BGFP Padang 2018

5 s.d 6 Januari 2018 kemarin saya ikut Board Game for Peace Padang dari Peace Gen ID.

Di BGFP Padang, saya bertemu banyak orang.

Pak Irfan, sang co founder Peace Gen ID. Pak Yusuf Anis dan ceritanya tentang JI, rekruitment, dan kisah hengkangnya dari sana. Pak Febi, korban bom JW Marriott tahun 2003 yang berhati besar. Kak Rio, desainer board game yang kreatif. Kak Arijal Hadiyan, yang mengingatkan saya dengan Bena Kribo gegara kacamatanya (rambutnya juga bergelombang, sih). Gambar dan desainnya ciamik euy. Kak Irfan dengan lelucon tahu bulatnya, dan lelucon lain. Beatbox-nya juga keren. Kak Taufik, kak Linda para CP.

Mory yang ternyata atlet beladiri berprestasi dan anak KKN Kebangsaan. Eh, ternyata anak Limpako dari Mungka. Arif Rahman Hakim dan cerita tentang komunitas menulisnya. Hadi, dengan penjelasannya yang bagus dan jelas tentang Push Pull Personal Factor. Rusti si anak USU yang jauh-jauh dari Medan. Martin Dennise dari Riau. Afdhal, teman yang masih SMA, dan aktif berbagai kegiatan. Debi si anak youtuber, terobsesi menjadi vlogger. Ternyata dia mengunggah video di youtubenya BGFP Padang, Rancak Bana!

Novia, orang pertama yang saya kenal di sana (selain Ayu, Shelly, dan Eko). Aziz, yang mendengarkan cerita tentang pengalaman pertama saya bermain BGFP. Terima kasih sudah mendengarkan dengan baik dan menyenangkan. Bunga yang bernama wanita tapi tomboy. Hamidi, dengan kupluknya yang membuat ia terlihat semakin mirip ustad Hanan Attaki. Yolla, teman ngobrol tentang anak angkatan 2013, dan obrolan yang berbau mahasiswa tahun akhir seputar kuliah. Aiqan yang ternyata ketua PHP UKM PHP UA 2015. Serta yang lainnya, Dandy, Neneng "surga express xp", Mila si anak DKV, kak Nia dari Toraja, dan Ica. Juga untuk dek Riska, dek Sasa, dan dek Ara.

Tak lupa, mereka yang satu kelompok Peace Family-ku, kak Lisya, sang kakak fasil, terima kasih sudah berusaha menjadi fasil yang mengayomi, terima kasih pula buat tumpangan kamarnya untuk sholat Zhuhur. Yeah, kami jadi enggak ngantri di musholla. Kemudian Rial, anak HI, PHP, dan sedang berada di komunitas Sahabat Pulau yang salah satu prokernya mengedukasi anak-anak. Mengenal Rial dan Aiqan meruntuhkan stereotipe saya tentang anak PHP yang "keras" dan suka berontak. Lalu Ica, teman ngobrol banyak hal, terutama soal dosen dan kampus. Ada lagi Eka dan Tio.

Terima kasih juga buat teman-temanku, Eko, atas percakapan-percakapan yang berfaedah atau tidak, dan info-info event terbaru, serta tawaran tebengan pulang yang saya tolakShelly, atas salam, senyum, dan sudah menjadi photographer dadakan untuk beberapa kali sesi foto. Ayu, atas semuanya Yu!

Beberapa ada yang saya lupa namanya. Maaf, saya emang suka gitu, butuh energi ekstra untuk mengingat nama-nama orang yang baru ditemui, juga dengan wajahnya. Apalagi kalau enggak begitu berkesan. Tapi untuk beberapa, wajahnya ada yang saya ingat kok.

---

Tidak ada yang sepenuhnya benar, sepenuhnya salah, sepenuhnya baik, sepenuhnya buruk. Penglihatan manusia terbatas, dan sudut pandang ada banyak.

Jujur, tujuan utama saya ikut BGFP adalah karena ingin refreshing, keluar sejenak dari rutinitas, sambil menambah pengalaman dan ilmu. Toh, ikut ini atau tidak, saya tetap cinta damai. Awalnya saya pikir bahasan di sini lebih netral dan menyeluruh, menyentuh setiap kelompok. Misalnya saja soal hate speech yang sedang ramai terlebih di dunia maya.

Ternyata kebanyakan bahasan tentang kelompok ekstrimisme, radikalisme, serta menyentuh yang berbau Islam, Timur Tengah, dan teror. Saya merasa ini sudah terhubung dengan agama; keyakinan. Contohnya sewaktu memberi pertanyaan tentang agama, kenapa mesti mengkotak-kotakkan Islam menjadi NU, Muhammadiyah, atau yang lain?  

Intinya sih, banyak-banyak menambah ilmu, dan dalam proses itu, jangan mudah menelan semuanya mentah-mentah. Saya tidak mengatakan acara ini salah ya. Hanya saja, kalau untuk yang berhubungan dengan hal sensitif seperti agama, kita mesti banyak belajar, dan hati-hati dalam menerima. Jangan sampai salah memaknai. 

