audisi Beasiswa Bulutangkis oleh Industri Rokok di Indonesia

YLA menemukan bahwa:
Dalam 10 tahun, ada 23 ribu orang yang ikut audisi. Namun, hanya 200 orang yang direkrut menjadi atlet bulu tangkis yang berbakat (0,01 persen). Dan, dari "suntikan-suntikan merek" itu, hanya sepersekian anak yang mendapatkan beasiswa.

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa ada yang salah dengan usaha menebus kesalahan? Namun juga ternyata saya digiring untuk berpikir sekaligus bertanya, kenapa harus anak-anak?

Padahal, anak-anak dan rokok itu adalah dua hal yang jauh berseberangan.


Penanaman image rokok dan promosi terselubung
Dan, melalui audisi itu, anak-anak yang terlibat audisi, terjun ke tempat yang di sekitar ada merek.. merek.. merek.. dari rokok. Entah dari baju atau atribut yang dipakai, maupun dari spanduk-baliho di sekelilingnya. Bu Nina mengatakan bahwa hal itu merupakan sarana untuk mengenalkan rokok kepada anak, dengan citra positif dari rokok.


Riset pengaruh terpaan iklan promosi
Bu Nina menyebutkkan, ada metaanalisis terhadap 13 studi tahun 1990 s.d 2014 melihat bagaimana pengaruh terpaan promosi.

-Anak dan remaja yang sering mendapatkan terpaan promosi rokok memiliki kemungkinan mencoba merokok 1.6x lebih tinggi dibandingkan yang jarang mendapatkan terpaan merokok.

-Anak dan remaja yang sering mendapatkan terpaan promosi rokok lebih rentan merokok di masa depan 1.3x lebih tinggi dibandingkan dengan yang jarang mendapatkan terpaan merokok.


Cukai besar?
"Cukai rokok ini kan sebenarnya adalah pajak dosa, sin tax, dan itu yang menanggung itu adalah orang yang membelinya. Sin tax itu adalah pajak yang dikenakan pada barang yang membahayakan masyarakat. Seringkali ini diklaim sebagai sumbangsih dari industri rokok. Bukan, itu adalah dari masyarakat yang harus menanggung sebenarnya." -Nina Mutmainnah Armando.

Bagaimana pula dengan biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi penyakit yang diakibatkan oleh rokok?

Betul sekali, ada banyak faktor yang mempengaruhi, terutama faktor ekonomi. Lalu jika kita ikuti, tidakkah kita bisa lihat bahwa ini seperti sebuah rantai lingkaran setan?

Sebuah lingkaran

Berikut saya catat hasil talkshow ini, ada beberapa aspek yang diperhatikan.

1. Dari sisi pemerintah, untuk memperketat regulasi iklan dan sponsoship rokok di Indonesia. Bu Nina mengemukakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memperbolehkan iklan rokok.

2. Dari sisi keluarga, fokus pada anak. Olahraga memang penting, biaya sekolah juga butuh. Tapi, anak-anak yang terpapar iklan rokok mempunyai potensi untuk menjadi perokok. 

3. Dari perusahaan non-rokok atau organisasi, untuk lebih memperhatikan kepada para pelajar, atlet, atau mahasiswa Indonesia agar lebih bersaing dalam memajukan anak-anak, bukan hanya memajukan grafik pendapatan internal perusahaan saja.


Disclaimer
Saya pribadi tidak bermasalah dengan para perokok. Saya juga mempunyai teman yang merokok, dan saya paham bahwa berhenti dari kebiasaan tidaklah segampang orang normal membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan untuk berhenti dari zat aditif. Bagi saya, merokok atau tidak adalah hak masing-masing.

Namun, saya tidak bisa lagi rasanya menolerir orang yang merokok di dekat orang lain -yang tidak menyukai asap rokok. Apalagi di dekat ibu hamil dan anak-anak. Miris sekali rasanya mendapati kasus ini.

