Menjadi Perempuan Indonesia: Masih (perlu) Terus (semangat) Berjuang

Waktu terus bergulir, keadaan terus berkembang, dan perubahan-perubahan telah muncul ke permukaan. Suatu kepastian bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Nasib-nasib yang menunggangi alam dalam kehidupan ini terus berganti. Namun pergantian itu tidak konstan. Ada yang cepat berganti, ada yang lama berganti. Di sanalah yang namanya perjuangan itu berperan. Peran perjuangan takkan lepas dalam membuat suatu perubahan. Sebagaimana perjuangan pada masa lalu Indonesia, masa mendapatkan kebebasan, masa merebut kemerdekaan, masa-masa perjuangan. Perjuangan, yang akan terus ada sesuai dengan konteks masing-masing zaman.

Tokoh perempuan Indonesia masa lalu

Dulu, berabad-abad Indonesia dijajah, tak dapat dielakkan bahwa perempuan Indonesia punya peran dalam kemerdekaan. Telah banyak tokoh-tokoh wanita Indonesia yang berjuang dalam era penjajahan. Sebut saja, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, Cut Nyak Meutia, Hj. R. Rasuna Said, Nyi Ageng Serang, Maria Walanda Maramis, Opu Daeng Risadju, Nyai Ahmad Dahlan, Malahayati, Siti Manggopoh, Rohana Kudus, dan masih banyak lagi. 

Ada juga Hj. Fatmawati Soekarno, ibu negara yang menjahit bendera Sang Saka, Hj, Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tin, ibu negara pada masa Soeharto atas jasa beliau dalam perang revolusi bersama Laskar Putri Indonesia serta peran beliau dalam masa pemerintahan Soeharto. Maka jangan pula lupakan ibu Hj. Ainun Habibie, dan ibu-ibu negara lainnya. Saya percaya bahwa di balik laki-laki hebat, ada perempuan yang hebat pula.

Berbicara mengenai wanita, tentu sosok Raden Ajeng Kartini tak lepas dari topik pembicaran. R.A Kartini disebut-sebut sebagai tokoh emansipasi wanita yang berjuang agar perempuan bisa mendapatkan hak pendidikan setinggi-tingginya. Melalui surat-surat beliau kepada teman Belanda-nya, hingga lahirnya buku Habis Gelap Terbitlah Terang itu, R.A Kartini merupakan tokoh perempuan yang terkenal. Bahkan sampai ada Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. 

Perjuangan perempuan yang takkan pernah usai

Setelah emansipasi disuarkan, seperti yang kita ketahui dan rasakan pada saat ini, persamaan hak laki-laki dan perempuan sudah mulai tampak. Perempuan saat ini sudah bisa mengecap pendidikan, bahkan bekerja layaknya kaum pria. Namun satu hal yang mesti diketahui oleh kaum perempuan adalah: perjuangan itu belum usai dan takkan pernah usai. Perjuangan akan selalu ada. Entah itu sebagai bentuk perlawanan ketidakadilan, atau sebagai bentuk pencapaian prestasi.

Perjuangan dalam menumpas

"Persoalan sangat banyak. Angka Kematian Ibu, penyelundupan manusia, buruh migran, dan partisipasi perempuan. Itu persoalan utama perempuan di Indonesia" 
(Ledia Hanifa, anggota DPR RI).

Meskipun perempuan modern sudah mulai menampakkan eksistensinya dibandingkan dengan masa lalu, namun bukan berarti permasalahan perempuan Indonesia telah habis. Masalah-masalah klasik seperti diskriminasi, persoalan kekerasan, pelecehan seksual, masih ditemukan di era modern ini. Kadang dalam beberapa kondisi, kelihatannya tidak semiris itu, namun masih menjadi sisi yang sebaiknya tidak ada demi mewujudkan kesetaraan gender, yaitu beban ganda perempuan. Ketika wanita karir berperan sebagai pencari nafkah dan kemudian juga berperan mengurus rumah tangga, sementara kaum lelaki hanya berperan sebagai pencari nafkah.

"Jangan panggil aku perempuan sejati jika hidup berkalang lelaki. Namun bukan berarti aku tak butuh lelaki untuk aku cintai." 
(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia)

Memang benar, bahwa perempuan tidak boleh meninggalkan keluarganya, karena peran perempuan dalam keluarga sangatlah penting. Sekiranya, ada pemahaman yang keliru tentang isu feminisme. Sebetulnya, feminis tidaklah membenci lelaki, apalagi melemahkan kaum laki-laki. Menjadi seorang yang feminis, bukan berarti tidak mau menikah.

Namun tak dapat pula sepenuhnya beban-beban rumah tangga dilimpahkan kepada perempuan. Akan lebih indah rasanya jika di dalam rumah tangga, saling bahu membahu, saling tolong menolong, tidak membebankan pekerjaan rumah tangga hanya kepada kaum wanita.

Perjuangan dalam mencapai 

Maksudnya adalah perjuangan dalam mencapai prestasi. Perempuan masa kini pun tak kalah dari laki-laki. Ada banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh tokoh-tokoh perempuan masa kini.

Tri Mumpuni yang telah berhasil membangun pusat-pusat tenaga listrik di lebih dari 60 desa terpencil yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Andi Rabiah sang suster apung yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan mengarungi laut demi menolong pasien yang membutuhkan. Butet Manurung sang relawan pengajar di pedalaman hutan duabelas di Jambi sebelum adanya Indonesia Mengajar. Tri Rismaharani sang walikota Surabaya nan gigih, tangguh, dan pekerja keras. Mazidah Salas sang pahlawan buruh imigran. Susi Pudjiastuti. Siapa yang tak kenal dengan Menteri nyentrik satu ini? Sosok Menteri Kelautan dan Perikanan yang tangguh. Sri Mulyani, sosok cerdas yang juga telah diakui di dunia Internasional.

Kita semua percaya bahwa masih ada banyak lagi sosok perempuan masa kini yang berprestasi. Lihatlah para pemimpin perempuan itu, atlet perempuan itu, para pendidik itu, founder perempuan, dan perempuan-perempuan tangguh lain. Masih banyak lagi sosok perempuan masa kini yang telah berjuang demi kebaikan kita bersama. Para relawan wanita, para ibu-ibu tangguh yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, atau mungkin perempuan yang berprestasi di sekolahnya. Atau kita? Kita kah? Mari kita buktikan.

Perempuan Indonesia

Nama-nama yang tercantum pada postingan ini adalah sosok inspirasi saya, sosok nyata, bahwa perempuan punya peran. Sosok nyata, bahwa perjuangan perempuan itu ada. Perjuangan yang terus diperjuangkan. Tentu saja masih ada segudang tokoh perempuan lainnya yang telah menginspirasi. Tidak jauh-jauh melintasi jarak dan waktu, karena jika kita lihat di sekitar kita, akan kita temukan para perempuan pejuang kebaikan itu.

Gerakan perempuan

Perjuangan perempuan itu sudah ada dari dulu, sebagaimana kita mengenal dari bacaan sejarah bahwa ada banyak tokoh wanita yang berperan untuk Indonesia. Gerakan perempuan pun sesungguhnya juga memiliki persatuan semenjak dulu. Dua bulan setelah Kongres Pemuda yang melahirkan Soempah Pemoeda, pada 22-26 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan pertama di Indonesia. Hal ini mengartikan bahwasanya perempuan pun mempunyai persatuan untuk bersama-sama memperjuangkan haknya. Karena dengan bersama-sama, dengan bersatu, dengan bekerja sama, tujuan akan tercapai dengan lebih mudah. Karena dengan bersama, diharapkan semangat juang takkan pernah padam.

Lalu kami, dari berbagai macam almamater ini, mewakili teman-teman yang lain, mewakili Indonesia, demi Pemberdayaan Perempuan, demi Indonesia yang lebih baik. Kami, adalah sedikit dari banyak perempuan pejuang. Pastilah, ada banyak gerakan nyata lainnya dari perempuan oleh mereka. Juga kamu, yuk kita jadikan bangsa dan negara ini menjadi lebih baik.

HIDUP PEREMPUAN INDONESIA! (klik untuk melihat video)
Di sela-sela Munas BEM SI - X di Samarinda, Januari 2017 yang lalu

Menjadi Perempuan Indonesia

Kita tak bisa memilih kita lahir sebagai siapa, di mana, menjadi perempuan bangsa apa. Menjadi perempuan Indonesia adalah sebuah takdir. Menjadi perempuan Indonesia, yang tumbuh di tengah pluralnya bangsa ini dari Sabang sampai Merauke tentulah menjadi suatu keindahan tersendiri untuk saling mengenal budaya. Perempuan dari Sabang sampai Merauke yang tumbuh dengan masing-masing budaya dan karakternya. Tapi masih sama-sama memiliki persoalan kesetaraan gender.

Namun, bukan perempuan Indonesia namanya, yang tidak melanjutkan perjuangan-perjuangan sejarah. Perjuangan yang dibangun bahkan dari sebelum bendera merah putih bebas berkibar di tanah air. Perjuangan yang terus menerus dilanjutkan bukan hanya untuk melawan rezim, tetapi juga dengan menorehkan prestasi.

"Kau ialah betina, kalau kau cuma tahu soal makan, tidur, bersolek dan kawin. Banyaklah belajar, berpikirlah besar, rancanglah masa depan dan pandai-pandailah menempatkan diri, maka kau boleh disebut wanita. Tapi, untuk menjadi perempuan, kau juga harus memiliki kesadaran, ketulusan dan bisa menjadi tempat untuk berpulang, serta kuat tuk dijadikan pijakan." 
(Lenang Manggala, Perempuan Dalam Hujan: Sealbum Puisigrafi)

Mari kita buktikan bahwa kitalah perempuan Indonesia yang berperan dengan menjadi perempuan yang mandiri, menjadi perempuan yang aktif memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Agar tidak ada lagi sisa-sisa stereotipe bahwa ruang lingkup wanita hanya dapur, sumur, dan kasur. Sebab ruang lingkup perempuan tidaklah sesempit itu.

Maka tetaplah berjuang, sama-sama kita berjuang. Perjuangan dengan semangat yang terus benderang demi masa depan cemerlang. Perjuangan yang dimulai dari diri sendiri, dari detik ini. Hingga perjuangan yang tersisa hanyalah perjuangan untuk mencapai. Yaitu mencapai berbagai prestasi.

 "Kami terus berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri, menolong diri sendiri. Dan siapa yang sanggup menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula
(Surat R.A Kartini kepana Ny. Abendanon 12 Desember 1902)

Kita masih (perlu) terus (semangat) berjuang.
Hidup Perempuan Indonesia! 
Karena Perempuan Punya Peran~

Mereka berjuang, saya berjuang, kamu juga kan? (iya, kamu)

6 comments:

  1. Terima kasih atas motivasinya kak

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga telah mampir di postingan Menjadi Perempuan Indonesia ini 🙂

      Delete
  2. Makasih sharingnyaa mbaaaak, semangaaat berkarya dan berbagi inspirasi melalui tulisan ya mbaaak :D jadi wanita istimewa yg tangguh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. You too Mbaak. Semoga kita bisa menjadi wanita Indonesia yang bermanfaat (tanpa dieksploitasi) 😃

      Delete
  3. Waah terima kasih atas sharingnya ini ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga telah mampir di postingan Menjadi Perempuan Indonesia ini 🙂

      Delete