Bukan Masalah Tong Sampah

Kalau sedang berada di kampung, saya suka jogging pagi. Sebetulnya kalau sedang enggak di kampung pun masih suka, hanya saja tidak sering, sementara saat di kampung halaman, joggingnya hampir dilakukan pada setiap hari.

Trek jogging yang dilalui adalah jalan aspal biasa. Tidak lebar, tapi cukup untuk dilewati dua mobil di jalur masing-masing. Tidak ada ada trotoar, dan jalanan pun tidak begitu ramai karena bukan berada di kawasan lalu lintas padat. 

Kiri-kanan sawah dan ladang luas terbentang. Bukit barisan tampak berwarna biru mengelilingi. Di antara bukit barisan itu ada Gunung Sago di arah Selatan (yang menjadi arah jogging saya); Gunung Marapi dan Singgalang tegak di arah Barat seperti gambar pemandangan yang sering dibikin sewaktu SD; Gunung Bongsu dengan puncaknya yang unik berada di arah Utara; dan Bukit Sitabur yang lebih dekat dengan pohon pinusnya yang tampak berwarna hijau berada di Timur, tempat matahari terbit.

Jalan beraspal itu bercat putih membentuk garis panjang di tengah, kadang garisnya putus-putus layaknya jalanan biasa. Saya lalui  jalan itu hingga jalan bergaris putih itu hilang garisnya di perbatasan wilayah administrasi kotamadya dan kabupaten. Begitu kontras bentuk jalan antara kedua wilayah itu. Selebihnya, tiada beda.

Jarak antara rumah yang sama-sama jarang. Sawah dan ladang masih luas terbentang, pemandangan pun sama. Rumput-rumput ilalang juga sama-sama tumbuh di tepi jalan, di antara sawah dan aspal jalanan. Ilalang yang lalai dibabat -biasanya oleh petani yang bekerja di sawah dekat jalan. Masih ada lagi yang sama: sampah di selipan ilalang.

Ada beberapa sampah plastik di selipan ilalang tepi jalan. Saya melihat sebuah gelas plastik bekas minuman kemasan jadi sudah rapuh dimakan cuaca. Walau terlihat rapuh dan lapuk, serta mudah disobek, plastik bukan macam zat yang gampang hancur terurai bersama tanah. Pinggiran jalan tersebut bukan pula tempat semestinya sampah bermuara.

Lantas, akar persoalan ini di mana? Dahulunya, saya suka memberi saran untuk menambah tempat sampah guna memerangi sikap membuang sampah sembarangan. Setelah saya pikir-pikir, cara ini bisa membantu, tapi sepertinya tidak di semua tempat. Di tempat wisata, boleh-boleh saja. Tetapi di jalanan dengan perumahan yang jarang serta kiri-kanan sawah dan ladang itu, apakah pemberian tong sampah menjadi solusi?

Kalau iya, berarti mesti ada musyawarah dulu dengan penetapan penanggungjawab yang membuang sampah, bisa lewat piket, bisa dengan mengupah orang. Namun, area tersebut juga bukan kawasan ramai. Barangkali sampah tersebut berasal dari orang lewat yang kurang bermoral. Pula sampah yang di sana tidak banyak, tapi ada.

Saya pernah membaca sebuah kalimat. Mohon maaf saya lupa siapa yang bikin. Kurang lebih begini: "Kepada orang-orang yang egois membuang sampahnya di jalan, kalau bepergian itu otaknya dibawa dong, jangan ditinggal di rumah." Terkesan frontal ya? Tapi benar juga sih.

Kembali lagi soal tong sampah. Apakah ini salah tidak adanya tong sampah? Kalau menurut saya sih tidak. Mari kita resapi kalimat bercetak miring yang berada di dalam tanda petik itu.



"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day15"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun