Bongkar Pasang Masa Kecil Kami

Semua yang membaca tulisan ini pasti mempunyai masa kecil. Saya juga punya banyak kisah di masa kecil. Sayang, memori saya hanya bisa mengingat masa-masa tiga tahun ke atas. Selebihnya, saya tak mampu mengingatnya walau telah melihat foto dan mendengar cerita dari orang lain.

Saya tumbuh di pinggiran kota yang masih asri. Jalanan di depan rumah masih bebatuan dan belum diaspal. Kendaraan yang lewat pun tidak banyak. Sawah dan gunung merupakan pemandangan yang biasa.

Doraemon ialah tontonan wajib saya di hari Minggu yang bahagia. Majalah Bobo juga merupakan hal yang dinanti-nanti setiap Kamis (Saya ngefans dengan ilustrasi pak Yoyok). Es tong tong masih suka lewat dan saya membeli seharga Rp.300,- dengan memakai kerucut, atau Rp.500,- jika mau pakai roti.

Permainan tradisional dan sedikit modern di masanya juga menghiasi masa kecil. Main masak-masakan, rumah-rumahan, lari-larian dengan segala macam bentuk dan namanya (Cakbur, Kaja Hen, Kaja Hen Tengkak, Sipak Tekong, Singkong, dll), dan lain sebagainya.

Ada sebuah permainan yang berlanjut terus pada masanya: Bongkar Pasang.

Bongkar Pasang yang saya maksud adalah permainan cewek yang mendandani mainannya dengan baju-baju cantik. Bongkar Pasang ini terbuat dari kertas tebal. Sama seperti bermain boneka, hanya saja dengan bentuk dua dimensi. Permainan ini masih ada di zaman sekarang.

Saya lupa entah berapa harga Bongkar Pasang yang dibelikan untuk saya sewaktu TK. 500 rupiah? 1000 rupiah? Namun pada akhirnya saya -dan teman-teman sepermainan- tak lagi membeli mainan ini ke penjual Bongkar Pasang. Kami membuatnya.

Itulah masa ketika kotak susu, kotak teh, kotak bohlam lampu begitu ditunggu-tunggu. Pada kotak itu kami menggambar orang dan baju-bajunya. Orangnya enggak cuma berjenis kelamin perempuan, dan bukan hanya orang dewasa.

Kami membuat yang lebih kompleks.

Ada yang kecil. Ada yang tua. Ada yang sekolah. Ada yang kerja. Rumah mereka ada di kotak sepatu. Ada uang. Ada bank. Ada tempat-tempat lain seperti sekolah, toko baju, pantai, dan lain-lain, semua sudah seperti dunia mini.

Ketika usai bermain, kami membereskan Bongkar Pasang masing-masing dan memasukkannya ke dalam kotak sepatu dengan rapi. Cerita yang kami mainkan berlanjut besoknya, besoknya, dan besoknya. Berhenti saat kami sudah sekolah menengah.

Sayang, bongkar pasang yang sudah lama tak dimainkan itu letaknya entah di mana. Mungkin tersembunyi jauh di sudut bawah tempat tidur. Saya hanya menemukan beberapa lembaran uang di laci. Tidak semua uangnya pula.

Uang bongkar pasang ala ala elthnad dkk

Bongkar Pasang memang termasuk permainan yang memiliki modal materi walau sedikit, yaitu bahan kardus bekas, pena, pewarna serta gunting. Namun Bongkar Pasang ini juga mengasah kreativitas kami terutama menyusun cerita dan menggambar serta mendesain baju dan tata kota.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun