Debat

Ada sebuah inisiatif untuk membuat #pesannukman sebagai bentuk mengenang Nukman Luthfie sekaligus membanjirkan lini masa dengan konten positif. #pesannukman adalah menyebarkan kembali pesan-pesan yang pernah disampaikan oleh Nukman Luthfie.

Saya baru mengetahui akun twitter beliau akhir tahun lalu (saat kembali lumayan aktif di twitter  pada bulan Oktober 2018 setelah Maret 2018), namun saya lupa bulan berapa. Saya tersesat ke akun twitter beliau. Kesan saya waktu itu, hanyalah: beliau ramah.

Kini saya pun terbersit untuk ngestalk akun twitter beliau. Berikut, akan saya coba untuk mencantumkan kembali pesan-pesan beliau, semoga berkah; membawa kebaikan untuk kita semua.

Namun kali ini, biarlah saya menspesifikkan topik, yaitu: debat. Apalagi sekarang sedang dalam tahun politik, dan beberapa hari lagi akan dilaksanakan debat politik pertama pasangan capres-cawapres Indonesia.

Sebuah sindiran | www.twitter.com/nukman

Tidak hanya di debat capres-cawapres, atau ILC, atau debat lain yang bisa kita saksikan di layar TV, terkadang di dalam keseharian pun kita bisa berdebat akan sesuatu, mengemukakan pendapat yang berbeda kepada orang lain yang ternyata juga tidak mudah meninggalkan pendapatnya. Kadang, nada tinggi pun dikeluarkan.

"Untuk debat di teve gak perlu pintar, yang penting suaranya keras dan bisa mengalahkan suara lawan bicara dan host. :)" Suatu sindiran yang nyes, Dok.

Debat gak harus ngotot | www.twitter.com/nukman

"Itu kebiasaan buruk. Kemarin di Indonesia Business Forum, narsum bisa kok berdebat tanpa saling motong pembicaraan dan tanpa ngotot." -@KelikMNugroho.

Saya jadi teringat, suatu hari saya pernah mengikuti sebuah karantina dalam seleksi suatu program kepemudaan. Salah satu rangkaian acara adalah debat. Namun, debat waktu itu memakai sistem no rules. Peserta berbicara semua, keras-keras, dan kacau.

Mungkin debat lain tidak sekacau debat no rules saya itu. Tetapi, apapun jenis debat, baik di forum resmi atau bukan, alangkah baiknya pendebat atau pemilik pendapat dapat saling mengutarakan dan mendengar dengan baik dan tidak usah bersiterang urat, tidak usah bernada tinggi. Sehingga bisa saling berpikir jernih dan menjaga sikap.

PS:
Hm, setelah dilihat lagi, pesan di atas bukan dari Nukman ya. Tapi melalui hadirnya pesan tersebut di lini masa akun twitter Nukman Luthfie, maka tak ada salahnya saya masukkan ke dalam artikel ini sebagai bahan pembelajaran.

Artikel ini tentu saja juga diperuntukkan bagi diri saya sendiri. Semoga membawa kebaikan pula bagi pembaca yang lain.

Perbedaan pendapat itu penting.
Tetapi pertentangan dan keterpecah belahan adalah sebuah malapetaka.
(Gus Dur dalam buku "Celoteh Gus Dur" 2017 hlm. 201)



"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day14"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)