Ketika Diam Bukan Emas

Ada pepatah yang populer mengatakan "diam itu emas". Tentu saja, siapa di sini yang tidak percaya bahwa lidah adalah senjata yang paling tajam? Ia dapat membunuh secara tidak langsung. Lalu, ada yang bilang bahwa "diam itu emas, berbicara itu adalah mutiara/berlian". Dalam artian, semuanya merupakan benda yang bernilai tinggi. 

gold and diamond
Lalu, manakah yang lebih bagus? Sejatinya, semua berada pada tingkatan yang sama, dan jawabannya adalah tergantung pada situasi dan kondisi. Benar sekali, diam tetaplah emas. Ketika lebih baik untuk menahan bicara daripada melukai. Tapi jika saatnya bicara dibutuhkan, apakah diam masih emas?

"Kedzaliman terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena diamnya orang baik" 
-Ali bin Abi Thalib

Ada kalanya diam bukanlah emas. Ada kalanya, kita perlu angkat suara. Kapan? Ya, ketika hak-hak telah direbut. Ketika penindasan merenggut kebebasan. Pada saat semua sudah berjalan melenceng dari garis yang seharusnya, garis kebenaran. Ya, ketika kejahatan terjadi.

Kejahatan ada banyak ragamnya di dunia nyata dan tak terkecuali di dunia maya. Hayo, pembaca semua pasti tahu lah ya, tindakan apa saja yang termasuk ke dalam kejahatan. Tulisan ini tidak akan membahas dan menjabarkan jenis-jenis kejahatan, karena tulisan ini akan fokus pada bullying atau yang selanjutnya disebut sebagai kekerasan.

Apa itu bullying?

Definisi Bullying menurut PeKA (Peduli Karakter Anak) adalah penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual.

Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategori bullying; pelaku baik individual maupun grup secara sengaja menyakiti atau mengancam korban dengan cara:
  • Menyisihkan seseorang dari pergaulan,
  • Menyebarkan gosip, membuat julukan yang bersifat ejekan,
  • Mengerjai seseorang untuk mempermalukannya,
  • Mengintimidasi atau mengancam korban,
  • Melukai secara fisik,
  • Melakukan pemalakan/pengompasan.

Lalu berikut adalah dampak dari bullying:
  • Depresi
  • Rendahnya kepercayaan diri /minder
  • Pemalu dan penyendiri
  • Merosotnya prestasi akademik
  • Merasa terisolasi dalam pergaulan
  • Terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri

Contoh Kasus Bullying
Berita korban bullying di NTT
Bahkan belum lama ini terjadi, seorang siswa minum racun karena hinaan dari guru. Baiklah, di sini kita tidak membahas bagaimana peran guru seharusnya, karena pembaca sudah tahu kan ya? Jadi, ceritanya siswa yang berinisial FK (16) ini minum racun rumput akibat diduga dibullying atau dihina gurunya pada Kamis, 31 Agustus 2017, sehingga akhirnya dirujuk ke RSUD Prof DR WZ Johannes, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia adalah siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Satu Atap Waiwaru, Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, NTT. Dikutip dari Liputan 6, FK berujar "Saya sering dihina makanya malu dengan teman-teman." di RS. "Dia bilang saya punya rumah seperti kandang babi. Lalu, saya keturunan atau anak dari orangtua tidak jelas," imbuhnya.

Berita korban bullying di Tarnus
Ada lagi kasus bullying baru-baru ini. Kali ini pelaku adalah teman sekolah, anak sekolah kepada anak sekolah. Dikutip dari Tribunnews, Wakapolres Magelang, Kompol Heru Budiharto, mengatakan bahwa tempat kejadian perkara (TKP) masih berada di lingkungan SMA TN, yakni di Graha Rajawali I. Ia memaparkan, korban -yang berinisial MIH (15)- dipukul oleh seorang rekannya di bagian perut. Tidak berhenti sampai disitu, MIH juga mendapat pemaksaan untuk berkelahi. "Perkelahian itu juga direkam oleh teman lainnya. Kejadiannya di dalam mushala. Sempat istirahat, anak korban disuruh berkelahi lagi selama 10 menit, sampai akhirnya datanglah H yang menghentikan sekaligus memberi perlindungan," terangnya, Senin (4/9/2017).

Berbeda dengan kasus di atas, kali ini korban melapor kepada orang tuanya terlebih dahulu ketimbang habis akal dan minum racun. Kemudian ibu dari MIH, EC (45) lantas membuat laporan ke Polres Magelang pada Sabtu (2/9/2017), perihal kasus bullying tersebut.

