Aku (Masih Terus) Hijrah: Kampus Ungu yang Mengajarkanku

Suatu hari, saat Family Gathering di salah satu organisasi yang saya ikuti, ada sebuah sesi di mana kita semua yang ada di sana membuat sebuah gambar sungai tentang perjalanan hidup kita. Namanya "The River of Life".

The River of elthnad's Life

Jadi itu adalah gambar sungai kehidupan kita, yang mungkin bercabang, mungkin ada halangan, rintangan, atau hal-hal lain. "Percayalah, sungai yang kalian lalui adalah sungai yang terbaik," begitu kata kak Deges kala itu. Sungai yang kalian lalui, sungai yang kita lalui, jalan hidup yang kita jalani, adalah yang terbaik. 

Every single day we have a choice
Ini adalah gambar favorit saya semenjak saya melihatnya pertama kali di display picture akun sosial media seseorang. Adakah di antara teman-teman yang pernah melihat gambar di atas? Sejatinya dalam hidup ini kita melalui jalan yang sama, namun tergantung pada kita, sisi mana yang ingin kita lihat, tebing kelam atau pemandangan yang indah.

Menjadi mahasiswa baru
2013, adalah tahun di mana saya menjadi mahasiswa baru. Bukan pada kampus yang diidam-idamkan semula. Namun, adalah suatu hal yang harus disyukuri pula, mengingat tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Pun tidak dipungkiri bahwa bangku yang saya duduki adalah bangku yang telah dperebutkan mereka di luar sana, yang mungkin lebih menginginkannya dibanding saya. Merantau, dan babak baru kehidupan pun dimulai.

Tidak jadi mahasiswa baru, mentoring, dan titik pindah
Tahun berikutnya, saya mencoba merebut bangku lain. Saya mendapatkannya! Namun ternyata, bukan hanya tidak lulus saja yang namanya tidak rejeki. Sudah lulus pun kadang juga bisa berarti tidak rejeki. Jika kembali diingat, sebetulnya ini bukan kali pertama karena di tahun kemarin juga telah memilih satu di antara dua. Saya tidak menjadi maba lagi, saya adalah anak tahun dua. Mencoba ikut organisasi untuk membunuh waktu yang membuat rindu pulang dan menambah relasi, serta poin plus-plus lainnya yang bisa didapatkan melalui organisasi.

Kehidupan kampus umum (non agama) membuat saya merasa haus akan siraman rohani. Terlebih mata kuliah agama tidak ada pada setiap semester. Maka, mengikuti forum studi islam yang ada di kampus adalah sebuah pintu yang saya ketuk, lalu saya masuk. Saya merasa, beruntungnya saya, kampus ini sebetulnya punya atmosfer yang baik, senior yang ramah dengan tangan terbuka untuk bantuan.

Jika berbicara mengenai masa orientasi sekaligus kaderisasi, kampus ini memiliki program-program yang cukup oke. Mentoring salah satunya. Mentoring, atau lanjutnya orang menyebutnya sebagai tarbiyah, adalah salah satu syarat agar maba bisa lulus "warga negara" (warga fakultas). Tentu saja, ini hanya diwajibkan untuk muslim.

Menjadi warga fakultas, akan menjadikan kita memiliki hak-hak, seperti mengikuti kegiatan organisasi di fakultas. Nantinya jika sudah lulus, maka tidak wajib lagi mentoring. Namun saya tetap lanjut, soalnya kakaknya asyik dan juga saya butuh siraman bagi hati nan kering ini.

Namanya kak Fanny. Sekarang beliau adalah mahasiswa magister di Glasglow, awardee LPDP. Beliau orangnya murah senyum, suka menyapa, baik, dan segala pujian yang sebetulnya tak ingin saya tuliskan karena terkesan melebihkan, namun begitulah ia adanya. Beliau adalah salah satu kakak mentor saya, di mana saat mentoring dengannya adalah titik di mana saya -katakanlah- berubah, dalam pikiran, dan dalam berpakaian.

Tahun Ketiga
Saya semakin menikmati berorganisasi. Hingga merasa bosan dengan lingkup fakultas. Saya ingin di lingkup yang lebih besar, dan mencoba di lingkup universitas. Ternyata, tidak semudah yang dikira. Jarak fakultas dengan universitas pusat yang lumayan jauh, dan jadwal kuliah yang padat, membuat saya cukup kewalahan. Hasilnya, saya kalah dalam seleksi alam. Saya mundur. Saya terhenti, tidak bisa lanjut. Pupus.

Tahun Keempat
Masih dengan semangat organisasi ditambah jadwal kuliah yang sudah lebih renggang, saya kembali lagi ke gedung Pusat Kreativitas Mahasiswa, universitas, mengetuk pintu organisasi lain. Singkat cerita, saya belajar banyak dari kesalahan manajemen waktu di masa lalu. Saya memperbaiki diri saya. Hingga sempat menjadi pengurus terbaik kementerian, dan bahkan menjadi perwakilan mengikuti agenda nasional di luar kota bahkan luar pulau. Selang tak berapa lama, saya juga berkesempatan ikut agenda international, fully funded.

Mungkin saja... Jika saya tidak jadi kuliah di kampus ini, entah bagaimana diri ini sekarang, pikiran dan cara berpakaian. Jika saya lanjut di organisasi tahun ketiga itu, mungkin saya tak pernah ikut agenda nasional dan internasional tahun keempat.

RencanaNya ialah sebaik-baik rencana, begitu kan? Kita tata saja hati kita, lalu kita buka. Hingga pada akhirnya kita temui alasan kenapa kita begini begitu dan kenapa kita berada di sini atau si situ.

Saya, yang pada awalnya adalah orang yang anti wanita berbaju lebar dengan kerudung dalamnya, sekarang merubah cara pandang saya seratus delapan puluh derajat. Pun bagi laki-laki bercelana gantung dengan jenggot di dagu, saya kadang menaruh rasa kagum. Entah bagaimana yang terjadi jika saya tidak lanjut di kampus ini, dan tidak lanjut mentoring.

Kehidupan di sini yang membuat saya ingin ikut ini-itu (dalam lingkup positif), kehidupan di sini yang memberikan teman-teman yang saling menyemangati untuk perkara dunia dan akhirat.

Kampus ini, kampus yang semula saya rendahkan, karena saya arogan. Ternyata, dua kali mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi, hanya kampus ini yang menerima saya. Kadang, hidup memang selucu itu. Kampus yang pernah saya pandang sebelah mata, dan orang-orang yang ada di dalamnya. Kemudian waktu kosong dan pertanyaan "kuliah di mana" saat tidak lulus seleksi undangan, membuat saya sadar bahwa mereka yang telah masuk, pun yang belum berkesempatan, telah berjuang.

Tentang perjuangan, hingga tahun akhir dan tugas akhir, yang dulunya saya kira yang telat wisuda itu ialah para pemalas dan 'agak kurang', sekarang saya sadar, itu tak sepenuhnya betul. Setiap orang memiliki tantangan masing-masing.

Semakin ke sini, saya semakin melihat dari berbagai sisi. Mencoba melihat dari perspektif orang lain. Sebab, melihat dari sudut kita saja tidaklah pernah cukup. Lalu, inilah saya sekarang, yang telah hijrah, pindah dari pemikiran masa lalu ke pada pemikiran yang baru. Saya belum sepenuhnya sempurnya. Ilmu saya masih dangkal. Masih terus belajar menjadi muslimah yang saliha dan inspiratif. Saya masih terus berusaha jadi lebih baik dengan berhijrah. Berusaha membuat sungai kehidupan ini tetap berjalan dan berhasil menghadapi tantangan, agar airnya senantiasa jernih.

Salam,
Elrisa Thiwa Nadella
(elthnad)

***

No comments:

Post a Comment