Peduli Kucing

12 Januari 2019 adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah saya memandikan kucing. Seekor kucing entah dari mana datang ke rumah. Bulunya kusut dan tampak habis kehujanan. Kucing itu terlihat kotor.

Entah dari mana pula, terbersit keinginan untuk memandikan kucing asing itu. Mungkin jiwa impulsif sedang bergejolak? Jadilah saya memandikan kucing itu bersama Farras -yang akhirnya membawa kucing itu ke rumah 'bengkel'nya.

Hari itu kami memandikan kucing yang sedang tidak bersih itu. Apa daya, saya dan keluarga bukanlah orang termasuk suka kucing dalam artian sengaja memiliki kucing, jadi tidak ada sampo kucing di rumah. Kami memandikan dengan sampo manusia.

Setelah mengeringkan dengan handuk -karena juga tidak punya pengering rambut (hair dryer), kucing yang sekarang tidak begitu menggigil itu pun diberikan bedak dan disisir bulunya.

Bulunya kini tampak lebih cantik. Tadi sempat dapat kutunya satu ekor, dan agaknya kucing itu tidak memiliki kutu lagi -semoga. Kami juga memotong kukunya dan membersihkan kotoran telinganya dengan cotton bud.

Ketika saya mencoba mencari buku 'ensiklopedia kucing' di iPusnas, saya menemukan buku Berbagi Kisah Terindah Bersama "Si Meong". Buku itu berisi 38 kisah nyata penyelamatan kucing. Dituliskan juga "Seluruh royalti atas penjualan buku tersebut didonasikan kepada Yayasan Peduli Kucing untuk membantu kucing-kucing yang kurang beruntung."

Saya menemukan sebuah situs dengan logo yang sama dengan logo buku itu, yaitu www.pedulikucing.org. Tampilan situs itu seperti tampilan tema sederhana dari blogger, tidak terkesan seperti situs-situs profesional. Terlihat pula di sana postingan terakhir pada tahun 2017, dan tidak ada semacam pengumuman yang mengatakan bahwa situs akan pindah ke alamat baru.

Agak lucu juga memang ketika saya merasa di era digital ini, apa-apa dilihat dulu di internet. Apakah sebuah lembaga -atau apa pun itu namanya- mempunyai situs resmi, atau setidaknya akun media sosial. Namun ternyata yayasan ini masih aktif di akun instagramnya: pedulikucing. (www.instagram.com/pedulikucing)

Mengenai buku, saya tidak menemukan tanggal dan/atau tahun terbit pada buku tersebut. Namun pada sampul buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu ditemukan sepenggal ulasan dari tokoh terkenal seperti Henny Purwonegoro, Nina Tamam, Cici Panda, dll.

Terlepas dari keeksisan Yayasan Peduli Kucing, saya turut senang jika ada yang bergerak untuk membantu kucing-kucing terlantar. Barangkali nanti ada yang membuat tempat besar untuk menampung kucing-kucing, kelak bisa juga dijadikan pusat penelitian kucing, atau wisata edukasi mengenal kucing. Barangkali saya nanti? Atau kita? Menarique.



"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day12"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun