Orangtua Tidak Memperbolehkan Kami Jadi Maba Lagi

Seorang paman gelisah akan anaknya yang ingin mengulang menjadi mahasiswa baru (maba) lagi; pindah jurusan. Beliau meminta saya agar memberi saran kepada adik sepupu saya itu supaya tidak usah mengulang (menjadi maba).

Saya? Saya hanya memberikan jawaban, "Tapi Della juga ngulang (tes seleksi penerimaan mahasiswa baru), Om"

"Tapi kan ndak Uni (panggilan beliau kepada saya, untuk memberi contoh pada adik-adik) ambil"

Saya hanya membalas dengan senyum.

Paman itu ingin anaknya untuk menjadi dokter -dokter apapun itu, dan melanjutkan kuliahnya di jurusan tersebut. Sedangkan adik saya ingin kuliah di bidang komputer, di sebuah perguruan tinggi di bagian Barat pulau Jawa. Ia masih memperjuangkan pilihan pertamanya itu.

Oke, mungkin bukan sekadar keinginan saja. Mari saya berikan alasan lebih. Adik itu sering ikut lomba komputer, matematika, hingga tingkat nasional, membawanya menjajaki pulau seberang. Ia juga terlihat sering otak-atik koding, sampai membuat game sederhana sendiri. Lalu apakah ini belum menjelaskan minat?

Kebetulan keluarga itu (keluarga adik sepupu saya, sempitnya: orangtuanya) bisa dikatakan keluarga menengah ke atas. Uang kuliah bukan menjadi alasan. Alasannya adalah di inginnya keluarga agar adik itu menjadi dokter.

Sayup-sayup saya mendengar para orangtua bercakap-cakap perkara itu. Saya hanya mendengar dari jauh. Beberapa orangtua terasa begitu otoriter. Terasa tidak mau mendengar pendapat, suka memotong pembicaraan. Merasa diri mereka paling benar hanya karena sudah melewati masa muda.

Anak memang kurang pengalaman, barangkali juga ilmu pengetahuan soal kehidupan dibandingkan dengan orangtua. Namun beberapa orangtua juga tidak terbuka dengan perkembangan zaman.

Kenapa masyarakat masih menganggap dokter begitu prestige; bergengsi; memiliki reputasi? Ya, saya juga tidak akan menjadi kubu yang menolak anggapan itu, -tidak terlepas dari polemik BPJS dan rezeki yang sudah diatur oleh-Nya. Tetapi saya masih terheran-heran. Kenapa menginginkan bahkan terkesan mengharuskan saat ada pilihan lain yang lebih diminati?

Oh saya hanya bisa bertanya kenapa pada sikap para orangtua yang kurang demokratis. Kenapa tidak mengarahkan, memberikan penjelasan "Kalau pilih ini maka akan begini, kalau pilih itu maka akan begitu, nah kamu pilih yang mana?" Bukannya memakaikan kacamata kuda.

Tanpa ingin menjadi anak yang tak tahu diri, pergi begitu saja setelah dirawat dan dibesarkan. Tidak. Tidak begitu juga.

Hanya saja, kenapa ya?

Saya kehilangan kata-kata selain "kenapa".

Klik untuk membaca sajak Kahlil Gibran


Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentang dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.


Kahlil Gibran - Anak dan Keturunan

Semoga orangtua dan anak dapat lebih saling memahami. Dapat saling melihat dari sudut pandang masing-masing.

Saya mempunyai beberapa nasihat untuk yang-ingin-jadi-maba-lagi

Pertama, ambil setiap kesempatan. Ikut aja tes lagi. Apapun hasilnya di kemudian hari (tidak lulus/ lulus tapi tidak diambil/ lulus dan diambil), setidaknya sudah puas telah mencoba berjuang dalam tes penerimaan maba itu.

Kedua, periksa niat, pertanyakan kenapa.  Apakah niat sudah benar-benar lurus? Atau bengkok (contohnya karena gengsi)? Pertanyakan lagi, kenapa. Apakah benar-benar suka -sama jurusan tersebut? Atau karena dirasa suka. Maka, riset lagi apa yang dipelajari di jurusan itu, bagaimana sistem belajarnya, dsb.

Ketiga, usahakan tidak mengabaikan jurusan yang kini tengah dijalani (apalagi dengan keadaan orangtua yang belum memberi restu menjadi maba lagi), kita tidak tahu apa hasilnya (tes itu juga restu) nanti. Maksimalkan.



"Tulisan ini diikutserakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day6"

35 comments:

  1. Wow, iyya kenapa ya, dulu banyak orang tua yang ingin anaknya jadi dokter? Mungkin pingin anaknya bisa menolong orang lain, gitu ya? Alhamdulillah terimakasih tipsnya mb, keren.

    ReplyDelete
  2. Tetapi, orangtua jaman sekarang sudah mulai memberikan banyak kebebasan untuk anak-anaknya dalam memutuskan sesuatu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak. Saya antara senang dan tidak membacanya, hehe.

      Sebetulnya agak rancu juga.

