Cara Agar Tidak Terjerumus Hoax

Akhir-akhir ini saya banyak menerima berita dari teman-teman soal akun twitternya yang kena suspend. Akhir-akhir ini juga di twitter saya terpampang dengan nyata apa saja yang menjadi trending topic (di Indonesia), yap: topik Politik.

Saya belum begitu paham kenapa twitter memberikan suspend kepada akun-akun penggunanya. Apakah karena disangka bot, apakah akun pengguna itu kerjaannya nge-buzz melulu, menaikkan tagar agar bisa menjadi trending topik? Katanya sih karena: 'aktivitas yang tidak biasa'. Tapi aktivitas apa yang dimaksud? Saya belum mengerti.

Beralih ke soal politik. Pembahasan mengenai politik terasa memanas saat ini. Namanya juga menuju pemilu 2019. Tak heran setiap hari menjadi trending topic di twitter. Ada aja tagar yang dimasukkan setiap harinya. Di luar twitter pun juga menjadi trending topic.


Politik dan hoax

Menurut saya, sah-sah saja kita mendukung calon presiden dan calon wakil presiden jagoan kita. Namun, tidak sah kalau sudah berkata-kata tidak benar, saling menjatuhkan, dan parahnya lagi: menyebar hoax.

Apalagi, ada yang mengemas kalimat-kalimatnya dengan tulisan yang indah dan halus, padahal informasinya tidak benar. Ada yang pernah bilang: Hoax dibuat dengan niat jahat, disebar dengan "niat baik" karena merasa peduli berbagi. Jadi, pembaca yang budiman harus hati-hati.

Sebelum jauh membahas hoax, mari kita bahas apa arti "hoax". Barangkali ada yang belum tahu apa artinya. Nah, "hoax" yang dalam tatanan kata Bahasa Indonesia yaitu "hoaks" sudah masuk ke dalam KBBI.

kbbi.kemdikbud.go.id

Hoax = berita bohong.

Lalu, bagaimana caranya agar tidak terjerumus hoax?


Sabar! Jangan buru-buru sebar!

Eitttsss! Sabar dulu. Tahan dulu. Jangan karena isinya sejalan dengan persepsi dan opini kita, lalu kita meyakininya sebagai kebenaran. Ingat: Saring sebelum sharing. Saring dulu apa yang mau kita bagikan. Jangan sampai kita menyambung rantai per-hoax-an itu.

Jadi kudu gimana dulu?


Cek dan ricek berita yang didapatkan

Hati-hati dengan judul provokatif

Biasanya berita hoax mengandung judul sensasional yang memancing minat pembaca. Judul-judul heboh sudah menjamur yah? Kadang isinya benar, kadang isinya clickbait. Jadi, kita sebaiknya tidak mudah terpancing dan tidak mudah percaya. Apalagi yang suka baca judulnya saja, janganlah mudah menyimpulkan.


Cermati sumber berita


Mengetahui sumber berita ini penting, apakah berita berasal dari sumber terpercaya atau bukan. Lihat juga situsnya apakah situs abal-abal atau media mainstream seperti surat kabar (baik cetak maupun elektronik). 


Media mainstream tidak dijamin 100% bebas hoax


Parahnya, media mainstream tidak dijamin 100% bebas hoax. Tahu media mainstream yang biasa nongol di laman pertama google? Terus, pernah baca berita yang isinya ternyata hanya bersumber dari akun-akun media sosial tanpa mengadakan wawancara? Akun media sosial yang dijadikan sumber itu bukanlah akun orang yang bersangkutan pula. 


Contoh beritaya berjudul: 'Miris, Kuliah Jurusan Fisika Nuklir di Jerman, Pria Ini Malah Menjadi Driver Ojol'. Berita itu menimbulkan tanggapan setidaknya bagi diri saya: Pertama, ada yang salah dengan menjadi drivel ojol, judulnya pakai kata 'miris' segala biar heboh ya? Kedua, informasi itu ternyata dari medsos curhatan penumpangnya. Bukan wawancara dengan siapapun, dengan penumpang, dan -yang paling penting- dengan driver itu. Bisa jadi driver itu tidak serius (baca: boong)? Hm.


Perhatikan juga apakah media online itu mempunyai kontributor atau tidak, karena faktanya, Tidak semua berita dari situs berita dibuat oleh jurnalis dan editor. Walau ada proses audit, situs yang ditulis para kontributor biasanya mengejar klik, lengkap dengan judul hebohnya. Entah siapa yang melakukan audit, manusia apa sistem pemrograman.


Di antara pembaca mungkin juga sudah pernah mendengar pelesetan kata dari nama media seperti *****tipu dan **oon. Hal tersebut terjadi karena media itu diduga tidak memberikan informasi yang netral dan tidak bebas dari keperpihakan kepada penguasa yang berhubungan dengan politik. Perilaku tidak netral dan keberpihakan sudah menyalahi prinsip jurnalisme.


Bandingkan dengan berbagai sumber


Perhatikan fakta dan data. Bedakan fakta dengan opini. Fakta adalah kesaksian tanpa bukti. Sedangkan opini adalah pendapat yang cenderung bersifat subjektif. Bandingkan dengan sumber-sumber lain agar mendapatkan gambaran yang lebih utuh. Di tahun politik ini, sebaiknya kita berhati-hati dengan informasi yang berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. 


