Mengapa Angka Literasi Indonesia Rendah?

Infrografik-infografik mengenai angka literasi Indonesia banyak berseliweran di lini masa saya akhir-akhir ini.

Angka infografik itu bersumber dari riset Central Connectitut State University (CCSU) dengan judul World's Most Literate Nations (WMLN) yang meranking 61 negara. Indonesia berada di urutan 60, setingkat di atas Botswana yang berada di ranking satu dari bawah. 

Hal demikian menggelitik rasa penasaran, kok bisa?

Memangnya apa indikator yang dipakai untuk menilai sebuah negara memiliki tingkat literasi tinggi atau rendah?

Bermodal koneksi internet, saya pun mencoba mencari informasi mengenai hal ini.

www.ccsu.edu/wmln/rank.html diakses 9 Januari 2019

Terlihat jelas ada beberapa indikator yang digunakan untuk menilai literasi suatu negara: Computers, education system - inputs, libraries, newspapers, education - test scores. Oh ya, untuk daftar lengkapnya bisa dilihat di www.ccsu.edu/wmln/rank.html.

Terdapat peran yang lain demi mendorong angka literasi Indonesia: kecakapan pengoperasian komputer, sistem pendidikan, pengelolaan berita, dan perpustakaan.

Demikian juga disampaikan oleh World Economic Forum, bahwa ada 6 literasi dasar yang harus dikuasai orang dewasa, yaitu: baca tulis; literasi numerasi; literasi financial; literasi sains; literasi budaya dan kewarganegaraan; serta literasi teknologi informasi dan komunikasi atau digital.

Artinya, ternyata bukan hanya sekadar baca baca baca baca baca baca baca baca buku saja yang dinilai. Walaupun, saya sangat setuju bahwa membaca buku itu bagus sekali, dan saya amat sepakat kalau membuka lembaran buku itu sama dengan membuka gerbang ilmu pengetahuan.

Saya percaya, di zaman serba gawai (gadget) ini, masih banyak yang suka membaca buku. Bahkan keberadaan teknologi informasi ini semakin memudahkan para pembaca. Meski feelnya berbeda dengan membaca buku fisik, kita sudah dapat dimudahkan dengan keberadaan kindle dengan ebook-ebook-nya, atau ebook lain dari perpustakaan digital.

Sistem, akses, serta sarana dan prasarana pendidikan dan perpustakaan yang baik sepertinya dapat meningkatkan angka literasi Indonesia. Namun hal yang terpenting adalah bagaimana kualitas warga negara itu sendiri yang diharapkan lebih banyak bercumbu dengan buku ketimbang berseteru di sosial media atau mudah terbawa arus berita hoax.

Lingkungan keluarga juga berpengaruh dalam mendukung hal ini karena kehidupan dan peradaban berawal dari keluarga.

Saya juga melayangkan harap, semoga para penulis yang telah mencurahkan pemikiran dan berbagi pengetahuan bisa mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.



"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day9"

3 comments:

  1. Nah peran keluarga itu sangat penting kak, kalo ortunya aja cuek sama anaknya dan gak mau mencontohkan untuk membaca atau bisa lah diarahkan. Jadi, anaknya juga fokus sama yang disukai. Soalnya murid saya begitu, tiap datang ke perpustakan ya kalo gak youtuban ya main game. Yang datang hanya untuk baca atu pinjam buku, hanya segelintir kalao dibandingkan jumlah siswa yang banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak ^^ teladan dari keluarga begitu penting ^^

      Delete
  2. buku memang kekal abadi. fungsinya tak tergantikan oleh dunia digital seperti saat ini. untuk perubahan besar kita mulai dari diri sendiri aja dulu. suka baca buku dan mereviewnya. siapa tahu menarik minat orang lain untuk suka baca buku juga. iya kan. salam kenal.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun