A Young Woman Called Tella Wrote a Letter

9 Januari 2019 

Assalaamualaikum teeel 21.17

How are u? 21.17

Where r u? 21.17

And how about ur thesis? 21.17

Mungkin biar suasana sedikit lebih cair, ia menambahkan,
Hehehhe 21.17

Tella tidak melihat ponselnya pada pukul sembilan malam, sembilan Januari dua ribu sembilan belas.

Ia membalas pesan-pesan itu keesokan harinya, umm tepatnya pada malam itu juga, sekitar tiga jam setelah pesan itu masuk. Tapi pergantian hari sudah dimulai dan tanggal sudah berbeda.

10 Januari 2019

Wa'alaikumussalam wr wb. 00.07

Alhamdulillah [masukkan sebuah nama sapaan]. Masih bernafas. 00.07

Teman itu pun membalas pesan itu beberapa jam kemudian
Alhamdulillah y teeel  7.20

Tella tidak membalas. Ia sedang tidak ingin terlibat dengan percakapan-percakapan berisi pertanyaan seperti di atas. Ia belum pandai menjawab. Tapi ia tahu ia punya jawaban, dan jawaban itu ada. Keberaniannya lah yang sedang menghilang entah ke mana.

Tella sudah cukup lama menarik diri dari segala macam percakapan bersama -yang dianggapnya- teman-teman. Ia takut percakapan-percakapan itu beruntut ke pada pertanyaan template di antara teman-temannya ke pada dirinya. Pertanyaan seperti percakapan pesan di atas.

Ia sedang tidak ingin membahas suatu topik itu. Sebab ia merasa tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Sebab ia merasa pada titik ini, hanya dirinyalah yang bisa menolongnya -selain Tuhan. Ia merasa sedang tidak butuh sekadar kata-kata. Ia merasa sedang tidak ingin banyak berkata-kata -mengenai hal itu.

Lalu pada semua tanya "apa kabar", ia hanya menyediakan jawaban: "masih bernafas".

Sudah hampir satu bulan ia memulihkan diri, mengumpulkan segala motivasi yang membawanya 'kembali', dan melanjutkan perjalanannya yang telah di ujung. Perjalanan yang kata orang-orang 'sedikit lagi', entah benar, entah hanya untuk menyemangatinya, entah mungkin memang keduanya.

Sudah hampir satu bulan lamanya, ia menghimpun kekuatan untuk bertindak nyata.

Lalu pada hari ini, jika ada yang membaca tulisan ini, maka artinya adalah dunia tahu. Dunia tahu bahwa ia sebetulnya sedang tidak baik-baik saja.

Terserahlah dengan apa yang dikatakan orang dengan tahun baru semangat baru. Bagi dirinya, semangat baru selalu berusaha ia ciptakan di setiap pergantian waktu.

Hampir satu bulan yang lalu, ia memilih untuk menepi.

Hampir satu bulan yang lalu, ia menulis sebuah surat, yang belum ia antar kepada penerimanya. Awalnya, penerimanya hanya satu orang yang bertemu dengannya di hari itu, tepat sebelum ia pamit pergi. Akhirnya, mungkin penerima surat ini bisa menjadi banyak orang.

Pada hari ia menulis surat itu, ia memilih untuk pergi daripada tinggal bersama, supaya ia bisa mencegah mulutnya agar tidak berkata buruk di saat suasana hati sedang tidak baik.

Barangkali di suatu hari, tidak kau temukan diriku sebagai Della-yang-kau-kenal. Namun sesungguhnya pada hari itu waktu telah memperkenalkanmu lebih dalam dengannya. Kuharap kau bersabar lebih banyak dan tidak cepat mengambil kesimpulan apalagi kecewa. Kau sadar, ia bukan malaikat tanpa cela. Della sedang rusak hari ini. Tapi biarlah ia saja yang rusak, tidak dengan persahabatan. Persahabatan ini jadikanlah abadi. Semoga Della pugar dan cepat sembuh. Semoga kau mimpi indah. Dalam persahabatan, tiada yang menjadi beban. -Payakumbuh, 15 Desember 2018

Kemudian dengan tidak memaksa agar dimaklumi, saya sebagai Tella / Della ingin meminta maaf jika ada yang salah dari saya. Saya mencoba untuk terus berbenah.

Semoga kita selalu bisa melihat dari berbagai sudut pandang sebelum membuat suatu kesimpulan.

Semoga jiwa-jiwa yang rusak segera pulih.




"Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day10"

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)