Anti Tumpuk Tumpuk Club

Ketika ditantang untuk menuliskan barang yang dikoleksi di rumah, saya pribadi jadi bingung. Sebetulnya saya tidak begitu suka menumpuk barang. Saya hanya beli barang yang saya butuh. Puas dengan isi lemari yang tidak penuh dan warna baju yang itu-itu aja. Tapi, setelah saya melihat dan mengingat, saya sadar ternyata saya menumpuk barang juga.

Mainan kunci boneka

Uang
Saya menyimpan uang dari mata uang negara lain, dan uang rupiah zaman dulu. Suka aja gitu. Mata uang lain belum banyak juga. Adanya Arab Saudi (riyal), Filifina (piso), Thailand (baht). Apakah saya sudah bisa dibilang kolektor? Saya belum bisa memastikan uang ini tak akan saya gunakan.

Mainan kunci
Ada yang dapat dari tas. Ada yang beli sendiri. Ada yang berupa souvenir dari suatu acara. Kebanyakan diberi, dan berlabel nama daerah. Koleksi saya belum ratusan. Setelah saya hitung, belum mencapai puluhan. Baru 16. Apakah saya sudah bisa dibilang kolektor? Kini saya bahkan tidak berusaha membeli mainan kunci untuk menambah koleksi, hanya menerima dan tidak pula meminta. Tapi saya menumpuknya, dan tidak memakainya. Well, ada sih satu atau dua.

Pensil hotel
Pensil hotel yang saya bawa pulang belum pernah saya raut kembali. Kenapa? Merasa sayang, dan karena saya punya pensil mekanik untuk menulis yang lebih praktis. Sampai detik ini, baru 4 buah pensil hotel yang saya punya.

Name tag
Saya tidak membuang kokarde atau nametag dari kepanitiaan atau keanggotaan saya di sebuah organisasi atau program. Nah, ini baru bisa dibiliang koleksi kali ya? Oleh karena mengoleksi name tag, saya juga mengkoleksi pengalaman jadinya.

Buku
Buku bisa dibilang sebagai koleksi saya paling berfaedah sejauh ini. Buku yang saya punya berasal dari kategori apa saja. Mulai dari buku pelajaran di pendidikan formal hingga buku album dan buku berisi tulisan random saya. Ada yang print book ada yang kindle book.

Saya juga pernah mengkoleksi hadiah dari majalah, dan susu. Sayang banget sejak pindah rumah, barang itu tak tahu di mana rimbanya. Penyimpanannya kala itu payah. Padahal sudah mengumpulkan dengan sabar dari kotak ke kotak susu.

Koleksi paling receh saya seumur hidup adalah label pakaian. Saya lakukan bersama adik saya sewaktu kecil. Saya mengumpulkannya, dan adik saya juga mengumpulkannya. Masing-masing kami punya koleksi ini. Sekarang sudah tidak lagi. Gak tahu apakah suatu saat kembali menambah koleksi. Label-label itu masih tersimpan di laci.

Sekian dari anti tumpuk tumpuk club.

4 comments:

  1. Wah.. kalo koleksi mata uang pas seru banget kayaknya ya.. bisa buat investasi juga ya.. ?

    ReplyDelete
  2. Hihi duh iya aku baru sadar, ngoleksi pensil hotel, gantungan kunci, sama dulu pernah juga ngoleksi label baju hehehe.

    Hwaa keren mbanya ngoleksi berbagai mata uang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata ada juga yang ngoleksi label baju wkwkwk. Koleksi mata uangnya baru segitu mba heheh.

      Delete