Mengerti bahwa foto dan video belum tentu asli


Pada zaman yang canggih ini, foto dan video juga bisa dimanipulasi. Jadi, lagi-lagi kita diharapkan agar jadi pribadi yang tidak mudah percaya berita yang belum jelas asal-usulnya. Kalau mahu tahu alias kepo sangat, kita bisa menggunakan fitur Google Images untuk mencari gambar serupa dan membandingkannya. Kita harus jeli. Video juga tak terhindar dari editan, apalagi dengan keberadaan teknologi lipsinc, perhatikan betul gerak-gerik mulut orang yang ada di dalam video dengan kata-kata yang dikeluarkannya.


Konfirmasi langsung dari sumber yang bersangkutan


Paling baik adalah mendapatkan informasi secara langsung dari orang yang bersangkutan, dengan melakukan tabayun/ konfirmasi (atau dari melihat video atau rilis dari situs resminya).


Ikut forum diskusi anti hoax


Dengan mengikuti forum-forum anti hoax, kita bisa bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau tidak.

Memeriksa di STOPHOAX.ID


Kementerian Komunikasi dan Informatika RI sudah meluncurkan situs stophoax.id yang bisa kita gunakan untuk memeriksa apakah suatu berita itu hoax atau tidak dengan memasukkan kata kuncinya. Canggih yah?



Hentikan Hoax

Saatnya kita putuskan informasi hoax itu. Ingat, tombol report dibuat bukan tidak ada gunanya.


Di Facebook ada fitur Report Status. Di twitter ada Report Tweet. Di instagram ada fitur report juga. Di google ada fitur feedback.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI juga melayani pengaduan konten negatif dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id

Kita harus hati-hati dalam mengunyah informasi.

Jangan sampai kita menjadi penyambung hoax ya ^^

Kalau twitter bersih-bersih penggunanya, kita juga bisa bersih-bersih informasi di dalam otak kita dengan tidak mengindahi informasi hoax.

Referensi:
https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media (diakses pada 13 Februari 2019)

kinibisa.com/artikel/detail/jurnalistik/subdetai/dasar-dasar-jurnalistik/read/9-elemen-jurnalisme (diakses pada 13 Februari 2019)

18 comments:

  1. oh di website kemendikbud tuh ada hoax toh, wkwk. makasih mba sharingnya, saya jadi tau skrg. kalo nemu berita yang mencurigakan bisa di cek disini yes. sip~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, maksudnya gimana Mbak? Lha kok jadi ambigu yah? 😶

      Delete
  2. Saat ini hoaks benar-benar menjadi dagangan yang bisa digoreng tanpa bukti kebenaran

    ReplyDelete
  3. Setuju banget nih, saring sebelum sharing.
    Kalau bukan kita semua yang masih sadar ini, siapa lagi yang akan memutus mata rantai penyebaran hoaks? Nunggu penyebar hoaks-nya sadar dan insaf? Kelamaan, keburu viral beritanya, hehe.
    Makasih infonya mbak Nad.

    ReplyDelete
  4. hoax memang bikin pusing ya. parahnya banyak pihak yg sengaja meproduksinya demi kepentingan individu/kelompok. makin pusing deh

    ReplyDelete
  5. Intinya, berhati-hati sajalah. Apalagi, di saat seperti sekarang ini.

    ReplyDelete
  6. Kemenkominfo sudah mulai berbenah nih, memang perlu banget tuh situs anti hoax jadi langsung tau beritanya bener apa gak

    ReplyDelete
  7. Betul mb...yang penting tu saring sebelum sharing...suka gemes yg langsung share berita tanpa dicek kebenarannya...tfs mb...

    ReplyDelete
  8. Saya baru tahu tentang stophoax.id ini loh. Hehe, kebetulan kapan hari ikut nanggapi hastag politik, tapi bukan ke arah dukung tapi ke konfirmasi bahwa berita tersebut hoaks. Biar gak suspend, ngetwit dijeda beberapa menit. Terus reply dan RT twit teman2 yg sesama berantas hoaks

    ReplyDelete
  9. Setuju, saya dukung stop hoaks.
    Hoaks kadang beneran bikin hoek-hoek, hehe...

    ReplyDelete
  10. Setuju kalau ada berita apapun kita jgn lgsg percaya kudu cek dan ricek dulu. Jgn smpi kita percaya hoax yg dpt memecah belah kesatuan dan persatuan NKRI.

    ReplyDelete
  11. Makasih infonya mb, jadi tahu nih..kalau ada berita sliwar-sliwer yang masih diragukan..langsung cek ah ke web STOPHOAX..

    ReplyDelete
  12. bener-bener harus bisa memahami dan teliti saat menerima sbuah berita ya. karena saat ini memang banyak sekali hoaks bertebaran...

    ReplyDelete
  13. Parahh sekarang. Hoax dimana², terutama di WA grup. Asal share, asal teruskan, tanpa cek ricek kebenarannya, ya mbak. Sedih...

    ReplyDelete
  14. Wow..tks tipsnya ya Mbak. Skr kudu mesti hati2 dg segala info😊

    ReplyDelete
  15. Menarik nih, infonya. Peningkatan hoax emang terjadi pada suhu politik yg sekarang, ya. Kudu pintar 'saring sebelum sharing'.

    ReplyDelete
  16. can't agree more, mbak! Kita sebagai netijen cerdas emang harus bsa saring info yang terpampang di media sosial. Jangan buru buru tersulut, percaya bahkan sampai re-share segala. MAsalah pilihan politik kalau menurut aku, biar aku dan Allah saja yang tahu, nggak perlu lah diumbar umbar ke media sosial.

    ReplyDelete
  17. kalau dalam Islam, ada fiqihnya ketika kita ingin menyampaikan informasi. harus tahu dulu sumbernya. valid atau tidak. baru deh dishare.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)