Hobi Berkebun dan Pemanfaatan Lahan

Orang bilang tanah kita tanah surga
Pokok kayu dan batu jadi tanaman
(Koes Plus)

Berbekal sedikit cerita nostalgia dari nenek-kakek serta orang-orang tua; foto-foto lama dengan filter jadul kameranya; buku-buku usang yang pernah saya baca; serta dokumentasi lainnya mengenai kehidupan di masa dahulu. Saya kerap membayangkan bagaimana rasanya hidup di masa lampau.

Teknologi yang belum cukup mumpuni. Kendaraan bermotor yang lalu lalang bisa dihitung dengan jari. Udara masih segar minim polusi. Alam hijau permai sungguhlah asri. Betapa lekatnya manusia dengan alam, dan betapa dekatnya manusia jaman dahulu dengan alam.

Alam memberikan kesegaran.
Alam memberikan ketenangan.
Alam memberikan segalanya.

Teringat suatu percakapan yang random dengan seorang teman pada suatu waktu selepas makan malam bersama. Kami mengobrol tentang impian di masa depan, ingin tinggal di mana pada masa yang akan datang.

Sebetulnya saya suka kota yang walaupun ruwet, kota ialah tempat yang dinamis, tempat yang baik untuk pengembangan diri, begitu pikir saya. Tetapi, kala itu saya memilih (menjawab pertanyaan teman) tinggal di countryside, di desa, yang permai. Alasan saya sederhana, agar saya bisa bercocok tanam, membuat kebun kecil-kecilan.

Sementara, teman saya itu lebih suka tinggal di kota, memilih hunian yang privat, karena dia relatif suka dengan solitariness, butuh waktu sendiri, individualisme. Mendengar jawabannya, saya pun mengangguk dan menanggapi oh iya ya, bagus juga tuh.

Ada yang membuat orang-orang menjadi dekat: kesamaan nasib, kesamaan sifat, dan/atau kesamaan tujuan (boleh ditambahkan dengan yang lain). Saya dan teman saya itu mempunyai beberapa kesamaan. Salah satunya adalah di dalam setiap hari, merasa butuh menyediakan waktu untuk dihabiskan dengan diri sendiri saja, ingin punya ruang privasi. Tidak begitu suka berbaur dengan remeh-temeh basa-basi gosip sana sini.

Kemudian, saya merasa, di kota atau di desa pun, saya bisa berkembang dan walau desa cenderung statis, lebih santai, kita bisa membuat kesibukan sendiri, kita bisa menggerakkan diri sendiri dengan kreativitas. Di kota atau di desa, sama saja, masyarakat yang suka gosip mah di mana-mana bisa ada.

Pada akhirnya, saya menyadari, di desa atau di kota pun saya bisa berkebun!

Daun mint. Dok. Pribadi

The glory of gardening: hands in dirt, heart with nature. 
To nurture a garden is to feed not just the body, but the soul,
-Alfred Austin

Kegiatan berkebun begitu saya sukai jauh sebelum saya mengenal Harvest Moon, FarmVille, Hay Day, atau bahkan Plant vs Zombie. See? Saya suka berkebun di dunia nyata dan dunia video game.

Dilatarbelakangi tempat tinggal yang berada di pinggiran kota (secara administratif termasuk wilayah kotamadya, tetapi keadaannya seperti pedesaan), sawah-sawah menjadi tetangga, serta asuhan nenek dan atuk yang sering membawa saya ke ladang. Saya begitu akrab dengan alam.

Di rumah saya tinggal pun ditanami bermacam-macam tanaman. Mulai dari bunga hias, tanaman obat keluarga (toga), tanaman dapur keluarga (tadaga), hingga pohon-pohon berbuah. Memanen hasil yang ditanam begitu menggembirakan. Ada rasa puas selain menyantap nikmatnya makanan.

Di SMA tempat saya bersekolah, selain belajar -dan menanam- toga di ekskul PMR (ada kebun khusus), ada juga mata pelajaran PBKL (Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal). Kami juga diajak ke pabrik cokelat di waktu itu. Bahkan sampai dibuatkan lagunya.

"... Menanam cokelat dengan se-ma-ngaat. Buahnya enak sungguh bermanfaat. Bisa dijadikan minuman le-zaat, juga makanan se-haat. Kulitnya bisa jadikan karya, dari terbuang menjadi berharga. Mari kita olah bersama-sama. Rasa senang gembiraa. 

"Ayo semua, mari kita bersama. Hati rasa bahagia saat panen tiba. Kita bangga dengan sekolah kita. Tetaplah jaya di ess sem a duwaaa.

"PBKL itu singkatan dari Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. PBKL sangat kita harapkan. Semoga Campoes Flamboyan yang terdepaaan."


Blackberry. Dok. Pribadi.

To plant a garden is to believe in tomorrow -Audrey Hepburn

Jika diingat lagi memang benar. Saya bahkan pernah beberapa kali membawa polybag ke kosan -yang notabene- berada di kota. Saya menempatkan seledri, daun bawang, dan bawang itu sendiri di dekat kamar. Saya juga pernah merawat Lidah Buaya (yang saya jadikan skincare alami) di kosan.

FYI, kosan tempat saya tinggal tidak serumah dengan ibu kos. Hanya leretan kamar-kamar dari penghuni dengan kesibukan masing-masing. Kamar saya berada di lantai dua, dan lagipula kosan tersebut tidak punya area tanah lagi karena semua disemen. Hanya bisa menanam di dalam pot. Teman kosan saya juga pernah membawa tanaman hias yang menurutnya unik untuk dirawat di kosan, pakis monyet.

Jadi teringat pula dengan pemanfaatan lahan di kota-kota/ negara-negara maju. Teringat pula beberapa tanaman bisa tumbuh di dalam ruangan.

Pada akhirnya, saya menjadi ingat dan sadar, bahwa di manapun saya (atau kita) menetap, jika kita suka dan ingin berkebun, kita bisa melaksanakan pemanfaatan lahan.

Disclaimer: Saya belum menguasai semua ilmu tentang tanaman. Saya juga belum hafal semua nama-nama tanam-tanaman. Saya hanya suka berkebun dan berada di tengah alam.

Berkebun adalah hobi.
Berkebun bisa menjadi sarana terapi.
Berkebun menghemat bahan makanan dapur pribadi.

No comments:

Post a Comment