Lantas, apa yang harus dilakukan?
Sudah lihat, apa bedanya? Yang satu diam dan memilih menambah rasa sakit pada diri sendiri. Yang satunya lagi, mengadukannya. Mana yang lebih baik untuk dilakukan? Tentu saja, speak up, angkat suara, bicara, laporkan. Diam bukan lagi pilihan.

Ah ya, sebagai tambahan, ini ada video dari Nessie Judge mengenai kasus bullying yang berakhir tragis. Kebanyakan ada di luar Indonesia. Tetapi tidak menutup kemungkinan ini juga bisa dilakukan di Indonesia, bukan?


Adakah lembaga yang melindungi korban dan saksi?
Ada, salah satunya adalah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (disingkat menjadi LPSK). LPSK adalah lembaga mandiri yang didirikan dan bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan dalam pemenuhan hak-hak pada saksi dan/atau korban berdasarkan tugas dan kewenangan sebagaimana diatur dalam UU No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. LPSK ini berkedudukan di ibu kota negara Republik Indonesia, dan mempunyai perwakilan di daerah sesuai dengan keperluan. Lembaga ini bertanggung jawab kepada Presiden.

LPSK
Apa saja hak-hak yang dimiliki oleh saksi dan/atau korban?
Berdasarkan UU No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, seorang saksi dan/atau korban berhak:
  • Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
  • Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;
  • Memberikan keterangan tanpa tekanan;
  • Mendapat penerjemah;
  • Bebas dari pertanyaan yang menjerat;
  • Mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus;
  • Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan;
  • Mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan;
  • Mendapat identitas baru;
  • Mendapatkan tempat kediaman baru;
  • Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;
  • Mendapat nasihat hukum; dan/atau
  • Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir. 
Jika korban berada dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berat, maka berhak juga mendapatkan bantuan medis dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial.

Korban melalui LPSK berhak mengajukan ke pengadilan berupa hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat; dan hak atas restitusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) 
Jl. Raya Bogor KM 24 No 47-49 
Susukan, Ciracas, Jakarta Timur


Jadi, jika waktunya diam bukanlah emas, bicaralah! Kadang, diam bukan pilihan.

Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang baik.

20 comments:

  1. ternyata emang diam gk selalu emas y mbk. makasih sharingnya mbk, sngat brmanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, semua tergantung situasi dan kondisi :)

      Delete
  2. untuk kasus2 begini, harus berani speak up yaa....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba, lagian kan ada lembaga yang melindungi kan ya :D

      Delete
  3. Nice writing! Yap, memang kadang nggak semoa orang tahu mau lapor ke mana, thanks for sharing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for coming and leaving your footprint Mba :D

      Delete
  4. Tak selamanya diam juga bisa menyelesaikan masalah ya mba. Apalagi diam dari bullyan jangan deh. Suka sedih lihat korban bullying.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap Mba, kadang kita perlu bicara. Apalagi sudah ada lembaga yang melindunginya juga kan :D

      Delete
  5. Maka sesuaikanlah tempatnya dan pahami karakteristik orang-orang tesebut.Ibarat pepatah dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba, pahami karakteristik orang. Kalau saling memahami akan lebih baik, orang yang datang memahami dan orang yang didatangi juga memahami. :)

      Delete
  6. Kalau untuk kasus bullying memang gak bisa diam mbak. Karena itu udah termasuk tindak kriminalitas. Aku juga ada artikel yang sama tentang cyber bullying. Ini juga lebih kerasa dampaknya pada psikologis anak. Ngeri ya kalo ngomongin bully suka kesel sendiri. haha

    ReplyDelete
  7. Diam adalah emas, sedangkan saya manusia, bukan emas. Jadi ada saatnya saya diam, ada saatnya saya lawan. Nyinyir balas nyinyir, songong balas songong, biar tau diri itu orang.

    ReplyDelete
  8. Penting sekali membekali diri dengan kemampuan melawan dan membela diri, termasuk melawan verbal bullying yaa Mbak Elisa..thank you info nya penting sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Mba Dira ((membekali diri dengan kemampuan melawan dan membela diri)). Makna bela diri gak sebatas yang kayak karate, taekwondo, silat, dll itu ya Mba. Hehe. Btw nama saya kurang 'R'nya Mba 😄

      Delete
  9. Kadang harus berani mbalas juga mb. Nggak bisa selalu diam gitu aja. Karena kalau didiemin bisa jadi tambah dibully. Lebih baik melawan sebisa kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Balasnya bagaimana dulu kan Mba. Hal yang penting adalah bagaimana cara membalasnya. Setuju kan Mba? 😄

      Delete
  10. Sometimes memang harus berani speak up ya. Biar jangan sampai terulang ke orang lain lagi.

    ReplyDelete