Surat Cinta: Apakah Cinta Rupiah Bisa Mendatangkan Kebahagiaan?

Halo! Aku Rupiah. Aku biasa menemani hari-harimu. Kau ingin memilikiku. Kau bekerja untuk mendapatkanku. Sebab, melalui dirikulah kau bisa membeli ini itu. Aku bisa sebagai alat tukar barang atau jasa, aku bisa sebagai alat satuan hitung, atau mungkin untuk disimpan karena kadang aku bisa menjadi alat penyimpan dan pemindah kekayaan. Aku ini banyak gunanya.

Aku Rupiah, uangmu. Aku biasa menemani hari-harimu, melengkapi kebutuhanmu, atau mungkin hanya sekadar memenuhi keinginan nafsu. Tapi, apakah kau benar-benar mencintaiku? Apakah kau benar-benar CINTA RUPIAH? Apakah kau cinta dengan eksistensi uang rupiah ini? Apakah kau mau mendukung program "Gerakan Cinta Rupiah" Bank Indonesia tempat aku berasal?

Lalu engkau bertanya, Memangnya kenapa kita harus cinta rupiah?
Cinta rupiah adalah bela negara tanpa senjata | Sumber: twitter.com/bank_indonesia
Cinta rupiah merupakan bentuk bela negara tanpa senjata. Well, well, well, kau tahu, sebetulnya cinta rupiah itu wajib lho! Berdasarkan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI. Selain sebagai alat pembayaran yang sah, rupiah juga merupakan salah satu simbol kedaulatan negara yang wajib dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia.

Merawat rupiah adalah bentuk cinta dan rasa menghargai. Selain menjaga simbol kedaulatan negara, merawat rupiah juga merupakan bentuk cinta dan menghargai proses pembuatannya. Oleh karena itu, uang bisa menjadi tetap awet dan meminimalisir uang yang akan dihancurkan. Lagipula, semakin lusuh uang itu, akan semakin sulit mengenali ciri-ciri keasliannya.

Apa yang harus dilakukan untuk membuktikan rasa cinta rupiah?
Aku tidak meminta hal-hal yang rumit. Aku hanya meminta tolong padamu untuk tetap menjaga keutuhan uang itu sendiri. Cara yang lain adalah tidak memalsukan uang, tidak korupsi, dan gunakanlah rupiah dengan bijak, contohnya dalam belanja.

Menggunakan produk dalam negeri juga merupakan hal yang menunjukkan bahwa kita cinta rupiah, lho. Sebab, menggunakan produk dalam negeri dapat membantu nilai rupiah serta kekayaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia itu sendiri. Pengurangan konsumsi produk impor memiliki andil dalam menguatkan rupiah karena mengurangi ketergantungan kita terhadap dolar dan mata uang asing lainnya. Kita mau nilai tukar rupiah naik kan?

Oh ya, mengenai menjaga keutuhan uang rupiah itu, ada lima hal yang msti diperhatikan. Pernah dengar "5 Jangan"? Mari aku ingatkan lagi ingatannya ya,

1) Jangan dicoret. Aku si rupiah bukanlah kertas surat tempat kamu berkomunikasi dengan dengan pemilik baruku. Jadi tolong, tidak usah tinggalkan tulisan "sms aku ya di 08XX XXXX XXXX". Tak perlu pula dicoret-coret gambar pahlawan yang ada pada diriku.

2) Jangan distepler. Aku bukan berkas-berkas yang akan kamu masukkan ke sebuah instansi. Tak perlu menyatukan aku dengan teman-teman uangku dengan stepler. Masih ada cara yang lain kok, selain melubangi diriku dengan stepler.

3) Jangan dilipat. Aku bukan kertas origami. Lipatan-lipatan itu lama-lama membuatku lusuh. Terus bagaimana untuk kotak amal, lubangya kan kecil? Kalau teman-teman mau memasukkan uang kertas ke dalam kotak amal, sebisa mungkin jangan melipat dengan keras sehingga menimbulkan garis ya. Kalau bisa sih, hindari memasukkan uang kertas ke kotak amal yang lubangnya sempit.

4) Jangan dibasahi. Aku tak perlu mandi kok. Kalaupun aku terkena debu jalanan, aku tak perlu mandi dengan air untuk dibersihkan. Bukan hanya debu-debu itu saja yang hilang, ciri-ciri keaslianku mungkin juga bisa turut hilang.

5) Jangan diremas. Ah, teman-teman kan sudah jelas, aku bukan squishy.

Rupiah. Sumber: Doc Pribadi
Bagaimana jika kita mendapatkan uang yang lusuh?
Lihatlah gambar di atas itu, sebelah mana yang lebih bagus? Tentu saja ketika keadaanku masih mulus kan? Namun, bagaimana jika diriku sudah lusuh bahkan lebih lusuh dari gambar di atas itu? Teman-teman bisa menukarkannya ke Bank-bank sekitar. Ingat, semakin lusuh uang itu, akan semakin sulit mengenali ciri-ciri keasliannya. Kita cinta rupiah, kita menjaganya.

Apakah menjaga rupiah bisa mendatangkan kebahagiaan?
Seringkali kita mendapati kalimat ini "uang bukan segalanya". Uang memang tidak bisa sepenuhnya membeli kebahagiaan. Karena kebahagiaan tidak dapat didefinisikan dari uang. Dan, memanglah, walau uang bukanlah yang terpenting, tetapi uang itu penting. Uang dapat menjadi jembatan. Jembatan yang baik adalah jembatan untuk kebaikan, membantu sesama, membantu Indonesia. Berbagi rupiah, berbagi kebahagiaan. Menjaga rupiah, menjaga kedaulatan negara kita.

Salam, yang kerap membersamaimu,
xoxo
Rupiah

4 comments:

  1. Setuju sekali dengan poin paling bawah. Saya juga kadang sedikit jengkel kalau ada yang bilang uang bukan segalanya. Tapi dengan uanglah perantara mendapatkan bahagia. Saya berfikir ya realistis aja. hehehe

    salam kenal mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, aku justru setuju sama kalimat "uang bukanlah segalanya" Mba. Walau uang itu bukan yang terpenting, tetapi uang itu penting juga.
      Hehe, but i get the point. Mba setuju sama uang itu penting dan uang dapat menjadi perantara kebahagiaan ya? Yup! Terima kasih komentarnya Mba ^^

      Delete
  2. Uang luar negeri pun lecek dikit bekas lipatan aja udah masalah. Malah kadang pas mau jual duit sisa, money changer di sini suka nggak mau. Makanya perlakuan ke rupiah pun kita juga harus selalu sama.

    BTW kalau ada yang bilang uang itu nggak penting? Hemm... mungkin dia nggak pernah beli beras dan bayar kontrak rumah, hahah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ke depannya perlakuan masyarakat kepada rupiah juga begitu ya Mbak. Yuk sama2 kita budayakan menjaga rupiah ^^

      Hehehe, bisa jadi bisa jadi Mba

      Delete