Di acara ini, bukan hanya dari materinya yang menyinggung soal agama, namun hal itu juga memancing beberapa peserta untuk ngobrol-ngobrol hal ini di sela-sela coffee break. Bagaimana pandangan anak-anak HI soal eksistensi Tuhan, bagaimana pandangan anak UIN soal eksistensi Tuhan. Mereka yang non HI, non UIN juga angkat bicara atau ada yang sekadar mendengarkan. Jadi ya itu tadi, kalau pondasi tidak kokoh, hati-hati dengan pembicaraan yang berbau soal keyakinan ini.

Acara ini juga banyak membahas soal IS*S, dan hei! Siapa yang tidak tahu akan kejamnya kelompok ini? Namun, bagi yang belum tahu, acara ini memberi tahu bagaimana sih IS*S itu. Saya yang sudah tahu saja, ternyata hanya tahu kulit-kulit luarnya. Dari acara ini, saya jadi lebih tahu banyak, melihat video dokumenternya, mengetahui bagaimana ia "menjerat" anggota baru. Tentang teror. Saya juga tahu tentang JI dan terorisme di Indonesia.

Tentang game. Saya jadi tahu beberapa filosofis suatu game atau sejarah kenapa ia dibuat. Seperti game ular tangga yang ternyata dipakai untuk mengenalkan kepada anak-anak tentang sistem karma. Kemudian ada banyak game-game lainnya, terutama yang bersifat edukasi, seperti GEOlino Meltdown Game yang mengedukasi tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Masih banyak game edukasi yang lain. 

Ternyata, game tidak melulu soal kompetisi dengan pemain yang lain, tapi ada juga yang lebih ke koordinasi dengan yang lain. Salah satunya adalah Board Game for Peace (BGFP) ini. Kabarnya, game ini akan dipresentasikan ke Jerman. Karena, usut punya usut ternyata games di Jerman itu banyak tentang edukasi dan koordinasi, bukan perihal saling mengalahkan untuk jadi menang sendiri, tetapi bersama-sama mencapai tujuan.

Tugas mencari orang-orang untuk bermain BGFP ini di GOR membuat saya keliling GOR sana sini, dikira sales, dan akhirnya karena tidak mendapatkan "mangsa", saya bermain dengan uun kadai bersama 2 uda-uda kadai dan 1 apak-apak. Padahal saya mencari anak-anak sekolah menengah atau setidaknya yang seumuran lah. Dapatnya yang itu tadi. Yaudahlah ya, kita coba gimana pula lah rasanya. Saya melawan sifat ansos saya terhadap orang-orang baru, dan berusaha menjadi sok-sok ramah kepada mereka yang agak yang terlihat reman (mempunyai sifat preman -red). Tapi, balik lagi ya, jangan mudah menilai orang. Apalagi yang baru kenal. Do not judge the book by its cover, they said. What an experience! Mereka juga sudah menolong saya minta fotokan ke seorang temannya untuk dokumentasi.


---

Oh ya, terima kasih untuk pengalaman pertama kalinya menginap di Hotel Ibis Padang, sendirian pula di kamar 316 ini. Review kamar: saya kebetulan dapat single large bed sementara yang lain dapat dua karena berdua. Diam-diam saya bersyukur roommate saya enggak datang, ckckck, ah, pemikiran macam apa ini. Kamarnya begitu minimalis. Ada closet, tempat duduk sekaligus tempat menyetrika, pemanas air beserta air dan kopi gula creamer dan teh, refrigerator, semacam radio, meja, dan telepon (tentu saja), dan TV tempat saya mencari-cari NET TV tapi tidak ketemu. Toiletriesnya lebih minimalis lagi, plus irit. Ada shower, closet duduk, sampo dan sabun 2 in 1 berwarna hijau yang berada di dalam satu tempat tergantung di dinding, lalu ada shower cap, pasta gigi dan sikat gigi, serta sanitarian bag.

Acara ini tentu saja berbeda dengan GHTL bulan Juli lalu, namun karena sama-sama ada kelompoknya dan sama-sama menginap di hotel, saya jadi ingat GHTL. GHTL merupakan salah satu event yang sangat-sangat berkesan baik bagi saya. Malam itu, saya mimpi satu kelompok lagi dengan teman-teman GHTL di suatu acara :) Walau mimpinya rada aneh :|

---

Di BGFP Padang, mata saya jadi lebih terbuka, wawasan saya jadi lebih luas, dan ilmu saya bertambah. Saya jadi tahu tentang game-game edukasi yang ada di dunia ini. Tidak semua melulu soal kompetisi. Tentang mendengarkan, bahwa jangan suka menyela pembicaraan, jangan mudah menilai seseorang, jangan cepat menghakimi seseorang.

-elthnad, salam damai V^.^

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan kritik dan saran yang santun dan membangun :)