Kenapa Mesti Diimunisasi sih?

Kenapa mesti diimunisasi sih?

"Saya masih takut memberikan izin putri saya untuk mengikuti imunisasi ini, sebab saya baca di sosmed banyak yang mengalami hal-hal yang tidak diinginkan dari imunisasi ini,"  ujar Sri, dilansir dari Kompas.com pada artikel berjudul Banyak Orangtua Takut, Imunisasi MR di Kepri Baru Terealisasi 23 Persen. (https://regional.kompas.com/read/2018/08/20/12480541/banyak-orangtua-takut-imunisasi-mr-di-kepri-baru-terealisasi-23-persen)

Sri merupakan orang tua murid di SDN 02 Sekupang, Batam. Ia adalah satu dari sekian orangtua yang takut anaknya diimunisasi pada bulan Agustus 2018 lalu.

Dilansir dari Kompas.com pada artikel yang sama, "Berbagai macam alasan yang diutarakan para orangtua dan wali murid. Mulai dari anaknya sakit hingga hal lainnya," kata Yusal Uskar, kepala sekolah SDN 022. Dari 1110 siswa siswi, hanya 700 yang mau disuntik. (https://regional.kompas.com/read/2018/08/20/12480541/banyak-orangtua-takut-imunisasi-mr-di-kepri-baru-terealisasi-23-persen)

Apalagi pengaruh media sosial membuat informasi gampang tersebar. Para orangtua yang tidak gagap teknologi itupun takut karena berbagai informasi hinggap di ponselnya. Katanya, kalau suntik imunisasi bisa jadi demam.

Bukan hanya di Kepulauan Riau, adik saya yang kelas 3 SMP pun juga mendapatkan program imunisasi measles rubella atau MR di sekolahnya, di Sumatera Barat. Adik saya yang remaja tanggung itu pun ikut bingung apa mau diimunisasi atau enggak, apakah aman? Ia dan teman-temannya bingung. 

Saat itu orangtua kami sedang berada di luar negeri selama sebulan lebih dengan kegiatan padat dan perbedaan waktu antar negara. Akhirnya paman saya yang mengambil alih keputusan, dan memberi izin. Itupun setelah bertanya kepada tante saya yang bekerja di dinas kesehatan, beliau berlatar belakang perawat dan bidan.

Intinya, bukan orangtua saja yang takut, anak juga takut. Terlepas dari takut disuntik ya. Tapi takut dengan dampak yang terjadi di kemudian hari.

Apakah mukadimah saya terlalu panjang? Baiklah, jadi gimana dengan imunisasi itu?

Sumber foto: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id diedit untuk menambahkan tulisan
Imunisasi adalah...
Sebelumnya, rasanya kurang afdol kalau kita belum bahas apa itu imunisasi. Walau mungkin sebahagian besar pembaca yang budiman di sini sudah tahu ya.

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. -Permenkes No. 42 Tahun 2013 Tentang Imunisasi

Mari kita sederhanakan bahasanya. Intinya, imunisasi itu berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita, untuk imun kita.

Jadi, di dalam tubuh kita kan ada sistem imun. Sel yang berperan besar dalam sistem imun adalah sel darah putih (leukosit). Jika ada benda asing/mikroorganisme (antigen) masuk ke dalam tubuh, seperti bibit penyakit, maka sistem imun akan membentuk antibodi terhadap benda tersebut. Jika bibit penyakit itu datang lagi, antibodi sudah tersedia.

Kalau mau ilustrasi lebih detail, akan ada istilah limfosit B, limfosit T, fagosit. Tapi intinya begitulah. Limfosit dan fagosit adalah bagian dari leukosit. Masing-masing punya peran dalam menghacurkan mikroorganisme/benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Pokoknya dalam hal ini kisahnya berjudul: Antigen vs Antibodi, gitu.

Apakah saya sudah pandai mengilustrasikannya? Saya sudah berusaha mengorek-ngorek memori soal pelajaran di kelas biologi dan saat berada di kelas kuliah, saya kuliah di kesehatan sih btw, walau ilmunya masih cetek.

Oke tinggalkan curhat pendek saya. Kita lanjutkan bahas imunisasi lagi (Asik juga, membahas hal ini bikin saya, -dan kita semua- sama-sama belajar kembali).

Nah vaksin itu sendiri adalah antigen yang sudah dilemahkan. Apa tujuannya diinjeksikan ke dalam tubuh kita? Agar sistem imun kita ingat dan sudah punya antibodi untuk melawan apabila suatu waktu -tapi jangan sampai lah ya-, si antigen masuk lagi ke dalam tubuh. Proses penyembuhannya jadi lebih gampang.

Jenis-jenis imunisasi
Berdasarkan Permenkes No.42 Tahun 2013, imunisasi ada jenisnya. Berikut Permenkes No.42 Tahun 2013 Pasal 3.

(1) Berdasarkan sifat penyelenggaraannya, imunisasi dikelompokkan menjadi imunisasi wajib dan imunisasi pilihan.

(2) Imunisasi wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat dari penyakit menular tertentu

(3) Imunisasi pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari penyakit menular tertentu.

(4) Vaksin untuk imunisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki izin edar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

sumber foto: sehatnegeriku.kemkes.go.id/ diedit untuk menambahkan tulisan
Intinya, imunisasi ada yang wajib, dan ada yang pilihan. Kalau mau baca yang lengkap, bisa di Permenkes No.42 Tahun 2013. Namun di sini saya akan mencoba merangkum dan menyimpulkan.