... anak-anak tidak seharusnya didekatkan oleh produk yang bahkan bungkusnya bertuliskan "merokok membunuhmu". Sebuah jargon klise, tapi begitulah rokok, berisi racun.

... dan orang waras mana yang bisa mengatakan kalau rokok itu sehat?

Lagi-lagi, biarkan saya tegaskan, bahwa tulisan ini menfokuskan pada bahasan anak-anak dan rokok. Bahwa penanaman citra rokok pada anak-anak sejak dini kiranya bukanlah suatu yang bijak.

Saya juga tidak membenarkan rokok baik untuk orang dewasa, tapi... ayolah... Penanaman pada anak-anak bisa jadi bak mengukir di atas batu.

Kalau saya sih, #PutusinAja hubungan anak dengan rokok. #takdipungkirisayajadiberpihak #setelahmencobamelihatdarisudutseberang.

Menurut teman-teman pembaca, keputusan apa yang mau teman-teman #PutusinAja?

23 comments:

  1. Kalau saya sih lebih setuju dengan memberikan contoh dengan perbuatan. InshaAllah kalau anak-anak mau jauh dari rokok, maka sterilkan dari rokok.

    Berikan pijakan-pijakan sejak dini hanya makanan, minuman, dan cemilan yang baik, halal, sekaligus menyehatkan yang boleh masuk ke tubuh.

    Sambil berdoa deh minta anak dijauhkan dari hal-hal yang banyak mudharatnya.

    Ini sih hanya pendapat pribadi ya mba ☺❤

    Maafkan kalau kurang berkenan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak, udah ngasi komentar tentang aspek KELUARGA ❤

      Delete
  2. Saya paling kesal dengan iklan rokok yang menampilkan seolah-olah para perokok itu adalah orang-orang keren, modern, dan berprestasi. Padahal, aslinya tentu berbeda 180 derajat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga ya mbak, jadi ingat iklan-iklannya, jadi ingat tagline NEVERQUIT-nya. Ups.

      Delete
  3. Adek saya perokok mba dan setiap saya nasehati bilangnya yg mba sampean diatas, dari cukai yang nyumbang devisa, terus ngasih pelatihan dan berasiswa atlit, terus sampe memajukan petani bakau. Tapi untungnya dia tau sih kalo ada anak saya ngerokok ya jauh2, habis ngerokok dia mandi baru pegang anak saya hahahaha cuman gak semua orang sih sadar kayak gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah kaprah soal devisa ya mbak? hehe...
      Keren juga mandi dulu baru main bareng, beneran keren.
      Tapi lebih keren kalau gak ngerokok lagi ya mbak? Menurut saya sih. hehehe.

      Delete
  4. Soal rokok itu aneh. menurut saya, ngasih gambar2 yang mengerikan itu nggak akan ngefek untuk mengurangi perokok yang ada kalau pemerintah tidak mencabut pabrik-pabrik rokok. sayangnya, yang dilihat uangnya dulu sih. bukan efek jangka panjang itu.

    rokok sendiri juga sering memberikan beasiswa biar tetap eksis, semacam mau bilang, "kalau nggak ada gue, siapa yang kasih beasiswa."

    hmmmmm...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mencabut mungkin agak susah yah? HMM. Setidaknya harganya dinaikkan dulu, ya gak sih mbak?

      Delete
  5. Baru tau kalo namanya grooming behavior bener juga yah kok saya ga kepikiran. Saya sih cuma berpikir itu bntuk CSR nya perusahaan rokok dengan menjadi sponsor. Ternyata ada udang dibalik bakwan yah. Hmm regulasi pemerintah juga belum ada yang jelas mbak mengenai permasalahan ini. Dilematis yah jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Regulasi pemerintah... dan aspek pemerintah ini terasa lamban.
      Apa hanya saya yang merasa?
      Masih ada aspek lain yang bisa diperhatikan terlebih dulu :")

      Delete
  6. anak aku kalo lihat baliho iklan rokok di jalan selalu nanya "ibu, kalau tahu rokok itu menyebabkan penyakit, kenapa orang masih berjualan dan membeli rokok ya". Anak kecil saja sudah bisa menilai iklan yang kontrakdiktif begini, tapi regulasi pemerintah juga tidak tegas, bisa jadi karena nilai cukai rokok yang cukup besar bagi pemerintah sangat sayang apabila dihapuskan 100%

    ReplyDelete
  7. Ah, rokok ... saya mau pilih putus hubungan saja sama rokok.
    Btw, suami saya perokok mbak, tapi beliau sudah meninggal, yang saya lihat sih sama sekali nggak ada untungnya merokok.

    ReplyDelete
  8. dilem, apalagi di negeri kita yang masih berkembang dan morat-marit ini.
    Saya juga nggak menyalahkan mereka yang memilih merokok, asal tahu tempat dan keadaan. tidak blas-blus di sembarang tempat. Menyebalkan kalau bertemu orang seperti itu

    ReplyDelete
  9. masalah rokok ini, macam blunderrr, muter terus, gak pernah ketemu solusinya. yang bisa kita lakukan ya proteksi untuk keluarga kita ya mba, seperti bapak saya yang perokok berat dan pernah sakit karena efek merokoknya, dengan contoh ini ketiga kakak laki-laki saya gak ada yang merokok. memang harus ada contoh dulu sepertinya, baru kita ngeh!

    ReplyDelete
  10. Rokok sejak dulu memang jadi dilema. Entahlah bagaimana memutus rantainya, wong masalahnya pemerintah memang mendukungnya. Padahal jelas-jelas di agama juga para ustdz sudah bilang haram, karena lebih banyak mudharatnya, tanpa ada kebaikannya sama sekali.

    ReplyDelete
  11. Saya sangat setuju... Lebih baik
    #putusinaja
    Rokok mendatangkan berbagai kemudharatan, mengancam keselamatan dan jiwa banyak orang, tidak hanya bagi pelaku aktif namun jg semua orang di sekitarnya. Apalagi jika perbuatan melibatkan generasi penerus bangsa... Sungguh miris dan sangat disayangkan😢😢😢

    ReplyDelete
  12. Peran pemerintah dinilai lemah, pada rokok ini.. Regulasinya gak galak sm para produsen roko. .Yah mgkn simalakama,

    ReplyDelete
  13. iya setuju mbak..saya juga dari dulu pas teman saya dapat beasiswa itu mikir,"Hah, rokok bikin beasiswa begini?" dan bagikalangan saya itu beasiswa ini sangat bergengsi lho.

    ReplyDelete
  14. Ah, lagi-lagi rokok. Memang benar sih perusahaan rokok punya trik agar mereka tetap 'besar', ya. Paling kelihatan memang dari segi beasiswa dan iklan TV yg 'terlalu baik'.

    Yupz, putusin aja! Edukasi ke masyarakat tentang bahaya rokok emang masih jadi PR besar, sih.

    ReplyDelete
  15. Setahu saya ada dana cukai juga yang digelontor ke semua rumah sakit pemerintah untuk dana tambahan layanan kesehatan tahunan loh mbak. Dan itu sdh lama berlangsung, loh.#peace

    ReplyDelete
  16. Alhamulillah...sejak tahun pertama pernikahan kami suami memutuskan tdk merokok lagi. Ini hal yg sngt diayukuri. Meski awalnys berhenti karena sakit n oleh dokter diminta tdk merokok tp akhirx betul2 berhenti. Mnurut saya yaa...putuskn untuk tdk merokok agar sehat...hehe

    ReplyDelete
  17. Rokok, entah. Saya paling ga suka liat orang mgerokok. Mereka yang menghisap, orang lain yang kena paparan rokoknya

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)