Blogger di Masa Depan Jadi Apa, Kawan?

Hari Blogger Nasional (HBN) baru saja berlalu pada 27 Oktober. Belum genap satu minggu yang lalu. Dalam rangka HBN 2018 ini, izinkan saya membahas seputar blogger dan blogging ya. Lha kok minta izin, ini kan blog saya? Ngapain minta izin di rumah sendiri? Tak apa, biar tamu saya senang.

Awal mula kisah ini
Saya mulai dari mana ya? Oh mungkin dari asal usul saya ngeblog aja ya? Saya lupa, apakah saya sudah pernah membahas tentang ini sebelumnya, tapi rasanya belum. CMIIW. Dulu, ketika saya kecil, saya suka baca majalah Kreatif, itu yang ada Roki dan Bipbip. Ada yang suka baca ini juga? Di sana, saya pernah membaca tentang membuat website sederhana. Kemudian saya praktekkan di komputer jadul pentium dua yang ada di rumah. 

Komputer itu luar biasa lolanya (lola = loading lama). Loading yang lama itu terjadi saat menghidupkan komputer. Jadi kalau tombol powernya dipencet, kita harus menunggu beberapa saat sampai windowsnya terbuka. Saya lupa pakai windows apa di zaman itu. Berapa lama 'beberapa saat' yang dimaksud? Bisa dimanfaatkan untuk jajan ke warung, makan nasi seporsi, atau buang air ke kamar mandi. Berapa menit itu ya? Saya tidak mencoba mendramatisir. Barangkali pembaca ada yang punya pengalaman dengan komputer lola ini? Bolehlah berbagi.

Lupakan soal komputer yang lola. Kita tidak sedang membahas komputer. Kembali ke, website. Sayang sekali sodara-sodara, sewaktu itu komputer saya tidak terhubung ke internet. Apa daya, website profil itu hanya setengah jadi. Padahal keinginan saya untuk eksis sudah membumbung tinggi. Sabar dulu, ucap saya pada diri sendiri. Mungkin nanti?

Saya mempunyai banyak cita-cita sewaktu kecil, dari pedagang, desainer, arsitek, orang yang bekerja di redaksi majalah (jurnalis), orang yang bekerja di belakang layar (yang akhirnya saya tahu nama lainnya tim kreatif), hingga walikota. Entah ada berapa cita-cita saya. Lucunya, hidup membawa saya untuk kuliah di jurusan kesehatan. Namun di organisasi atau kepanitiaan, saya sering ngegawe urusan media. Kadang saya yang milih di bagian itu, tak jarang saya yang diminta atau ditempatkan.

Waktu berlalu, dan komputer di rumah tidak kunjung diberi sambungan internet. Saya hanya bisa internetan di sekolah, warnet, atau lewat ponsel jadul dengan jaringan GPRS. 

Kenalan dengan Blog
Saya kemudian kenal dengan yang namanya blog dari membaca berbagai tulisan di ponsel jadul saya itu. Saya suka melanglang buana di dunia maya. Niat membuat blog pun terwujud sewaktu saya berada di SMA. Saat itu warnet makin menjamur di tempat tinggal saya, dan di SMA ada fasilitas wifi. Namun, blog itu tidak terurus dengan baik. Mungkin niat saya belum jelas mau nulis apa. Oh ya, pada saat saya SMA pun tidak mendapat tugas mengurus blog.

Akrab dengan Blog
Barulah ketika kuliah, saya lumayan aktif di blog. Hal ini didukung oleh fasilitas wifi di kos. Saya membuat blog untuk merapikan kenangan saya. Jadi semacam digital diary gitu. Saya buat dua blog sewaktu kuliah, satu untuk kegiatan saya, satu lagi untuk catatan kuliah. Blog itu bahkan menuai page view yang baik setiap harinya. Hingga suatu hari saya yang miskin ilmu itu mengubah url, dan page view menurun drastis. Ada apa?

Mulai memahami Blog
Dari situlah kemudian saya menggali ilmu tentang blog. Ternyata dalam dunia blogging, tidak hanya tentang tulis lalu pos. Ada yang namanya SEO, DA, PA, domain, hosting, dan lain-lain. Sebetulnya kembali ke diri blogger itu sendiri, tujuan membuat blog untuk apa. Kalau hanya untuk menyalurkan hasrat menulis tanpa peduli dibaca atau tidak, ya tidak harus pusing-pusing memikirkan istilah-istilah lain. Tetapi saya yang waktu itu mulai ingin mencari uang via internet dan memanfaatkan blog saya, hal-hal semacam itu membuat saya tertarik untuk mempelajarinya.

Seperti yang kita ketahui, ada berbagai macam platform yang bisa digunakan untuk menulis. Contohnya yang saya pakai adalah blogger. Konon katanya, dulu senior-senior blogger ada yang pernah ngeblog dengan fitur di Friendster. Apa pembaca tulisan ini pernah mencobanya? Saya tidak pernah, karena kota saya tidak semaju itu dalam akses internet sewaktu Friendster booming. Kemudian muncul Multiply, dll.

