Peduli dengan Kaum Difabel?

Selamat datang Sahabat Taruih Baraja! ^^

Pada postingan kali ini kita akan berbicara mengenai kaum Difabel. Ada yang belum tahu apa itu difabel? Difabel adalah singkatan dari Different Ability. Secara bahasa, dapat diartikan dengan orang yang memiliki kemampuan yang berbeda. Loh, bukannya setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda? Iya, tapi bukan ini maksudnya.

Maksudnya, difabel itu adalah orang yang keadaan fisik atau sistem biologisnya berbeda dengan orang lain pada umumnya. Mereka memiliki disability atau keterbatasan. Dengan kata lain, kaum difabel adalah mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Sumber
Siapa saja yang termasuk ke dalamnya? Berikut adalah pengelompokan anak berkebutuhan khusus menurut jenis pelayanannya berdasarkan Program Direktorat Pembinaan SLB (Sekolah Luar Biasa) tahun 2006 Dirjen Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan:
  1. Tuna Netra
  2. Tuna Rungu
  3. Tuna Grahita (Sindrom Down)
  4. Tuna Grahita Ringan (IQ = 50-70)
  5. Tuna Grahita Sedang (IQ = 25-50)
  6. Tuna Grahita Berat (IQ = 125) dengan potensi bakat istimewa (Multiple Intelligences: Language, Logico mathematic, Visuo-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual)
  7. Kesulitan belajar (Hyperaktif, ADD/ADHD, Disleksia/Baca, Disgaraphia/Tulis, Discalculia/Hitung, Disphasia/Baca, Dyspraxia/Motorik)
  8. Lambat Belajar (IQ 70-90)
  9. Autis
  10. Korban Penyalahgunaan Narkoba
  11. Indigo.
Mengenai penyebab difabel, ada beragam sebabnya. Ada yang sudah dibawa sejak lahir, ada pula yang didapat setelah hidup dengan kondisi normal. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, seperti karena kecelakaan lalu lintas, bencana alam, penyakit, dan bahkan karena kekerasan.

Seberapa inklusi sarana pendidikan di Indonesia bagi kaum difabel? 
Pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama dengan anak-anak lain yang non-disabel agar bisa lebih mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Seperti yang telah tertuang pada pasal 31(1) UUD 1945, yang menyatakan bahwa "Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan," maka tak terkecuali dengan saudara-saudara kita yang difabel. Namun, sayangnya sistem pendidikan di Indonesia masih belum begitu merata, karena masih terdapat pengelompokan-pengelompokan baik secara sengaja maupun tidak. Salah siapa? Salah orang tua yang memasukkan anaknya ke lembaga itu kah? Atau memang dari sikap lembaga pendidikan itu yang membuat para orang tua beralih memasukkan anak-anaknya ke tempat yang dirasa lebih aman? Tempat yang dirasa lebih aman? Berarti ada tempat yang dirasa tidak begitu aman?

Secara tidak disadari, dengan pengelompokan alias perbedaan sekolah itu, membangun tembok di antara anak-anak difabel dan non-difabel. Hal ini dapat menyebabkan anak-anak difabel dengan non-difabel menjadi tidak saling mengenal. Memangnya perlu bagi mereka untuk saling mengenal? Tentu saja perlu bagi mereka untuk membangun interaksi, dan mengakrabkan kaum difabel dengan masyarakat luas supaya tidak tereliminir dari dinamika sosial, dan agar mereka tidak tersudutkan. Bukankah kita semua perlu berinteraksi sosial agar tidak tenggelam dan disudutkan dari sistem sosial? Dengan berinteraksi, dan akrab dengan masyarakat, kelompok difabel tidak perlu merasa asing dan merasa bahwa kehidupannya bukanlah merupakan integral dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di sekolah yang pernah saya duduki, ada juga kok, segelintir orang yang menyandang gelar difabel. Mereka bermain dengan teman-teman yang non-difabel, dan itu bukanlah batasan. Hanya bagaimana cara guru mengarahkan saja. Sewaktu pelajaran, mereka memang butuh bantuan lebih, seperti alat penyokong. Contohnya adalah buku Braille untuk mereka yang berkebutuhan khusus pada indera penglihatannya.

Tak jarang juga dari mereka yang berprestasi. Ada senior saya yang difabel sangat lihai bermain keyboard. Beliau juga mempunyai suara emas dan sering diminta untuk naik ke atas panggung walaupun memiliki indera penglihatan yang tidak sempurna yang membuatnya harus menggunakan tongkat kemana-mana. Ya itu tadi, hanya bagaimana orang-orang di sekitar memperlakukannya, dan dari dirinya sendiri juga tidak minder karena walaupun dia terbatas, bukan berarti dia tidak bisa berbuat lebih dari pada orang lain. Karena kelebihan yang dimiliki oleh setiap orang itu banyak, dan banyak yang terpendam.

Begitulah. Sistem pendidikan di Indonesia sudah ada yang inklusi, namun masih ada juga yang belum. Masalahnya terkadang datang dari sekolah yang membatasi penerimaan siswa difabel karena memperhitungkan popularitas sekolahnya. Kadang juga dari orang tua yang lebih ingin memasukkan anaknya ke Sekolah Luar Biasa dengan beberapa pertimbangan, seperti minimnya fasilitas yang disediakan oleh sekolah inklusi atau minimnya guru yang melayani mereka, misalnya. Menurutmu bagaimana, Sahabat Taruih Baraja? Apakah sistem pendidikan inklusi ini dapat berjalan? Sepertinya pemerintah butuh keseriusan lebih.

Selain dari sektor pendidikan, hal-hal lain juga dapat menjadi bahan pertanyaan, seperti bagaimanakah kebijakan pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas umum seperti kantor, ruang publik, halte, rumah sakit, dll bagi kaum difabel? Seberapa besar peran pemerintah, pengusaha, atau masyarakat bagi kaum difabel? Tentu saja berbeda-beda pada setiap daerah. Bagaimana menurutmu di daerahmu?

Kepada pemerintah, tentunya kaum difabel membutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang untuk mendukung produktivitas mereka. Agar mereka tak hanya duduk diam di bawah atap, agar mereka dapat menikmati hari-hari di dunia luar, agar mereka mendapatkan keadilan, agar sila-sila Pancasila dapat terwujudkan.

Kita sebagai bagian dari tatanan masyarakat, juga tidak boleh lari serta menutup mata dan telinga dari mereka. Kita, kita semua, -masyarakat, pengusaha, dan pemerintah- hendaklah memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan mereka. Kita, kita semua mestilah membuka tangan untuk menerima mereka. Mereka juga manusia, mereka mempunyai hak. Mereka bukanlah orang yang tidak berdaya. Bukankah setiap orang memiliki kekurangan dan tentunya kelebihan masing-masing? Berilah mereka kesempatan untuk berkarya.

Kepada dirimu, saudaraku yang difabel. Jangan hiraukan segala cemooh dari masyarakat atau dari dalam dirimu sendiri. Kamu bukanlah orang yang tidak berdaya, kamu bisa berkarya, bahkan lebih dari yang non-difabel. Kamu juga adalah bagian dari masyarakat luas, jangan menarik diri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Jangan menyerah, toh pada dasarnya tiada manusia yang sempurna. Setuju?

No comments:

Post a Comment