Teknologi: Sebuah Anugerah atau Kutukan?


Yak, kita memasuki masa-masa akhir dua ribu lima belas. Bentar lagi -jika belum terjadi kiamat-, masuklah kita ke dua ribu enam belas. Kita, bumi, dan semesta bertambah tua, bahkan dalam setiap helaan nafas kita. Which mean, tak perlu pergantian tahun untuk merasa tambah tua. Selain bertambah tua, atau dengan kata lain "tumbuh", semesta pun berkembang, ya kan? Banyak perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Mulai dari gaya; style; atau fashion, gaya hidup atau lifestyle, tempat hiburan, tempat liburan, dan tak terkecuali dengan teknologi. Teknologi berkembang pesat menjadi semakin semakin dan semakin canggih.

Dua ribu lima belas dan mau masuk dua ribu enam belas. Siapa sih di antara kita yang gak kenal dengan teknologi? Gak mungkin gak ada. Toh buktinya kamu baca ini make apa coba? Gimana? Merasa sangat sangat terbantu, merasa sangat sangat tertolong dengan teknologi kan? Teknologi memang membuat pekerjaan kita menjadi lebih enteng, membuat pekerjaan kita menjadi lebih mudah dan ringan. Namun segala hal diciptakan secara berpasangan. Segala sesuatu itu pastilah memiliki sisi positif dan sisi negatif. Teknologi pun begitu. Sekarang pertanyaannya adalah: Perkembangan teknologi itu sebuah anugerah atau kutukan? Nah, loh?

Sumber: bisatau
Kalau sudah terlampau lekat dengan yang namanya sesuatu, apa-apa jadi kepikiran sesuatu tersebut dan menyangkut-nyangkutkan hal-hal yang terjadi dengan sesuatu yang sudah melekat dengan kita tersebut. Begitu pula dengan teknologi.

Apa saja perubahan yang disebabkan oleh teknologi? Well, mungkin redaksinya dirubah. Apa saja perubahan sikap kita yang disebabkan karena kita terlalu melekat dengan teknologi dan tidak menyeimbangkan kegiatan antara bersama teknologi dengan bersama dunia luar? Panjang amat ya pertanyaannya. Haha, gak penting seberapa panjangnya. Yang penting adalah pertanyaannya.

Hayo? Apa jawabannya? Masing-masing dari kita mempunyai jawaban yang unik, namun kita juga punya jawaban yang sama, jawaban yang general. Seperti...

Dulunya kalau nyatat materi pelajaran itu di buku, sekarang tinggal difoto saja. Teknologi anugrah atau kutukan? Ada sisi anugrahnya, tentu saja supaya cepat, dan hemat kertas. Namun kutukan terjadi, yaitu menjadikan manusia makhluk yang pemalas, yang menginginkan semuanya serba instan. Tangan menjadi kaku untuk menulis. Lagipula melihat catatan lewat gadget tidak terlalu efektif.

Dulunya sering baca buku, kalau mau mencari bahan atau jawaban dari sebuah pertanyaan itu -kalau tidak bertanya kepada orang- ya mencarinya di buku. Kita jadi bolak-balik buku, baca, scanning tulisan yang ada di buku dengan mata kita. Sekarang? Tidak perlu waktu yang lama, tinggal menatap layar pixelmu, ketikkan sesuatu, tanyakan pada Google, Google tahu banyak. Google punya jawabannya, setidaknya "mungkin yang anda maksud adalah". Walhasil, perpustakaan tidak lagi penuh dengan orang bersama buku, akan tetapi dengan orang bersama layar monitor. Salahkah? Tidak, hanya saja ini mengutuk seseorang menjadi malas. Buku dengan jawaban instan yang diberikan Google itu berbeda karena buku umumnya lebih akurat, dan dunia maya tak murni dari kehoax-an. Tergantung kita memang, jika kita jeli, maka selamatlah kita. Ebook? Yakin tahan membaca buku di di balik layar monitor yang penuh radiasi itu? Percayalah, membaca buku manual lebih nikmat. Jangan sampai mendapatkan kutukan sebagai manusia bermata tebal dan berlensa cembung.

Dulu mah kalau mau belanja mesti pergi ke toko atau tempat jualan. Sekarang? Gak perlu pergi jauh-jauh, gak perlu capek-capek, panas-panasan, desak-desakan, kita tinggal duduk cantik di rumah, pesan sesuatu dari rumah. Katalognya ada banyak tuh di internet. Online shop, dan berbagai bisnis lainnya bertebaran di internet. Tentu saja kita tidak hanya mesti menjadi konsumen, tetapi juga bisa mencari produsen, atau agen alias yang ikut berbisnis.

Dulu, kalau kangen dengan seseorang nun jauh di sana, paling banter bisa dengar suaranya doang. Sekarang? Sudah bisa lihat wajahnya juga dong. Video call saja kalau begitu, kita bisa terhubung dan bertatapan dengan mereka yang kita rindukan.

Itulah sebagian kecil dari banyaknya pengaruh yang disebabkan oleh teknologi dalam satu dekade alias sepuluh tahun terakhir ini. Apakah teman-teman mempunyai tambahan?

Last but not the least, jadi teknologi itu apa? Sebuah anugrah atau kutukan? Menurut saya sih pada dasarnya teknologi itu sebuah anugerah, karena teknologi adalah aplikasi dari ilmu, dan ilmu itu tujuannya baik. Yaa, tergantung bagaimana cara kita memakainya saja. Salah-salah pakai mengakibatkan teknologi menjadi sebuah kutukan. Bagaimana menurutmu?

Tulisan ini diposkan untuk kampanye Raditya Dika's #BloggerDreamTeam. Cek info selengkapnya di blogmint.com.



No comments:

Post a Comment