      Pertama, frasa "orangtua zaman sekarang". Orangtua bagaimana yang dikategorikan sebagai orangtua zaman sekarang? Apakah orangtua zaman dahulu itu adalah nenek-kakek zaman sekarang? Orangtua yang kami sebutkan di atas belum mempunyai cucu. Anaknya masih ada yang 3 tahun. Saya bingung soal pengkategorian ini -.-

      Kedua, soal kebebasan. Kalau yang dimaksud dengan kebebasan adalah tidak mengekang, tidak 100% otoriter, maka saya mendukung. Namun kalau teramat bebas juga rasanya enggak masuk ya :)

      Terakhir, saya mau memperjelas aja. Saya tidak menggeneralisir kok. Dalam artikel pun saya tulis "beberapa orangtua".

      Sekali lagi, terima kasih komentarnya mbak :)
      Bagaimanapun, saya memang belum pernah menjadi orangtua. Saya membuat artikel ini dari sudut pandang anak. Karena menurut saya, dalam ilmu parenting, membentuk keluarga yang baik, didapat dari peran orangtua dan anak. Agar kita sama-sama belajar di Universitas Kehidupan, dengan masalah dan solusi yang berbeda-beda satu sama lain saking beraneka ragamnya watak dan sifat manusia. Maaf komentar saya tidak terbendung panjangnya.

      Delete
  3. kalau saya pribadi sih jika sudah terjerumus dengan jurusan yang sekarang yaudah tetap pertahankan aja sampai lulus hehe. Dulu pas kuliah saya jg merasa salah jurusan, tapi bayarannya aja udah mahal, belum bayar kos dan biaya hidup. Kalo masih merengek ganti jurusan dan kembali jadi maba, mungkin saya enggak akan di kulihin sama orang tua, hehe. Jadi, bertahan aja hingga lulus, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bisa menerima dengan mudah, syukurlah ^^

      Saya juga pernah merasa salah jurusan, dan walau saya sempat ngulang tes lagi, saya juga enggak jadi menjadi maba kembali karena tidak diizinkan. Nah, saya kebetulan termasuk yang agak susah menerima pas awal-awal. Saya enggak mau gak enaknya yang saya rasakan terasa oleh adik saya itu. Meski barangkali ia lebih kuat.

      Pun saya sekarang sudah menerima kondisi, memperbaharui mimpi :)

      Namun, ada pula orang yang masih memperjuangkan mimpi lamanya, dan selama masih ada kesempatan, kenapa tidak dicoba. Memang masing-masing orang berbeda, Mbak. Ada banyak pertimbangan.

      Bicara soal ZAMAN DULU yang blablabla. Wah, zaman sudah berubah. Kini kita pakai sistem UKT. Soal bayar membayar juga enggak pakai uang pangkal lagi (bagi sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia).

      Kembali lagi berarti, semua punya pertimbangan. ^^

      Terima kasih komentarnya Mbak. Saya jadi memperluas sudut pandang.

      Delete
  4. Salah jurusan? Pernah juga saya alami. Mula-mula sih pengen berontak tapi kemudian saya berpikir kenapa tdk dijalani saja dulu. Alhamdulillah, meski tetap tidak suka, saya bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Seperti yang mbak Nita (gembulnita.blogspot.com) sampaikan di blog ini (Sebuah Catatan di Hari Libur):
      Dunia memang luas dan penuh kotak-kotak dengan kompleksitasnya. Terima kasih telah memberikan sudut pandang yang lain, Mbak.

      Delete
  5. Saya termasuk anak yang pembangkang orangtua, memaksakan masuk kuliah X padahal orangtua menyuruh kuliah Z, sekarang semua udah terlanjur baru dirasakan penyesalannya sekarang ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. "You are never too old to set another goal or to dream a new dream" -CS Lewis.

      Memperbaharui mimpi :)

      Delete
  6. Makasih infonya Mbak, saya orang tua dari tiga putra. Banyak faktor yang menjadi latar belakang orang tua untuk mengarahkan anaknya, tapi sayangnya sering alasan tersebut tidak dikomunikasikan ke anak begitu juga sebaliknya sehingga timbul salah paham. Intinya pada kurangnya komunikasi saya rasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saya setuju mbak, letaknya di komunikasi :)

      Delete
  7. Alhamdulillah saya punya orangtua yang demokratis. Sehingga anaknya dapat memilih, tapi kalau dihadapkan untuk memilih, biasanya saya akan menuruti nasihat orang tua, berkorban demi ortu, mudahan dengan restu ortu akan banyak jalan ke depannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ^^
      Dengan diberikan pengertian baik-baik, penerimaan anak juga akan lebih baik ya mbak?
      Terima kasih masukannya Mbak :)

      Delete
  8. kalau bisa ya memang orangtua mendukung minat dan bakat anak. Apapun jurusannya jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, suatu hari nanti akan memetik hasilnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ...dan orangtua harus memahami anaknya ya mbak?
      Terima kasih masukannya Mbak :)

