Banggakah Saya Menjadi Narablog?

Ada sebuah pertanyaan yang menghinggapi ruang pikir saya akhir-akhir ini:

"Momen spesial apa yang membuat kamu bangga menjadi seorang narablog?"

Pertanyaan itu membuat saya menghasilkan pertanyaan lain:

"Memangnya saya sudah menghasilkan apa sampai saya mendapatkan momen spesial dan membuat saya bangga?"

Saya mungkin boleh berkata: yang saya hasilkan bukanlah nol besar -atau nol kecil sekalipun.

Tulisan-tulisan di blog ini adalah yang saya hasilkan sebagai narablog. Tulisan-tulisan ini sudah memberikan hasil, entah itu sebagai pintu rezeki atau sekadar curahan pemikiran pemuas hati. Tulisan-tulisan ini adalah karya.

Para pembaca dapat memetik manfaatnya dari sana. Saya bisa menjadi manusia berguna dari tulisan-tulisan tersebut. Begitulah saya berpikir secara sederhana, amat sederhana.

Menulis alias membuat karya

Hingga suatu hari saya menemukan tulisan mbak Nurul (bukanbocahbiasa.com) yang berjudul Yeay, Aku Bangga Jadi Blogger di Era Digital! Mbak Nurul menceritakan bahwa beliau pernah menuliskan kisah inspirasi dari Ibu Sumirah, seorang tukang pijit yang punya panti asuhan. Tak disangka, tulisan tersebut menarik hati seseorang, dan ibu Sum pun diberangkatkan ke tanah suci untuk melaksanakan umroh.

"Berbagi kebahagiaan". Itulah kata-kata kuncinya. Mbak Nurul berhasil menjadi jembatan untuk kebahagiaan orang lain (yang pastinya memancarkan kebahagiaan pada diri sendiri pula). Ternyata dampak menulis bisa sebegitu besarnya. Ketika istilah "pintu rezeki" bukan hanya dimaksudkan untuk rezeki diri sendiri. Rupanya narablog bisa berperan seperti itu.

Membaca karya

Saya percaya ada banyak narablog lain seperti Mbak Nurul, yang tulisannya berdampak pula bagi orang lain. Keren juga kalau tulisan bisa menjadi senjata ampuh pemantik inspirasi dan motivasi bagi orang lain untuk bergerak dan membantu sesama.

Saya pribadi barangkali belum sampai ke tahap sampai bisa menjembatani atau memantik semangat orang lain untuk membantu sesamanya, -saya hanya menduga. Namun semoga tulisan-tulisan saya setidaknya bisa menghasilkan semangat ke pada orang lain untuk membantu dirinya sendiri.

Bersama harapan sederhana di atas, saya menaruh resolusi nan sederhana pula di tahun 2019 ini. Sesederhana terus menulis, sembari terus memperbaiki kualitas tulisan, pula kualitas diri saya sendiri dalam berpola pikir, bersuara, bertindak.

SEMANGAT

Lalu, momen spesial apa yang membuat saya bangga menjadi narablog? Saya lihat diri saya. Bonus-bonus yang saya dapatkan dan saya nikmati bersama nan terkasih, berkenalan dengan tokoh-tokoh penting, ilmu-ilmu yang saya bagi dalam diskusi. Semua membuat saya senang dan bersyukur. Namun ada perasaan khusus yang berbeda bahagianya ketika membaca tulisan mbak Nurul, -saya merasa ini sebuah prestasi. Walau pada dasarnya semua pencapaian itu membahagiakan, dan semua juga spesial.

Banggakah saya menjadi narablog? Iya, saya bangga ^^ karena, kenapa tidak?

3 comments:

  1. Jangan lelah berkarya untuk Indonesia ya, Kak. Menjadi narablog adalah wujud bakti yang bisa kita lakukan untuk negeri ini.

    ReplyDelete
  2. Hahaha sangat bangga dong, yaaa. Harus bangga :))

    ReplyDelete
  3. wajib bangggaaaa yess kak hehe, iya aku tersentuh jg baca tulisannya mbak nurul hehe, smg tetap menginspirasi jg yah kak :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun