Gondosuli yang Ingin Kembali Kudatangi

Hari itu, sore-sore kami sudah tiba di Gondosuli. Hijau. Dingin. Kemudian matahari perlahan seolah turun, meninggalkan semburat merah jingga-nya, mengucapkan sampai jumpa. Sore berganti malam. Jingga berganti temaram. Kelam. Malam. Dingin semakin dingin.

Gimana intronya? Sudah puitis belum sih? Oke, lanjut dulu deh.

Akhir Juli dua ribu tujuh belas, untuk pertama kalinya kaki ini menginjak tanah Surakarta. (Baca juga: GHTL 2.0). Saat itu saya ke sana dalam rangka mengikuti sebuah training. Namun semua hal sebetulnya bisa kita nikmati bukan? Sambil training, sambil jalan-jalan. Sambil melaksanakan tugas, sambil lihat-lihat sekitar. Gondosuli indahnya mantul!

Pada training di Gondosuli, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok tinggal di rumah warga yang telah ditentukan. Begitu pula dengan kelompokku. Sayang banget sih saya lupa namanya ibu-bapak host family kelompok kami. Gak pernah nanya pula, ckckck. Tapi saya masih ingat betul wajah beliau. Saya juga ingat yang mana rumah beliau (ya kalau gak direnovasi sih).

Foto dari halaman rumah
Mayoritas masyarakat di sana bekerja sebagai petani, dan mereka punya beberapa binatang di rumah. Di rumah yang kami tinggali, ada beberapa ekor kambing. Pagi-pagi sekali bapak pergi ke kebun. Kemudian ibu menyusul. Hari itu kami ikut ibu ke ladang. Jalannya menanjak. Kami membantu ibu mengambil rumput untuk ternak. Kami juga ikut kelompok sebelah yang memanen wortel.

Pemandangan setelah melalui jalanan yang mendaki menuju kebun
Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, ini terletak di dataran tinggi, di bawah gunung Lawu. Dikelilingi oleh bukit-bukit hijau. Kiri-kanan pun dihiasi kebun yang juga hijau bak permadani. Kalau malam, hawanya dingin luar biasa.

Air minum yang berembun karena dingin
Sebenarnya kami sudah difasilitasi makanan dari panitia penyelenggara training. Tapi ibu tetap kekeuh memberi kami makan. Saya antara bersyukur dan sedih dengan makanan yang melimpah, sementara lambung sudah penuh. "Mboten repot-repot, bu," ucap saya yang baru belajar bahasa Jawa. Si ibu baik banget.

Setiap pagi kami diberi satu gelas tinggi teh panas. Tehnya teh tubruk gitu. Kalau saya ingat-ingat jalan hidup saya, itu pertama kali saya minum teh tubruk. Khas. Sambal si ibu pedas banget. Saya gak percaya lagi dengan yang katanya makanan Jawa itu manis-manis. Kami pun pernah masak nasi goreng bersama. Mencuci piringnya itu loh, airnya dingin segar gimana gituh.

Pemandangan gunung Lawu dari dekat toilet
Kalau mau mandi, di dalam rumah sebetulnya ada kamar mandi, tapi gak ada closet. Kalau mau buang air, toiletnya ada di belakang rumah, jalan beberapa meter. Maka jadilah subuh-subuh saya jalan ke toilet, dihampiri angin segar yang membuat saraf dingin saya bekerja. Saya mandi di toilet, dari pada kembali dan mengantri. Bentuknya air, tapi sensasinya seperti mengguyur es batu. Oke, saya merasa norak. #norakitumanusiawi.

Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia
Ingin sekali, kembali ke Gondosuli. Kembali ke rumah ibu-bapak yang baik itu, dan membawa oleh-oleh khas minangkabau. Barangkali ibu-bapak dan anak-anaknya suka. Gondosuli yang dingin membuat rindu. Saya juga bakal bawa teh tubruknya yang khas itu. Serta...

Lihat foto-foto di atas? Seharusnya hasilnya lebih hijau sih, dan langitnya lebih biru. Namun jadinya malah buram. Hiks. Padahal saya orangnya suka jeprat-jepret. Memotret baik untuk mendokumentasikan hal-hal yang kadang bisa luput dari memori. Memotret juga jadi sarana untuk berbagi. Kalaulah saya punya kamera baru ya.

Kemudian saya diperkenalkan dengan Huawei Nova 3i, dengan Quad AI Kamera. Pertama kali yang dilihat sih tentu desainnya yang boleh dikatakan fashionable, dengan warna iris purple-nya. Iris purple adalah perpaduan biru dan ungu, kalau kena cahaya, di bagian belakangnya akan terlihat futuristik gitu. Keren ya. Ada juga warna hitam buat kita yang suka warna... hitam. Warna yang lebih netral maksudnya. Dari segi ukuran, Huawei Nova 3i ini berukuran 6,3 inci dengan aspek rasio layar 19,5:9. Lumayan gede ya, gak repot-repot ngezoom in lagi dong.

Lanjut, kameranya sih. Huawei Nove 3i ini memiliki 4 kamera total. 2 kamera di bagian depan (24MP dan 2MP), dan 2 kamera di bagian belakang (16MP dan 2MP). Bakal bisa menghasilkan gambar yang detail, fokus, dan berefek bokeh nih. Mantaplah.

Selain itu, fitur kameranya juga bisa mengenali lebih dari 200 skenario dari 8 kategori, antara lain blue sky, plant and beach, dan menerapkan satu set optimalisasi pada tiap pemotretan. Bisa juga melakukan beutification secara terpisah. Hardware pada Huawei Nova 3i juga mendukung pratinjau aplikasi HDR secara real time. Serta mendukung 5 pencahayaan studio, yaitu pencahayaan lembut, pencahayaan kupu-kupu, pencahayaan panggung, pencahayaan terpisah, dan pencahayaan klasik. Duh, jadi gak sabar mau ngotak-atik fitur ini kalau ponsel ini ada di tangan.

Ada lagi sih, di smartphone ini, juga didukung pengambilan video slow mo dengan 480 fps. Jadi bisa merekam dengan efek lebih dramatis. Selain itu juga ada 3D Qmoji. Wah ini juga bikin saya mupeng. Pengen berekspresi ala ala emoji gitu saya. Eh gimana ya maksudnya, pokokmya gitulah.

Dari segi performa, prosessor yang digunakan oleh Huawei Nova 3i ialah Octa Core dengan chipset Hisilicon Kirin 710. Bisa buat gaming dan kegiatan multitasking.

Tak lengkap jika tidak membahas kapasitas memorinya. Ada 4GB untuk RAM dan 128GB untuk internal memori. Untuk smartphone kelas menengah ini, Huawei Nova 3i bisa dibilang sebagai smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB. Apakah masih perlu dijelaskan lagi, bahwa dengan memori seluas ini kita bisa unduh aplikasi yang banyak dan simpan foto-video sesuka hati?


Oktober tak terasa segera datang. Semoga mimpi-mimpi kita dapat terwujud bukan hanya terbayang. Melalui cara baru, kenangan manis itu bisa terulang.

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

3 comments:

  1. bagus mbakm pemandangan alamnya
    hijau-hijauuu pasti bakalan segar tuhhh mbak, hheee
    Semoga bisa kembali dengan membwa Smartphone Huawei Nova 3i nya yah mbak
    Good Luck
    Salam kenal dari Bumi Jember ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah dibilang bagus. Padahal kameranya gak jernih gitu mbak. Pakai bercak hitam pula di sisi kiri. Iyaaa, di sana segar banget mbak. Aamiin. Salam dari ranah minang ya!

      Delete
    2. Hheee iya mbak, alhamdulillah juga masih bisa tercapture dengan ponsel apapun. hheee mengingatkanku sama ponsel prtama dari gaji prtama cuma 100k saat itu, hehee hasil kameranya juga macam itu hhee
      Iyah mbak, senang bisa berkenalan dengan Mbak Elrisa

      Delete