Mengenang Nukman Luthfie (Konten Positif dan Tahun Politik)

Sekilas tentang Nukman Luthfie

Nukman Luthfie lahir di Semarang, 24 September 1964 - meninggal di Yogyakarta, 12 Januari 2019 pada umur 54 tahun (kemudian dimakamkan pada 13 Januari 2019 di Kendal, Jawa Tengah, Indonesia).

Beliau adalah seorang pengusaha, konsultan, dan pembicara di bidang pemasaran digital. Atas kiprah dan prestasinya di dunia pemasaran digital dan media sosial (medsos), maka ia dikenal sebagai Bapak Medsos Indonesia.

Nukman mengecap bangku pendidikan menengahnya di SMA 3 Semarang pada 1981, dan melanjutkan ke Teknik Nuklir Universitas Gajah Mada pada tahun 1983.

Sebelumnya ia adalah seorang jurnalis di Bisnis Indonesia dan Majalah SWA. Ia mulai berkiprah di bidang internet sejak menjadi Content Manager PT Agranet Multicitra Siberkom (AGRAKOM) dan kemudian menjabat Internet Services Director.

Agrakom inilah yang melahirkan situs berita Detik.com pada tahun 1998. Nukman kemudian menjadi Direktur Marketing Detik.com pada 1999. Pada tahun 2003, ia mundur dari Detik.com dan mendirikan Virtual Consulting yang bergerak di bidang konsultan digital marketing.

Nukman melahirkan beberapa bisnis digital, termasuk PortalHR.com di bidang sumber daya manusia, dan Jualio.com—sebuah platform e-commerce berbasis media sosial.

Kenang-kenangan

Berpulangnya Nukman Luthfie menyisakan rasa kehilangan bagi orang-orang. "Di tahun politik begini, saya menunggu postingan almarhum. Makanya kaget banget waktu tahu berita ini," ujar salah seorang anggota di grup WA saya.

Nukman memang aktif menebar konten positif di media sosialnya. Beliau juga mengajak kita untuk bersama-sama menebarkan konten positif. Dalam sebuah video, beliau mengatakan:

"Bela negara itu definisinya luas sekali. Intinya, jangan sampai kita membuat media sosial kita menjadi tempat menjelek-jelekkan negara, atau kemudian merusak negara. Makanya cara bela negara yang paling asik di era digital adalah apa? Banjiri media sosial kita dengan konten positif.

Apa itu konten positif? Apa aja terserah. Kita bisa membuat lukisan? Itu yang kita pamerkan. Kalau kita kemudian sibuk dengan membuat konten positif, yang dulunya kita anggap biasa-biasa aja, hidup kita akan lebih bermanfaat buat negara.

Bela negara adalah dengan apa? Dengan membanjiri media sosial kita dengan konten positif."

Sumber:
video Sosial Media Sebagai Sarana Bela Negara Oleh Nukman Lutfie dari channel youtube IndonesiaBaikID
(https://www.youtube.com/watch?v=KTC-K9-j7Fs)

Nah, pada tahun politik ini, media juga sesak dengan postingan berbau politik, yang juga menimbulkan adu argumen. Dalam sebuah kesempatan, mpok Wawa (wawaraji.com) juga menyampaikan pesan agar kita fokus pada konten positif. Olah kalimat menjadi konten positif.

Balas konten negatif dengan membanjiri konten positif. Gak usah tanggapi dengan panas dan saling menghujat satu sama lain. Biarkan konten negatif tenggelam.

Cek dan ricek pula apakah suatu berita itu benar adanya atau hanya hoax semata.

Kita memang punya hak atas media sosial yang kita punya. Tapi kita juga punya kewajiban dan tanggung jawab. Semoga kita tidak menjadi manusia yang mementingkan egonya semata.

Nukman Luthfie "mewariskan" ilmu-ilmu dalam jejak digitalnya. Bagaimana dengan kita nantinya?



"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day13"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun