Waktu Bersama Keluarga

Kebanyakan kita membangun keluarga berbekal pengetahuan, pengalaman, dan kebiasaan yang kita peroleh dari orangtua kita. Dalam konseling keluarga, tidak jarang orangtua meng-claim bahwa berkat pendidikan di keluarga merekalah kini mereka menjadi orang sukses. Oleh karena itu mereka bersikukuh untuk melestarikannya. Padahal, zaman sudah berubah. Kemajuan teknologi memang sulit diikuti oleh orangtua-orangtua yang sudah merasa mapan. Mereka sering lupa, bahwa tidak hanya sarana teknologi yang berubah, tatanan masyarakat pun, terutama keluarga, juga ikut berubah. (Prof. Dr. Soetarlinah Sukadji, psikolog)

Paragraf di atas dikutip dari Sambutan di buku Psikologi Keluarga yang ditulis oleh gabungan dosen dari 8 universitas dan ranah ilmu. Sebagian besar penulis berlatar belakang psikologi. Sisanya ada yang berasal dari antropologi, sosiologi, komunikasi, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan penulis lepas. Buku ini kemudian disunting oleh Eko dan Lina yang juga terlibat menulis.

Kami sepakat bahwa keluarga adalah tiang negara. Dengan demikian, jika keluarga goyah, maka tinggal menunggu waktu negara tumbang. Mungkin pembaca menganggap pernyataan tadi berlebihan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa banyak hal di dunia ini terjadi karena keluarga (perebutan tahta kerajaan, tumbangnya perusahaan besar, dan lain-lain). Kondisi inilah yang kemudian menjadi dasar kepedulian pada keluarga Indonesia dan tentunya menjadi masukan ilmiah untuk kajian keluarga. (Eko dan Lina, psikolog)

Pernikahan
Dasar pernikahan adalah cinta yang muncul dalam wujud kesetiaan, bukan pada kesenangan. Jika orang hanya mengembangkan cinta nafsu dan cinta egois, maka cinta tidak akan bertahan lama dan pada waktunya kemudian hanya akan mendatangkan kekecewaan dan penderitaan.

Cinta adalah proses memberi dan menerima (take and give) dan tidak bertepuk sebelah tangan. Kehidupan pasangan dalam pernikahan tidak hanya mengandalkan rasa cinta, namun membutuhkan arah yang jelas agar langkah mereka selaras dan pasti. Oleh karena itu, kehidupan pasangan dalam keluarga membutuhkan visi dan misi.

Jika mau menikah, pikirkanlah konsep keluarga yang ingin dibentuk terlebih dahulu sebelum langsung sibuk dengan konsep pesta pernikahan. Konsep keluarga bisa berhubungan dengan pembagian peran dan tugas di dalam rumah tangga (baik sebagai suami-istri maupun ayah-ibu) bahkan hingga tempat tinggal.

Sebaiknya pasangan tidak lagi bersikap "bagaimana nanti saja" dalam menjalankan roda keluarga, melainkan mulai menata alur pembagian peran yang disepakati bersama.

Peran orangtua
Masing-masing memiliki peran dalam keluarga sehingga terbentuklah karakter keluarga dan anak. Para ibu berkonsentrasi pada kewajiban menjaga rumah dan membesarkan anak (Coontz, 2005 dalam Zinn, Eitzen dan Wells, 2009). Padahal, dalam perubahan sosial saat ini, ibu juga melakukan aktivitas nontradisional (bekerja di luar rumah). Secara tradisional, peran ayah atau suami adalah menyediakan kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, dan papan bagi istrinya (Cott, 1979 dalam Zin, Eitzen dan Wells, 2009; Silverstein dan Auerback, 2005). Akan tetapi, saat ini ketika istri/ibu bekerja, maka keterlibatan suami dalam pengasuhan juga lebih terasa (Demo, 1991 dalam Papalia dan Olds, 1995).

-----Katakan tidak pada kekerasan dan ciptakan kebahagiaan bersama-----

Melihat pada dunia anak, sesungguhnya adalah melihat pada suatu kepolosan, keriangan, dan kebebasan yang teramat menggembirakan. Dunia anak seharusnya tidak bernuansa kemuraman, kesedihan, dan penderitaan yang mematahkan jiwa riang mereka. Mungkin sudah tidak asing lagi berbagai pemberitaan yang mengabarkan tentang terpuruknya nasib seorang anak yang mengalami berbagai tindak kekerasan dari orang-orang yang seharusnya memberikan perlindungan kepadanya, entah itu orangtua, guru, maupun orang lain di sekitarnya. Padahal jika dilihat dari tata nilai dan spiritualitas yang bisa kita anut, anak dipercaya sebagai amanat dari Tuhan. Artinya, anak adalah titipan yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan segala perlakuan kita terhadapnya. Namun demikian, amanah itu kemudian dijabarkan dalam bentuk rasa memiliki yang absolut sehingga anak diperlakukan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua/orang dewasa lain, bukan diperlakukan sesuai apa yang dibutuhkan oleh anak.

Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang pandai dan berakhlak. Akan tetapi, banyak orangtua tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orangtuanya. Ironisnya, ada masyarakat yang memang mempunyai paradigma bahwa kekerasan terhadap anak tidak lebih dari tindakan berlebihan orangtua dalam menjalankan "hak" untuk memberikan proses pembelajaran kedisiplinan. Namun, perlu disadari bahwa penegakan disiplin yang berlebihan, baik kekerasan fisik maupun mental, akan berpengaruh terhadap psikologi anak. Takutnya yang orangtua lakukan malah menyakiti perasaan si anak dan menghambat perkembangan jiwa anak ke arah yang positif.

Menurut Hurlock (1999) interaksi-interaksi di dalam keluarga akan berlangsung secara tidak wajar jika sikap orangtua dan anak dipersepsikan tidak baik oleh anak. Hubungan orangtua dan anak sangat dipengaruhi oleh persepsi anak terhadap pengasuhan yang dialaminya, serta interpretasinya terhadap motivasi dan hukuman dari orangtua.

Sulit bagi seorang anak untuk merasakan cinta jika orangtua lebih sering marah dibandingkan tersenyum kepadanya. Seseorang yang bahagia akan lebih sering tersenyum dan mampu mengandalikan perasaan negatif seperti marah, benci, dendam.

Di sela-sela kontrol "jarak jauh" dalam keterbatasan ruang dan waktu, manfaatkan dan sediakan waktu berkumpul dengan melakukan hal-hal yang berkualitas. Harapannya dapat terjalin keakraban dan semakin saling memahami satu sama lain. Ciptakan kebahagiaan bersama.

Ketika anak melakukan kesalahan, ketahui terlebih dahulu apa penyebab dari perilakunya, barulah kemudian mengambil tindakan yang memang bisa bermanfaat untuk mencegah si anak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. Belajar berkomunikasi yang baik yang sesuai dengan penerimaan.

Referensi: Silalahi, Karlinawati, dkk. 2010. Psikologi Keluarga. Jakarta: Rajawali Pers.

Psikologi Keluarga
Worth to read!

2 comments:

  1. iyaa, interaksi penting nih, adalagi komunikasi dua arah juga perlu. hehe. salam kenal, ghina

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah ya, Komunikasi dua arah. Terima kasih mbak Ghin ^^

      Delete