      Delete
  9. Waw saya baru tahu puisi Kahlil tentang Anak dan Keturunan, bener banget ya, bagus banget puisinya, jadi salfok nih, tapi yah memang sebaiknya orang tua tidak terlalu memaksakan kehendak, namun Si anak pun juga harus belajar memahami keinginan orang tuanya. Intinya sama seperti yang dikatakan Mbak Heppy, komunikasi itu penting banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak salfok kok Mbak sebenernya, heheh, saya juga sebetulnya ingin menunjukkan puisi itu, tapi saya pikir-pikir, disembunyikan aja biar gak terlalu panjang :/
      Terima kasih komentarnya Mbak :)

      Delete
  10. saya juga heran mb
    padahal jelas-jelas minat anaknya ya
    kenapa masih diarahkan ke yang lain

    saya dan suami
    selama ini tidak pernah memaksakan ke anak
    tentang apa minat bakatnya

    karena anak adalah anak
    anak itu bukan kita
    anak itu unik
    punya skill masing-masing

    mmmm masih heran saya mb
    udah tahun 2019
    masih ada ortu begini ya? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya senang Mbak Inna dan suami tidak termasuk orangtua yang memaksakan keinginan. Semoga anaknya bisa menjadi pribadi yang berkarakter baik :)

      Delete
  11. Maksudnya menjadi maba, dalam artian pindah jurusan gitu, Mbak? Sah-sah aja sih, daripada enggak sreg dengan pilihannya. Orang tua memang agak susah ya, kadang daripada memaksakan diri pindah kuliah dan pindah jurusan lebih baik mengutarakan maksud hati pada orang tua. Coba pertimbangkan dulu pilihannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, pindah jurusan maksudnya Mbak :D
      Terima kasih Mbak :)

      Delete
  12. Mau jadi maba lagi boleh aja, asal semua dipertimbangkan secara matang. Misalnya pertimbangan dari segi bakat dan minat anak, serta kalkulasi waktu (usia anak khawatir terbuang percuma jika menjalani hal yang tidak diminati) dan kemampuan pembiayaan orang tua.

    Sebagai orang tua seharusnya dapat membuka komunikasi dengan anak, dan memberikan gambaran berbagai sudut pandang dari masing-masing pihak, agar tercapai kesepakatan bagaimana baiknya.

    ReplyDelete
  13. Dilema anak ya, Mbak. saat anak ingin kuliah di jurusan yang ia sukai tapi tuntutan orang tua berbeda dengan keinginan ...

    ReplyDelete
  14. Aku yang malah keukeuh (tapi dalam diam) untuk bisa kuliah kedokteran. Qodarullah ekonomi keluarga saat itu ga memungkinkan ak buat di kedokteran, alhamdulillah semua baik-baik saja karena orang tua yang support apapun keinginan anak dapat menjadi contoh untuk orang tua yang masih belum bisa demokratis seperti ini

    ReplyDelete
  15. Orang tua juga menginginkan saya jadi dokter, saya juga pengen sih tapi mengingat biaya kuliahnya yang mahal saya mundur, masuk ke sekolah kedinasan yang gratis saja hehehe

    ReplyDelete
  16. Menjadi dokter di zaman dulu menjadi profesi favorit yang dianggap keren dan menghasilkan banyak duit. Jadi sebagian orangtuapun masih berpikiran zaman sekarang masih seperti itu. Padahal saat ini banyak profesi lain yang gak kalah bagusnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi saya, setiap profesi (yang legal dari segi hukum entah itu negara atau agama) sama baiknya mbak. Tinggal pelaksanaannya aja apakah dari hati atau tidak :)

      Delete
  17. Sedih banget kalau ada orang tua yang memaksakan kehendaknya, kasihan anaknya, gimana dia menjalaninya, pasti berat banget kalau harus masuk karena terpaksa...apakah benar seperti itu demi kebaikan anak atau sekadar ego dan maunya orang tua?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, mestinya dipikirkan dulu ya mbak? Apakah frasa "demi kebaikan" itu murni demi kebaikan anak atau diselubungi ego ortu?

      Delete
  18. Wah, jadi flash back nih. Jujurly, saya pribadi malah terserah di jurusan yg benar. Sempat kepikiran pengen pindah jurusan gitu, tapi pastinya nanti bakal repot dan UUD (ujung2nya duit) ke ortu. Alhasil, jalanin aja sampe beres hehee. Tapi mba, gak masalah sih beresin dulu sampai lulus kan nanti bisa kuliah lagi s1 nya. Belajar kan enggak mengenal kata terlambat hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak segampang itu kuliah s1 lagi mbak. Setidaknya di Indonesia pakai syarat umur.

      Delete
  19. Cita- cita sy dulu pgn jadi dokter, tp krn kondisi keuangan ortu yg tidk memungkinkan,,akhirnya ortu memilihkan saya ke jurusan pendidikan, pdhl sy sm sekali tidk tertarik..tapi alhamdulillah sekarang sy menikmatinya😊

    ReplyDelete
  20. Cita- cita sy dulu pgn jadi dokter, tp krn kondisi keuangan ortu yg tidk memungkinkan,,akhirnya ortu memilihkan saya ke jurusan pendidikan, pdhl sy sm sekali tidk tertarik..tapi alhamdulillah sekarang sy menikmatinya😊

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)