Terkenal
Tidak sedikit para blogger yang jadi penulis buku. Sebut saja Raditya Dika dengan seabrek bukunya yang mengandung nama binatang, Arief Muhammad dengan Poconggg juga Pocong, Bena Kribo dengan Benabook, Alit Susanto dengan Shitlicious juga Skripshit. Wah, ketebak ya, saya mengikuti siapa saja. Jangan-jangan pembaca saya sudah menerbitkan buku pula. Ayo beri tahu saya, saya sedang rajin baca buku demi posisi top di goodreads.

Pernah dengar Anne Ahira gak? Dulu situsnya suka nangkring di page one mesin pencaharian. Saya tidak mau membahas banyak soal dia di sini, nanti jadi melenceng. Sempat menuai pro kontra soal bisnisnya, namun kisah Anne Ahira menginspirasi juga. Ah Jonru juga, pada masanya ketika ia menjadi panutan para insan. Kembali lagi, kita tidak bahas banyak soal dia, hanya mau bernostalgia era lama dunia per-blogging-an. Di mana dari ngeblog memang bisa mendapatkan pundi-pundi.

"Blogger Selling" vs "Pure Writing"
Ngomong-ngomong soal pundi-pundi, belum lama ini dalam sebuah diskusi, ada yang bilang, "blogger sekarang banyak yang selling". Kenapa? Apa maksudnya? Sekarang tak banyak yang suka bercerita tentang simpul kehidupan pribadi dan sekeliling, banyak yang lebih suka cerita tentang brand, perjalanan, pengalaman memakai produk. Apa iya? Saya pun diam-diam memeriksa semua postingan saya. Apakah saya hanya memburu uang? Pembaca boleh membantu saya memeriksa, hi hi.

Seorang yang kupanggil Mpok Wawa menanggapi tentang "blogger selling" itu. Beliau bilang, zaman sudah berubah dan berkembang. Atmosfer lama tidak serta merta hilang, semangatnya berusaha menyeimbangkan. Bukan pula lantas yang dulu lebih baik dari sekarang, pun sebaliknya. Tidak dipungkiri, sekarang industri butuh blogger untuk mendatangkan keuntungan. Catatannya, blogger zaman sekarang jangan lupa sejarah sehingga apa-apa maunya instan dan benefit saja.

Penulis blog yang branding murni tanpa selling pun belum punah. Penggunaan kata "belum" di sini, saya tidak mengharapkan "akan". Contohnya? Tuhu Nugraha, kata Mpok Wawa. Mpok Wawa pun menambahkan, kalau blognya populer dengan tulisan curhat. Ia melakukannya untuk terapi jiwa.

Saya tidak membenarkan salah satu, pun menyalahkan salah satu pendapat antara "blogger selling" vs "blogger pure writing". Saya mengambil pelajaran dari keduanya. Supaya apa? Suapa kita mengedepankan kejujuran.

Perkembangan zaman adalah suatu hal yang tidak bisa kita hindari sebagai mana kita tidak bisa memberhentikan waktu. Perubahan ialah hal yang mutlak. Kejujuran, harus tetap dikedepankan. Ya kan?

Blogger di masa depan jadi apa, Kawan?
Entahlah, saya bukan cenayang. Saya tak paham ilmu ramal. Apakah blogger masih tetap menjadi blogger? Atau migrasi ke vlog seperti Raditya Dika, Arief Muhammad yang dulu suka menulis di blognya. Atau masih mempertahankan blognya seperti Gita Savitri Dewi, juga Vina Aulia? Bagaimanapun pilihan kawan, kejujuran tetap diperhatikan dalam menebar kebaikan. Setuju kan?

10 comments:

  1. Intinya tetap blog niatkan untuk menebar manfaat untuk orang lain, sehingga dengan begitu banyak silahturahmi terjalin membuat kita rajin menulis blog.

    Kemudian untuk menjual produk dari brand ternama, baiknya pilih-pilih dlu, supaya sesuai dengan audience sehingga memudahkan dalam clossing :))

    Salam mb :) mantap tulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Menebar manfaat". Betul sekali mas. Makasi komentarnya.
      "Pilih-pilih brand". Siap mas.

      Delete
  2. What's up to every one, for the reason that I am really eager of reading this web site's post to be
    updated on a regular basis. It includes nice stuff.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nothing much, just trying to be productive. Like, really trying. Thanks for commenting.

      Delete
  3. Dating apps open a globe of option to you.

    ReplyDelete
  4. Dating apps open a planet of option to you.

    ReplyDelete
  5. Hello, I enjoy reading all of your post. I wanted to
    write a little comment to support you.

    ReplyDelete