Ragam Bahaso Minangkabau

Sebagai orang Minangkabau yang lahir dan tumbuh di ranah minang, pastilah saya sudah akrab dengan bahasa minangkabau. 

Di dalam bahasa minangkabau, terdapat beberapa perbedaan. Baik itu dari segi bahasa maupun dialek. Barangkali karena percampuran budaya yang dibawa oleh pendatang, saya belum begitu paham karena masih perlu banyak belajar ilmu sejarah. 

Juga terdapat banyak terjemahan dari satu kata ke bahasa minang. Contohnya: terjatuh. 

Ada beragam kata yang memiliki arti 'terjatuh' dalam bahasa minang: tasialia, tajilapak, tajilangkang, tataruang, tajungkang, tagurajai, tatungkuik, tatilantang, tasungkua.

Masing-masing dari sembilan kata tersebut mempunyai makna yang berbeda, membuat pemaknaan kata "terjatuh" menjadi lebih spesifik, tergantung "jatuh"nya seperti apa.

Untuk daerah saya sendiri, kata terjatuh atau tajatuah bisa disebut dengan balabuak. Atau dapat dibaca juga dengan balobuak, sesuai aksen orang Payakumbuh.

Perbedaan aksen dan logat itu tidak membuat saya dan teman-teman kesulitan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa minang. Walau kadang memang ditemukan satu dua kata yang berbeda arti atau membuat bingung, dan mesti dikonfirmasi lagi apa makna dari kata tersebut saat bercakap dengan teman dari asal daerah yang berbeda.

Tanggal 8 Januari 2019 ini, @infosumbar dengan akun twitternya https://twitter.com/infoSumbar berdiskusi dengan tema: kato minang lamo. Diskusi itu bermanfaat juga untuk melestarikan kosakata minangkabau di samping menambah perbendaharaan kata minangkabau itu pula.

Bahkan saya sendiri sebagai orang minangkabau tidak tahu semua arti kata dalam bahasa minangkabau, terlepas dari adanya ke-khas-an bahasa pada setiap daerah di minangkabau.

Dari akun @duobaleh, saya pun tahu arti santano yaitu 'seandainya'. Rasian artinya 'mimpi'. Terus terang selama ini saya tidak tahu apa arti dari kata-kata yang sering masuk ke dalam lirik lagu-lagu hits minangkabau itu. Sekarang saya sudah tahu.

Adapun kata favorit saya di daerah ini, saya tangkap melalui pembicaraan nenek saya dan para tetangga. Yaitu kata aroh, dengan pengucapan huruf 'r' yang dileburkan menjadi 'gh', sehingga dibaca 'aghoh.'

Artinya? Saya kurang tahu pasti. Pun masih belum bertanya apa arti kata itu. Saya hanya memahami artinya sepadan dengan menidakkan sesuatu. Contohnya: "lai banyak padi sawah taruko?" (kurang lebih artinya begini: hasil padi sawah taruko banyakkah?). Dijawab, "aroh, abih dek mancik" ('aroh', habis gegara tikus).



"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day8"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)