Antara Konmari dan Wish List Belanjaan

#BPN30DayChallenge2018 dengan tema 'barang yang dikoleksi di rumah' membawa saya kepada blog-blog yang menyebutkan metode Konmari ketika saya melakukan blogwalking pada tema tersebut.

Metode Konmari dikoarkan oleh Marie Kondo, seorang instruktur cara berbenah dari Jepang. Ia juga menulis buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Di awal-awal Januari ini saya pernah melihat iklan di youtube bahwa Netflix membuat series Tidying Up with Marie Kondo, yang mengunjungi rumah-rumah keluarga Amerika. Lihat juga: konmari.com.

Menurut Marie Kondo, ada dua hal mendasar yang diperhatikan dalam berbenah dan mempertahankan kerapihan tempat tinggal: buang yang tidak perlu, dan letakkan/ kembalikan/ simpan selalu barang pada tempatnya.

Barang-barang yang disimpan harus bernilai dan dapat mendatangkan kebahagiaan (Sparks joy). Ada tiga nilai: fungsi, informasi, dan emosi. Jika tidak berfungsi dan tidak menimbulkan perasaan apa-apa, melainkan hanya sekadar memenuhi sudut ruang, sebaiknya singkirkan saja.

Ketika ditantang oleh mbak ainhy_edeiweiss (ainhyedelweiss.com), untuk menuliskan "Wish list belanjaan tahun 2019", ada perasaan bingung mau menuliskan apa. Karena:

Pertama, saya memang tengah menerapkan prinsip membeli barang yang dibutuhkan/ diperlukan. 

Pernah juga saya tulis dalam artikel Anti Tumpuk Tumpuk Club saat mengikuti #BPN30DayChallenge2018 itu. "Ketika ditantang untuk menuliskan barang yang dikoleksi di rumah, saya pribadi jadi bingung. Sebetulnya saya tidak begitu suka menumpuk barang. Saya hanya beli barang yang saya butuh. Puas dengan isi lemari yang tidak penuh dan warna baju yang itu-itu aja."

Apa ya, yang saya butuhkan di tahun 2019? Saya belum punya daftarnya.

Kedua, saya tidak tahu mau beli apa.

Kalau teman-teman sudah membaca postingan Anti Tumpuk Tumpuk Club itu, teman-teman sudah tahu bahwa barang-barang yang saya tumpuk juga tidak semua bisa didapatkan, maksudnya tidak bisa mendapatkannya dengan tinggal membeli karena saya tidak mengoleksi barang yang lumrah dijual di pasar.

Kecuali buku.

Ada sejumlah buku yang ingin saya baca. Banyak. Bahkan tidak semua tertulis dalam postingan Buku yang Ingin Dibaca

Memang betul, bahwa membaca buku tidak harus memilikinya terlebih dahulu. Buku-buku bisa kita pinjam di perpustakaan atau kepada teman. 

Untuk beberapa buku, saya ingin memilikinya terlebih dahulu. Karena mungkin beberapa buku akan dikhatamkan dalam waktu yang lama karena ketebalannya, atau sekadar tidak ingin terburu-buru menamatkannya. Buku Siroh, misalnya.

Jadi, saya hanya baru memikirkan untuk membeli buku di tahun 2019.

Jadi, wish list belanjaan saya adalah:

- Buku
- Buku
- Buku
- Buku
- Buku
- Buku
- Buku
. . . .

Buku apa? Beberapa sudah saya tuliskan di Buku yang Ingin Dibaca.

Dengan tidak ingin menyimpang dari ajaran hidup milimalis, di samping buku adalah salah satu sumber kebahagiaan, mungkin saja nanti jika buku-buku itu sudah tidak terjamah lagi, saya akan merotasinya dengan yang lain. Ada banyak tempat yang menerima donasi buku. Atau saya buka perpustakaan kecil-kecilan jika saya punya ruang untuk itu. Atau bisa juga saya bagikan kepada pembaca blog ini jika ada yang tertarik?

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)