Imunisasi dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu imunisasi wajib, dan imunisasi pilihan. Untuk penjelasannya, sekiranya sudah jelas di atas.

Imunisasi wajib ini terbagi pula. Agar lebih mudah dipahami, saya coba bikin infografisnya ya. Infografis untuk imunisasi wajib dulu, soalnya ini yang banyak pembagiannya.

infografis imunisasi wajib
Kalau untuk imunisasi pilihan, ada macam-macam, seperti Haemophillus influenza, pneumokokus, rotavirus, influenza, varisela, measles mumps rubella, demam tifoid, hepatitis A, human papiloma virus, japanese encephalitis. Menteri dapat menetapkan pilihan lain berdasar nasihat Komite Penasehat Imunisasi Nasional. Pokoknya semua tentang imunisasi sudah diatur dalam Permenkes No. 42 Tahun 2013.

Sekarang, kita sama-sama sudah tahu apa saja jenis-jenis imunisasi. Kalau imunisasi ini termasuk wajib atau pilihan. Kalau imunisasi itu termasuk wajib atau pilihan. Imunisasi wajib itu yang bagaimana. Imunisasi pilihan itu yang mana pula. Tapi, yang pasti adalah pemerintah ingin derajat kesehatan masyarakat meningkat, dan kita sebagai masyarakat pun ingin sehat.

Kayaknya... jenis imunisasi di atas itu lebih ke jenis vaksinasi sih. Sebab, imunisasi (proses pembentukan imun) itu ada dua lagi jenisnya: aktif, dan pasif. Imunisasi aktif ialah dengan vaksinasi. Imunisasi pasif terjadi secara alami.

Sudah kayak kuliah kita ya? Berapa SKS nih? #eh. Tapi bagus kan ya, kita jadi sama-sama menambah ilmu.

Bagaimana dengan vaksin palsu?
Yah, kadang memang ada manusia yang begitu, sedih, kzl. Semoga kita dilindungi. Dilansir dari sehatnegeriku.kemkes.go.id, Kemenkes menjamin vaksin yang di distribusikan melalui jalur pemerintah aman dan terjaga keaslian nya. Kemenkes sudah menjalin kerjasama dengan bareskrim dan BPOM. Kemenkes pun akan menyelidiki rumah sakit atau klinik yang diduga ada vaksin palsu. (http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20160629/1415300/koordinasi-linsek-untuk-tanggulangi-vaksin-palsu/)

“Saya pernah mendapatkan laporan kekosongan vaksin di RS swasta dan disebut itu vaksin-vaksin impor. Kami cek, memang vaksin tersebut dari principle-nya tidak masuk ke Indonesia. Kami katakan, gunakan vaksin program, karena imunisasi yang benar-benar wajib tetap harus diberikan,” tandas Menkes. (http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20160720/2515478/vaksin-pemerintah-terjamin-keamanan-ketersediaan-dan-tidak-dipalsukan/)

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Dampak imunisasi yang bikin geger
Desas desus efek samping imunisasi yang menggegerkan ini sudah saya dapatkan semenjak belasan tahun lalu, saat saya masih SD (ketahuan deh kisaran angkatan berapa #sayamasihmuda). Lalu seperti yang sudah saya ceritakan soal ibu Sri dan adik saya, dia dan teman-temannya juga resah dengan "kata orang". Katanya bisa lumpuh. (((Katanya))).

Tahun 2016 juga pernah terjadi, katanya vaksin HPV (Human Papiloma Virus) bisa menyebabkan menopause dini. Pada saat itu, walau Indonesia belum pernah mengadakan vaksinasi HPV, tetapi vaksinasi HPV telah dilakukan sejak 2012 di berbagai negara. Selama itupun tidak ada data dan bukti bahwa vaksin HPV bisa menyebabkan menopause dini.

Agustus 2018 lalu juga masih segar dalam ingatan kita soal vaksin MR (Measles Rubella). Kali ini karena meninggalnya seorang siswa SD di Pontianak, dan dikaitkan dengan imunisasi. Ketua Komite Daerah (Komda) Penanggulangan dan Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di Provinsi Kalimantan Barat, dr. James Alvin Sinaga, Sp.A pun angkat suara, dan melaporkan hasil invertigasi bahwa penyebab kematian diduga enchepalitis. Sedangkan vaksin MR tidak menyebabkan infeksi otak atau enchepalitis.

Memanglah kita mesti bijak dalam menerima informasi. Jangan mudah percaya dengan broadcast di sosial media. Semuanya harus kita saring terlebih dahulu.

Jadi, perlukah imunisasi itu?
Sekiranya pertanyaan ini hanya basa-basi. Biar ada semacam sub-bab gitu di artikel saya ini. Kita semua sudah tahu jawabannya kan?

Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan yang muslim? 

Apakah vaksinasi itu halal?
Alhamdulillah HALAL. Kalau tidak percaya, coba cek Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 4 Tahun 2016 Tentang Imunisasi. Bagaimana dengan vaksinasi MR yang diragukan kehalalannya? Tenang, vaksin MR sudah dinyatakan halal oleh KH. Ma'ruf Amin dari MUI.

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Mudah-mudahan kita saling bahu membahu menciptakan Indonesia Sehat melalui... banyak sih caranya, salah satunya melalui perlindungan imunisasi ini.

No comments:

Post a Comment