Segelintir Keinginan

Berbicara mengenai keinginan yang belum dicapai, ada banyak keinginan diri ini yang belum terwujud. Aku ingin begini. Aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak seekaalii. Semua semua semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan ... tunggu. Saya gak punya Doraemon dengan kantong ajaibnya. (Mungkin belum?).

Seperti semua muslim lainnya, saya punya keinginan untuk menunaikan haji ke Makkah. Sekalian juga ziarah ke Madinah. Saya juga punya impian menapaki negeri-negeri lain di bumi. 

Namun kali ini di sini saya tak hendak menuliskan keinginan pribadi yang barangkali tak butuh kerjasama banyak orang untuk mewujudkannya. Di artikel ini saya akan menuliskan impian saya yang sekiranya butuh dukungan banyak orang agar bisa merealisasikannya. Sekali lagi, banyak orang. 

Keinginan tinggal di daerah impian, daerah di mana:

Udaranya segar
Siapa yang tak suka menghirup udara segar khas pedesaan? Bukankah kota dulunya hutan rimba? Oh, saya tidak berniat mengembalikan kota menjadi belantara pepohonan. Namun penghijauan sungguh rasanya tidak pantas dimusnahkan. Semua makhluk hidup butuh oksigen.

Lalu, saya juga ingin bertanya kenapa, kepada mulut-mulut yang suka menghirup dan menghembuskan asap tembakau -bersama beragam racun yang dikandungnya- dengan sesuka hatinya di tempat umum. Kenapa?

Apakah tembakau mampu menutup hati sehingga tak peduli ada orang yang sesak napas, sakit kepala, karenanya? Apakah yang mulut itu pedulikan hanyalah rasa yang ditimbulkan dari hisapan dan hembusan cerutu semata? Saya bingung bercampur kesal. Di angkutan umum, telah banyak cerita saya untuk melerai para perokok.

Sungainya jernih
Di bumi yang 2/3 air ini, tentu saja air bukan hanya ada di laut. Sungai-sungai mengalir dari mata air ke muara. Sungai-sungai begitu dekat dengan keseharian kita, entah sebagai tempat mengambil air, mencuci, atau sekadar lewat di atas jembatan atau pinggirnya. Kita bayangkan sungai yang jernih dengan ikan-ikan bermain di dalamnya. Betapa indahnya.

Jalannya bersih
Sebuah tangan keluar dari jendela mobil lalu tangan itu menjatuhkan sampah di jalan. Plastik-plastik bekas makanan dan minuman berserakan di lapangan sehabis suatu acara digelarkan. Lempar saja di mana pun tak peduli. Miris.

Padahal jika bersih dan rapi, semua tempat bisa jadi surga dunia. Kita butuh banyak tangan manusia yang menahan ototnya untuk membuang sampah seenak perutnya. Kita butuh banyak otak dan hati manusia yang sadar dan peduli dengan kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Trotoarnya lancar
Sebagai pejalan kaki, saya suka risih dengan trotoar yang ada namun serasa tiada. Entah karena rusak atau karena para pedagang seenaknya memakai ruas trotoar sebagai tempat jualan. 

Saya -yang akhir-akhir ini jarang baca koran- pun teringat kalau di surat kabar, bisa mengirim pesan soal permasalahan ini. Namun, tiada salahnya juga kan saya tulis keresahan tersebut di blog ini? Barangkali sampai juga ke mata orang yang bersangkutan, entah pejabat negara atau pedagang. Saya mau bertanya: kenapa?

Padahal,
dalam Undang-undang no 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pada pasal 131(1) disebutkan: Pejalan Kaki berhak atas ketersediaan fasilitas pendukung yang berupa trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain.

Zebra Cross tak diterobos
Ketika saya menyeberang jalan di zebra cross, masih saja ada kendaraan yang melaju tidak sabaran. Tidak, saya tidak nekat menyeberang di saat lampu pejalan kaki jelas-jelas berwarna merah kok. Kenapa wahai pengendara?

Padahal,
dalam Undang-undang no 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pada pasal 131(2) disebutkan: Pejalan Kaki berhak mendapatkan prioritas pada saat menyeberang jalan di tempat penyeberangan.

Saya tak hendak menggeneralisir. Saya yakin, tidak semua daerah di bumi ini khususnya di Indonesia mempunyai polemik seperti di atas. Saya bersyukur kalau begitu. Namun, percayalah, masalah di atas masih ada di tanah air ini.


Apakah kemerdekaan -setidaknya di Indonesia- baru dinikmati segelintir orang?
Sumber: Dokpri diambil di Kota Tua, Padang, Sumatera Barat Oktober 2018

Dari sekian banyak persoalan di bumi, entah itu perekonomian, kesehatan, perdamaian dunia, apakah poin di atas sulit diwujudkan? Rasa-rasanya tidak akan sesusah mendorong pendapatan per kapita, mengurus hutang negara, mengatasi wabah, dan sebagainya.

Daerah impian sungguh tidaklah jauh. Daerah impian bisa saja merupakan tanah yang dipijaki saat ini. Daerah impian susah -bahkan mustahil- untuk diwujudkan jika hanya seorang diri.

Apakah ini juga keinginan kita bersama?

2 comments:

  1. Zebra Cross tak diterobos mungkin agak sulit kayaknya mbak. Karena berhubungan dengan "kesadaran" orang. Hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe. Bukannya semuanya berhubungan dengan kesadaran Mbak?

      Delete

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun