Dapat Giveaway dari Goodreads - Ulasan Buku Chandra Agusta Percakapan tentang Perilaku Binatang

Jadi pada bulan Oktober 2017 kemarin saya baru membuat akun goodreads karena saya baru tahu goodreads punya giveaway :3. Kita bisa ikut pada banyak pilihan buku yang ada dan menunggu nasib apakah menang atau belum, hehe. Caranya gampang sangat. Tinggal ceklis-ceklis saja.

Dari sekian banyak giveaway yang saya ikuti, beruntung ada rejeki saya. Walaupun giveaway buku Indonesia ini tidak banyak yang mengikuti (otomatis saingan saya sedikit), tetapi 5 buku yang dibagikan di antara 47 saingan cukup membuat skala satu banding sekian.

Rezeki tidak akan ke mana yah.

23 Oktober 2017 lalu saya dikirimi buku oleh bang Chandra Agusta lantaran menang giveaway goodreads. Terima kasih bang Chandra! Terima kasih sudah memberikan buku perdananya kepada saya. Saya mendapatkan buku versi kindle / ebook.

Ucapan terima kasih saya sepaket dengan permintaan maaf karena baru bisa menuntaskan bacaan dan membuat ulasannya pada Maret 2018 ini. Padahal buku ini tidak tergolong tebal. Tapi tak perlulah saya menjustifikasi diri dan mengemukakan alasan ya :) Toh bang Chandra-nya biasa aja :3

Chandra Agusta - Percakapan tentang Perilaku Binatang

Buku ini merupakan kumpulan 10 buah cerpen: Usaha Menulis, Percakapan tentang Perilaku Binatang, Trotoar Bergambar Bunga di Cikini, Hal-hal yang Memicu Bunuh Diri (dibagi menjadi 2 bagian), Api Ibrahim, Duel, Kebiasaan-kebiasaan Kecil, Cara-cara Menunggu, Panggilan dari Gunung, dan Obituari. Cetakan pertamanya terbit pada Maret 2017. 

1. Usaha Menulis
Tentang seorang tamatan biologi; aktivis lingkungan yang ingin menjadi penulis dan sedang mencari inspirasi, serta kebosanannya dengan pacarnya yang menurutnya begitu menjengkelkan karena pencemburu, cerewet dan suka curiga. Pada cerpen ini, Chandra memasukkan perilaku ke-tidak serakahnya binatang dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Namun ditutup dengan umpatan nama binatang. Sungguh suguhan atas dua sisi yang berbeda dari binatang.

2. Percakapan Tentang Perilaku Binatang
Tentang seorang karyawan baru yang menggerutu setelah kena marah. Ia kesal dan ingin melampiaskannya dengan cara bercinta dengan kekasihnya, hal yang sebetulnya biasa ia lakukan bersama di sebuah hotel. Pada cerpen ini, ada beberapa fakta menarik tentang binatang. Agak nyeleneh sih, seperti berapa lama babi orgasme, binatang yang homoseksual, komunikasi bonobo dengan cara seks, anjing si hewan setia, merpati yang monogami, serta dodo si unggas yang -diduga- sudah punah.

3. Trotoar Bergambar Bunga-bunga di Cikini
Tentang seorang karyawan pabrik yang kebingungan saat ia terbangun di dalam sebuah gerbong kereta, yang kemudian turun dan singgah ke sebuah bioskop untuk menonton sebuah film.

4. Hal-hal yang Memicu Bunuh Diri
Cerpen ini terbagi menjadi dua bagian dengan tokoh yang berbeda, namun sama-sama mengalami akhir hidup yang tragis akibat tangannya sendiri.

5. Api Ibrahim (mengenang Sebastian Manuputty 1983-2015)
Tentang seorang buruh yang tinggal di kontrakan kecil yang diceritakan pada hari itu ia tengah unjuk rasa. Namun pada hari itu jua, ia membakar semangatnya, dan semuanya.

6. Duel
Intinya sederhana, duel dengan seekor binatang kecil, binatang pengerat. Berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya yang terasa getir, cerita yang satu ini menurut saya cukup lucu -walau kejam(?)-, bisalah membuat tertawa dalam hati.

7. Kebiasaan-kebiasaan Kecil
Tentang seorang anak kos dengan pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaannya yang tidak biasa, seperti mengoleksi dua tipe hal yang berseberangan, serta ritual mandi hujannya.

8. Cara-cara Menunggu
Tentang seorang yang menunggu pesawatnya yang delay. Ia berpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mencoba usaha baru.

9. Panggilan dari Gunung (untuk teman-teman yang mati di pelukan sahabat yang dicintainya, alam)
Cerita anak mapala kepada temannya melalui angin. Cerita yang satu ini cukup mengocok hati saya saat membacanya. Ketika pada cerita-cerita sebelumnya saya membayangkan api yang membakar, pada cerita ini saya membayangkan air nan menenggelamkan.

10. Obituari
Kisah seseorang dengan kenangannya tentang ayahnya. Sedih, biru, dengan sedikit lucu, menurut saya begitu.

***

Buku ini penuh negasi, penuh kritikan akan keresahan-keresahan atas hidup. 10 bagian cerpen dihadirkan dengan bahasa yang begitu terbuka, blak-blakan, miskin metafor, kaya sinisme, dewasa, liar, dan nakal. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Menurut saya, buku ini adalah buku yang cocok untuk orang dewasa, 18 tahun ke atas mungkin. Sebab beberapa bahasanya terkesan vulgar dan mengalir bebas.

Seperti judul cerpen yang dihighlight; Percakapan Tentang Perilaku Binatang, buku ini terasa begitu nyata mengenai sisi lain kehidupan manusia dan binatang. Bahwa binatang tidak melulu "rendah" dari manusia.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah sebetulnya binatang-binatang itu hanya malas berpikir yang rumit-rumit, memang tidak bernafsu mengendalikan dunia karena diam-diam mereka ingin cari aman melepas tanggung jawab kehidupan manusia yang melelahkan dengan gaya hidup yang seolah mengelompokkan dan membuat tembok antara yang satu dengan yang lain. Binatang lebih memilih membiarkan diri hidup untuk makan. Atau, memang tingkat berpikir binatang memang rendah?

Di dalam buku ini terselip nama-nama tokoh serta karyanya, juga istilah-istilah bercetak miring. Memanglah buku merupakan tempat memperluas wawasan, kan? Beberapa kata di antaranya cukup jarang saya temui di lingkungan saya seperti deus ex machina, ngelangut, dll. Subjektif memang, namun saya pikir juga tidak semua orang mengerti akan maksudnya, terlebih kata itu sudah ditulis dengan mode Italic. Oleh karena itu, saya berharap ada catatan kakinya sebagai penjelasan makna dari kata atau istilah tersebut.

Pada buku ini akan ditemukan tanda "*" sebagai tanda penjelas di akhir bacaan. Dari segi penulisan, saya berharap kalau tanda "*" itu dirubah menjadi angka dan penjelasannya diletakkan di akhir halaman -seperti catatan kaki biasanya-, bukan di akhir bagian cerpen agar lebih user friendly.

No comments:

Post a Comment